foto : Sigit Cahya Setyawan

Kalah di Kandang, Persik Kediri “Menang” di Tribun: Flare Membara, Sanksi Mengintai!

KEDIRI — Laga kandang terakhir Persik Kediri di Stadion Brawijaya, Sabtu (16/05), berubah menjadi momen penuh emosi yang tak terlupakan. Meski harus mengakui keunggulan Persija Jakarta dengan skor 1-3, ribuan Persikmania tetap bertahan di tribun dan menyalakan flare, menciptakan lautan cahaya merah yang dramatis.

Aksi tersebut seolah menjadi perayaan tersendiri bagi suporter, setelah Macan Putih dipastikan tetap bertahan di Liga 1 Indonesia musim depan. Namun di balik euforia itu, tersimpan ancaman serius: potensi sanksi denda dari Komisi Disiplin PSSI akibat penggunaan flare yang dilarang di stadion.

Seusai laga, suasana Stadion Brawijaya dipenuhi asap tebal dari flare yang dinyalakan hampir di seluruh sudut tribun. Nyanyian dukungan menggema, menciptakan atmosfer emosional meski hasil pertandingan tidak berpihak pada tuan rumah.

Di atas lapangan, Persik sebenarnya sempat membuka asa lebih dulu lewat sundulan Jose Enrique pada menit ke-24, memanfaatkan umpan matang Ernesto Gomes. Namun keunggulan itu tak bertahan lama. Hanya dua menit berselang, Persija menyamakan kedudukan melalui Rayhan Hanan.

Memasuki babak kedua, momentum berbalik tajam. Masuknya Gustavo Almeida menjadi pembeda signifikan. Striker Persija itu mencetak dua gol cepat pada menit ke-64 dan 66, memastikan kemenangan 3-1 bagi tim tamu sekaligus memupus harapan Persik untuk menutup musim dengan manis di kandang.

Ketua Panitia Pelaksana Persik Kediri, Tri Widodo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya pencegahan, termasuk melarang kehadiran suporter tamu dan menyita flare di pintu masuk stadion.

“Kami sudah bersurat kepada pihak Persija dan Jakmania terkait larangan away. Namun kenyataannya tetap ada yang hadir dengan atribut. Soal sanksi, itu sepenuhnya menjadi kewenangan Komdis PSSI,” ujarnya.

Widodo juga menegaskan bahwa penggunaan flare termasuk pelanggaran berat. Berdasarkan regulasi, satu flare saja dapat dikenakan denda Rp50 juta, dengan batas maksimal mencapai Rp200 juta.

“Meski jumlah flare sangat banyak, denda tetap dibatasi maksimal Rp200 juta. Ini sudah menjadi kejadian berulang dalam tiga musim terakhir di laga kandang penutup,” jelasnya.

Persik sendiri pernah menerima hukuman serupa pada musim sebelumnya dengan nilai denda maksimal, akibat aksi flare yang sama.

Di sisi lain, pelatih Persija, Mauricio Souza, mengapresiasi performa timnya yang mampu bangkit dari ketertinggalan dan mengamankan kemenangan.

“Tim bermain dengan baik. Kami mampu merespons situasi dan mencetak tiga gol untuk meraih kemenangan,” katanya.

Sementara itu, pelatih Persik, Marcos Reina, mengakui kualitas Persija menjadi faktor penentu hasil akhir pertandingan.

“Kami punya peluang, tapi Persija juga sangat berbahaya. Mereka memiliki banyak pemain berkualitas dan itu terlihat jelas di lapangan,” ujarnya.

Meski harus menelan kekalahan, Marcos tetap memuji loyalitas suporter yang memenuhi stadion hingga akhir laga.

“Dukungan suporter sangat berarti bagi tim. Energi mereka terasa di lapangan. Walaupun hasilnya tidak sesuai harapan, kami tetap menghargai kehadiran mereka,” tutupnya.