Tunggal Ludira Bawa Kuda Kepang Kediri ke Perayaan HUT ke-81 RI di Belanda

✓ Link berhasil disalin
Penulis: Sita Aulliya

Hujan yang mengguyur sejak malam hingga pagi hari tidak menyurutkan antusiasme diaspora Indonesia di Belanda untuk mengikuti rangkaian acara detik-detik Proklamasi dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Acara yang dibuka untuk umum melalui pendaftaran digital yang disediakan KBRI di Belanda tersebut memudahkan diaspora untuk mengetahui rangkaian kegiatan, sekaligus berbagai aturan dan ketentuan yang berlaku selama acara.

Beruntung, meski langit masih mendung, hujan telah berhenti ketika para peserta mulai berdatangan. Lingkungan Sekolah Indonesia Nederland (SIN) di Wassenaar seolah berubah menjadi “Indonesia kecil”. Para diaspora hadir dengan mengenakan pakaian adat dan pakaian nasional dari berbagai daerah.

Tenda penyambutan dan meja registrasi menjadi pintu gerbang menuju lokasi upacara. Warna-warni busana tradisional berpadu dengan keberagaman peserta. Sapaan dalam bahasa Indonesia terdengar di berbagai sudut, menciptakan suasana yang akrab dan penuh rasa kebersamaan.

Kesibukan para petugas dan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) juga terlihat di sekitar lokasi. Persiapan teknis maupun kesiapan masing-masing petugas dilakukan dengan penuh tanggung jawab agar seluruh rangkaian upacara berjalan dengan lancar.

Tepat pukul 10.00 waktu setempat, sesuai jadwal yang tercantum dalam undangan, upacara detik-detik Proklamasi dimulai dengan khidmat. Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Laurentius Amrih Jinangkung, bertindak sebagai instruktur upacara dan memimpin jalannya rangkaian peringatan.

Pengibaran bendera Merah Putih menjadi salah satu momen yang mengharukan. Ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan, sejumlah diaspora tampak meneteskan air mata. Jarak ribuan kilometer dari tanah air seolah tidak mengurangi rasa cinta dan kerinduan mereka terhadap Indonesia.

Kisah Panji Galuh

Usai upacara, suasana berubah menjadi lebih meriah. Seperti telah menjadi tradisi, peringatan HUT Kemerdekaan dilanjutkan dengan berbagai hiburan dan perlombaan. Tenda-tenda yang menyajikan makanan khas Indonesia pun menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Para diaspora yang mengikuti upacara maupun pengunjung yang datang setelahnya tampak antusias berburu kuliner Nusantara. Berbagai makanan khas Indonesia seakan membawa suasana kampung halaman ke tengah perayaan kemerdekaan di Belanda.

Kemeriahan semakin terasa ketika panggung hiburan mulai dibuka. Berbagai kelompok seni maupun penampil perseorangan mendapat kesempatan untuk menunjukkan kebolehan mereka. Satu per satu penampilan disuguhkan dan mendapat sambutan hangat dari para pengunjung.

Di antara sejumlah pengisi acara, grup seni Tunggal Ludira menjadi salah satu penampil yang berhasil menarik perhatian. Membawa tema kisah Panji Galuh yang berakar dari sejarah Kerajaan Kadiri, Tunggal Ludira menghadirkan perpaduan seni barong dan tari kuda kepang.

Tampil sebagai penampil kedua dari akhir rangkaian pertunjukan, Tunggal Ludira berhasil menyuguhkan tampilan yang kompak dan apik. Kehadiran barong dan jaranan, yang untuk pertama kalinya ditampilkan oleh grup ini, menjadi daya tarik tersendiri dan mendapat perhatian dari para pengunjung.

Kekompakan para penari, gerakan yang dinamis, serta kemunculan barong membuat suasana semakin hidup. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bentuk nyata bagaimana seni dan budaya daerah dapat terus hidup dan diperkenalkan di luar negeri.

Kisah Panji Galuh dan kesenian kuda kepang dari tanah Kediri mendapat ruang untuk hadir di tengah perayaan kemerdekaan Indonesia di Belanda. Bagi Tunggal Ludira, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk membawa kesenian daerah sekaligus memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Nusantara kepada diaspora Indonesia.

Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Wassenaar akhirnya bukan sekadar seremoni. Di balik pengibaran Merah Putih, pakaian adat, kuliner Nusantara, perlombaan, dan pertunjukan seni, tersimpan semangat untuk terus menjaga identitas dan kecintaan terhadap tanah air.

Semoga semangat cinta tanah air dan bangsa yang ditunjukkan para diaspora Indonesia di Belanda melalui seni dan budaya tetap menyala. Sebab di mana pun berada, budaya Indonesia dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga jati diri dan memperkenalkan kekayaan Nusantara kepada dunia.

Lisse, Nederland 
18 Agustus 2026