KEDIRI – Jalanan Kota Kediri seolah berubah menjadi panggung raksasa. Musik mengalun, barongsai bergerak lincah, puluhan barongan mengiringi langkah, sementara ratusan siswa tampil dalam balutan busana penuh warna.
Suasana itu hadir dalam Jalan Kreasi “Gema Nusantara” yang digelar SMK PGRI 1 Kediri, Kamis (20/8). Kegiatan tersebut menjadi puncak rangkaian Pekan Kemerdekaan sekolah dalam menyemarakkan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Parade diawali mobil listrik karya siswa SMK PGRI 1 Kediri. Kendaraan tersebut menjadi ikon pembuka sebelum rombongan Molisa, barisan Pashima, kesenian barongsai, hingga rombongan barongan bergerak menyusuri jalanan kota.
Sekitar lima kilometer ruas jalan menjadi ruang ekspresi bagi para siswa. Dari halaman SMK PGRI 1 Kediri sebagai titik keberangkatan sekaligus finis, rombongan melintasi Jalan Veteran, Jalan Dr. Sahardjo, Jalan H. Winarto, Jalan Siti Inggil, hingga Jalan Penanggungan.
Namun, parade itu bukan sekadar arak-arakan. Di balik setiap busana dan atribut yang dikenakan, terselip cerita yang ingin disampaikan.
Sebanyak 56 kelas tampil dengan subtema masing-masing. Mereka memadukan busana, properti, atribut, dan konsep yang telah dipersiapkan untuk menerjemahkan semangat kemerdekaan melalui kreativitas.
Kepala SMK PGRI 1 Kediri, Yuliawati, mengatakan Jalan Kreasi “Gema Nusantara” merupakan puncak dari rangkaian Pekan Kemerdekaan yang sebelumnya diisi berbagai perlombaan antarsiswa.
Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.
“Ini menjadi sarana bagi anak-anak untuk mencintai tanah air dan merayakan kemerdekaan RI,” kata Yuliawati.
Pemilihan tema “Gema Nusantara” bukan tanpa alasan. Keberagaman budaya Indonesia diterjemahkan siswa melalui berbagai penampilan yang mereka bawa sepanjang perjalanan.
Bagi sekolah, pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan perayaan. Para siswa juga diajak memahami arti kemerdekaan, menghargai perjuangan para pahlawan, serta mengisinya dengan belajar, berprestasi, dan berkarya.
Yuliawati menilai generasi pelajar saat ini memiliki karakter yang terus berkembang. Karena itu, sekolah perlu memberi ruang bagi mereka untuk berekspresi selama tetap berpijak pada nilai dan norma.
“Kita harus memberikan ruang kepada anak-anak untuk berkreasi dengan modelnya, tetapi tetap menimbang nilai-nilai dan norma yang ada,” ujarnya.
Semangat itu salah satunya terlihat dari penampilan Kelas X TKR 1. Sekitar 40 siswa membawa tema suasana masa penjajahan ke tengah parade.
Mereka membagi peran sebagai rakyat Indonesia yang terjajah, pejuang, pahlawan, hingga penjajah. Setiap karakter diperkuat dengan busana dan atribut yang disesuaikan dengan peran.
Siswa yang memerankan rakyat terjajah mengenakan pakaian putih dengan noda merah. Simbol tersebut menggambarkan penderitaan sekaligus pengorbanan rakyat Indonesia pada masa penjajahan.
Sementara itu, para siswa yang berperan sebagai pejuang mengenakan atribut perjuangan. Sebagian lainnya tampil sebagai penjajah, melengkapi gambaran suasana yang ingin mereka hadirkan.
Di antara para pejuang itu terdapat Muhammad Rafa Yanuar, Ketua Kelas X TKR 1. Mengenakan busana dan atribut perjuangan, Rafa turut berjalan bersama teman-temannya.
Bagi Rafa, keterlibatannya dalam Jalan Kreasi bukan hanya soal tampil dengan kostum. Ia melihat kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk mengenang sekaligus memahami kembali perjuangan yang telah mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.
“Saya senang ikut jalan sehat hari ini, karena lewat kegiatan ini saya juga bisa memaknai perjuangan para pahlawan meraih kemerdekaan,” kata Rafa.
Deru musik, gerak barongsai, langkah para peserta barongan, serta warna-warni busana 56 kelas akhirnya menyatu dalam satu parade.
Gema Nusantara pun menjadi lebih dari sekadar perayaan HUT ke-81 RI. Jalanan menjadi ruang belajar terbuka bagi para siswa: mengenal keberagaman budaya, merawat semangat kebangsaan, sekaligus menemukan cara mereka sendiri untuk memaknai kemerdekaan.
Jurnalis: Anisa Fadila



