Harga Pangan Naik, Polri Hadir Bawa Harapan: Gerakan Pangan Murah di Kediri Diserbu Warga

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di tengah riak kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus dirasakan masyarakat, sebuah gerakan kecil menghadirkan angin segar bagi warga Kediri. Bukan sekadar transaksi jual beli, Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Polsek Ngasem, Polres Kediri, menjadi simbol kepedulian untuk menjaga dapur masyarakat tetap mengepul.

Suasana berbeda terlihat pada Senin siang (13/07). Warga datang dengan penuh antusias, menyambut hadirnya program pangan murah yang menawarkan sejumlah kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau dibandingkan pasaran.

Kegiatan tersebut mendapat perhatian langsung dari Kakorbinmas Baharkam Polri Irjen Pol Mardiyono yang turun meninjau pelaksanaan GPM. Kehadiran jenderal polisi bintang dua itu menjadi bentuk pengawasan agar program stabilisasi harga pangan berjalan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Irjen Pol Mardiyono datang bersama Dirbinmas Polda Jawa Timur Kombes Pol Eko Santoso serta Kapolres Kediri AKBP Bramastyo Priaji.

Menurut Irjen Pol Mardiyono, Gerakan Pangan Murah bukan hanya tentang menjual bahan pokok dengan harga rendah, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk memastikan masyarakat mendapatkan akses pangan yang mudah, aman, dan terjangkau.

“Tujuan Gerakan Pangan Murah ini menindaklanjuti arahan Presiden untuk melakukan gerakan pangan murah di wilayah, dengan harapan tidak terjadi kelangkaan terkait distribusi pangan,” ujar Irjen Pol Mardiyono.

Di lokasi GPM Polsek Ngasem, masyarakat bisa mendapatkan sejumlah bahan kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih ramah di kantong.

Beras SPHP yang biasanya berada di kisaran harga Rp14.000 per kilogram, dijual hanya Rp11.000 per kilogram. Sementara telur ayam tersedia dengan harga Rp20.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pasar yang mencapai Rp24.000 hingga Rp28.000 per kilogram.

Tak hanya itu, Minyakita juga tersedia dengan harga Rp17.000 per liter.

Untuk memastikan semua warga mendapat kesempatan yang sama, panitia menerapkan pembatasan pembelian. Setiap masyarakat hanya diperbolehkan membeli maksimal dua kemasan untuk masing-masing jenis barang.

Kebijakan tersebut dilakukan agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas dan tidak hanya dinikmati oleh sebagian warga.

Warga: Ketika Harga Naik, Program Ini Jadi Penolong

Antusiasme masyarakat sudah terlihat sejak pagi. Warga rela datang untuk mendapatkan bahan pokok dengan harga lebih hemat.

Salah satunya Sugiyatun. Ia mengaku program tersebut sangat membantu, terutama ketika harga kebutuhan rumah tangga terus mengalami kenaikan sementara pendapatan masyarakat belum mengalami perubahan.

Menurutnya, selisih harga yang diberikan melalui Gerakan Pangan Murah cukup terasa bagi keluarga.

“Sangat membantu karena semua harga naik, tapi gaji tidak naik. Kenaikan harga kebutuhan pokok menambah pengeluaran, jadi program ini sangat membantu,” ungkap Sugiyatun.

Baginya, harga beras yang turun dari sekitar Rp14.000 menjadi Rp11.000 per kilogram memberikan ruang lebih bagi masyarakat untuk mengatur kebutuhan rumah tangga.

Melalui program Gerakan Pangan Murah, Polri menunjukkan perannya tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga ikut hadir dalam persoalan sosial yang menyentuh kebutuhan dasar warga.

Program ini diharapkan mampu menjadi jembatan antara pemerintah, aparat, dan masyarakat dalam menghadapi dinamika harga pangan.

Ketika harga kebutuhan pokok bergerak naik dan menjadi beban tambahan bagi masyarakat, kehadiran program seperti ini menjadi pengingat bahwa stabilitas pangan membutuhkan kerja bersama.

Polri berharap kegiatan tersebut dapat membantu mengurangi tekanan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga distribusi bahan pokok tetap berjalan lancar.

Kopi Keliling Polsek Ngasem, Cara Polisi Mendekat dengan Masyarakat

Selain memantau Gerakan Pangan Murah, Irjen Pol Mardiyono juga meninjau inovasi lain dari Polsek Ngasem, yakni Program Kopi Keliling.

Kapolres Kediri AKBP Bramastyo Priaji menjelaskan, program tersebut digagas karena posisi Polsek Ngasem yang berada di kawasan ibu kota Kabupaten Kediri dan berdekatan dengan berbagai instansi penting, seperti Pemerintah Kabupaten Kediri, Kejaksaan, hingga Pengadilan.

Melalui Kopi Keliling, polisi berupaya membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat dan menciptakan ruang interaksi yang humanis.

Program tersebut menjadi warna lain dari pelayanan kepolisian, bahwa kehadiran polisi tidak hanya terlihat saat menangani persoalan hukum, tetapi juga hadir dalam percakapan sederhana bersama masyarakat.

Gerakan Pangan Murah di Kediri menjadi gambaran bagaimana kebijakan pangan diterjemahkan dalam bentuk nyata di lapangan.

Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan harga kebutuhan pokok, langkah menghadirkan pangan terjangkau menjadi sebuah harapan bagi banyak keluarga.

Bagi masyarakat, selisih beberapa ribu rupiah mungkin terlihat sederhana. Namun bagi mereka yang setiap hari menghitung pengeluaran rumah tangga, angka tersebut memiliki arti besar.

Melalui program ini, Polri bersama pemerintah menunjukkan komitmen menjaga agar kebutuhan pangan tetap berada dalam jangkauan masyarakat.

Sebab pada akhirnya, stabilitas pangan bukan hanya tentang angka di pasar, tetapi tentang bagaimana setiap keluarga tetap bisa tersenyum saat membuka pintu rumah dan menyiapkan makanan untuk orang-orang tercinta.

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan

✓ Link berhasil disalin