KEDIRI – Di balik gerbang sekolah yang berdiri megah di Kota Kediri, tersimpan sebuah perjalanan panjang membentuk generasi masa depan. Bukan hanya ruang kelas tempat menimba ilmu, tetapi juga asrama tempat karakter ditempa, kedisiplinan dibangun, dan mimpi besar dirancang.
Itulah wajah baru SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur, sekolah yang mengusung sistem pendidikan berasrama dengan konsep pembinaan karakter selama 24 jam penuh. Selama tiga tahun masa pendidikan, seluruh siswa wajib tinggal di asrama dan menjalani pola pendidikan yang berbeda dari sekolah menengah atas pada umumnya.
Waka Kesiswaan SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur, Nuribi Haryanto, M.Pd., menjelaskan bahwa sekolah tersebut memiliki sejarah panjang. Sebelum menjadi sekolah taruna, sekolah ini dikenal sebagai SMAN 5 Kediri yang berdiri sejak 9 Oktober 1982.
Transformasi besar dimulai pada 2 Mei 2019 setelah adanya kesepakatan bersama antara Gubernur Jawa Timur dan Pangdam V/Brawijaya. Sejak saat itu, konsep pendidikan mengalami perubahan dengan menambahkan unsur pengasuhan, bela negara, serta sistem boarding school.
“Sejak menjadi sekolah taruna, perubahan yang terjadi cukup signifikan. Selain akademik, siswa mendapatkan pembinaan karakter, kedisiplinan, dan wawasan kebangsaan,” ujar Nuribi.
Setiap tahun, SMAN 5 Taruna Brawijaya menerima sekitar 270 taruna dan taruni baru. Saat ini jumlah peserta didik mencapai kurang lebih 750 siswa yang menjalani pendidikan dengan sistem khas sekolah taruna.
Dengan visi mewujudkan kader pemimpin bangsa yang berkarakter, sekolah ini tidak hanya berorientasi pada satu jalur pendidikan tertentu. Para siswa dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai bidang, mulai dari sekolah kedinasan, akademi TNI-Polri, perguruan tinggi negeri, hingga universitas internasional.
Menurut Nuribi, banyak lulusan yang memilih jalur kedinasan karena sesuai dengan karakter pendidikan yang diterapkan. Namun sekolah tetap membuka ruang luas bagi siswa untuk mengejar cita-cita sesuai minat dan kemampuan masing-masing.
“Kami ingin menghasilkan lulusan unggul yang memiliki karakter kuat dan mampu bersaing di berbagai bidang,” katanya.
Berada di lahan sekitar enam hektare, SMAN 5 Taruna Brawijaya memiliki berbagai fasilitas pendukung pembelajaran dan pembinaan karakter.
Selain ruang kelas dan laboratorium, sekolah dilengkapi dengan masjid berkapasitas besar, auditorium, lapangan olahraga, fasilitas shuttle run, hingga area latihan fisik seperti pull up dan sit up yang berada di lingkungan asrama.
Luasnya kawasan sekolah menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung konsep pendidikan taruna, karena seluruh aktivitas akademik, pembinaan fisik, dan pengembangan karakter berlangsung dalam satu lingkungan terpadu.
Prestasi Akademik hingga Nasional Terus Tumbuh
Tidak hanya unggul dalam kedisiplinan, para taruna dan taruni SMAN 5 Taruna Brawijaya juga menunjukkan kemampuan dalam bidang akademik.
Tahun ini, sebanyak lima siswa berhasil lolos Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Kota Kediri dan melanjutkan perjuangan ke tingkat Provinsi Jawa Timur. Selain itu, sejumlah siswa juga berhasil menorehkan prestasi nasional melalui karya ilmiah.
Di bidang nonakademik, prestasi juga datang dari berbagai ekstrakurikuler. Tim drum band sekolah menjadi salah satu kebanggaan yang kerap tampil dalam berbagai kegiatan di sejumlah daerah. Sementara cabang olahraga seperti pencak silat, karate, dan taekwondo turut menjadi wadah bagi siswa mengembangkan bakat.
Untuk mendukung masa depan siswa, sekolah memberikan pembinaan khusus sesuai jalur pendidikan yang ingin ditempuh.
Program tersebut mencakup latihan jasmani secara berkala, pembinaan Tes Kemampuan Dasar (TKD), hingga pendampingan psikologi bagi siswa yang mengikuti seleksi sekolah kedinasan maupun akademi militer.
Hasilnya mulai terlihat. Tahun ini, dua siswa berhasil diterima di perguruan tinggi luar negeri, salah satunya universitas di China. Selain itu, dua siswa diterima di Universitas Indonesia dan sekitar 40 siswa melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi negeri.
Tidak berhenti di sana, sembilan siswa berhasil diterima di Universitas Pertahanan, sementara 14 siswa mengikuti seleksi tingkat pusat Akademi TNI di Akademi Militer Magelang.
Tiga Bulan Pertama Menjadi Masa Pembentukan Karakter
Salah satu ciri khas pendidikan taruna adalah program Masa Basis, yaitu masa pengenalan dan pembentukan karakter bagi siswa kelas X selama tiga bulan pertama.
Pada masa ini, siswa menjalani pembinaan intensif dengan aturan khusus. Mereka tidak diperbolehkan keluar dari lingkungan sekolah, menerima kunjungan orang tua maupun wali, menerima kiriman makanan atau barang, serta membawa perangkat elektronik.
Program tersebut dirancang untuk membangun kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Kami sudah menyampaikan kepada orang tua bahwa tiga bulan pertama merupakan fase penting untuk membangun karakter siswa sebagai seorang taruna,” jelas Nuribi.
Sistem asrama membuat proses pendidikan tidak berhenti ketika jam pelajaran selesai. Pembinaan berlangsung sepanjang hari dengan pengawasan dari petugas asrama sekolah serta dukungan 15 personel TNI Angkatan Darat yang ditugaskan mendampingi para taruna.
Bagi SMAN 5 Taruna Brawijaya, pendidikan bukan hanya tentang mencetak siswa berprestasi di atas kertas, tetapi membentuk pribadi yang memiliki integritas, disiplin, daya juang, dan kepemimpinan.
Dari ruang kelas hingga kehidupan asrama, setiap proses menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk melahirkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Jurnalis: Radistiya Sadam Inzagi



