Dentuman Meriam di Laut Aru Tak Pernah Hilang dari Ingatan, Kisah Veteran Karyono di Usia 96 Tahun

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI — Dentuman meriam telah berlalu lebih dari enam dekade. Namun bagi Karyono, suara perang di Laut Aru pada 1962 seolah belum benar-benar pergi. Di usia 96 tahun, veteran Trikora itu masih mengingat bagaimana KRI Matjan Tutul tenggelam dalam pertempuran, sementara kapal yang ditumpanginya, KRI Harimau, berhasil lolos bersama KRI Macan Kumbang.

Kenangan panjang itu kembali mengemuka ketika Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengunjungi kediaman Karyono di Jalan Wilis Mulya, Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, Senin (17/8).

Kunjungan tersebut menjadi bentuk penghormatan pemerintah kepada para veteran yang pernah berada di garis perjuangan bangsa.

Kepala Dinas Sosial Kota Kediri Imam Muttakin mengatakan, perhatian terhadap veteran merupakan bagian dari kepedulian pemerintah daerah kepada mereka yang telah memberikan pengabdian dalam perjalanan sejarah Indonesia.

“Jadi ini salah satu bentuk kepedulian Mbak Wali tadi kepada para veteran,” kata Imam.

Dalam kesempatan itu, Karyono menerima tali asih dan sejumlah paket sembako. Para veteran di Kota Kediri diketahui tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Menurut Imam, pemerintah daerah juga terus melibatkan LVRI dalam berbagai kegiatan. Selain kegiatan yang berkaitan dengan lansia, para veteran turut berperan dalam memberikan wawasan kebangsaan kepada generasi muda.

Veteran yang masih dalam kondisi sehat bahkan kerap dihadirkan sebagai narasumber. Pengalaman yang mereka miliki menjadi jembatan antara generasi masa lalu dan generasi yang tumbuh jauh dari suasana perjuangan.

Saat ini, terdapat sekitar 98 veteran di Kota Kediri. Sementara dari kalangan perintis kemerdekaan, hanya tersisa satu orang yang masih hidup.

Bagi Karyono, perhatian tersebut memiliki arti tersendiri. Setelah puluhan tahun melewati masa perjuangan, penghargaan dari pemerintah menjadi pengingat bahwa pengabdian yang pernah dilakukan tidak dilupakan.

“Terima kasih. Saya merasa senang masih dihargai oleh pemerintah Kota Kediri,” ujar Karyono.

Dentuman Meriam yang Tak Pernah Hilang

Di balik sosok sepuh yang kini menjalani masa tuanya di Kediri, tersimpan cerita tentang sebuah pertempuran yang menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan Indonesia.

Karyono pernah berada di atas KRI Harimau ketika Pertempuran Laut Aru berlangsung pada 1962. Saat itu, Indonesia tengah menjalankan perjuangan Trikora untuk merebut Irian Barat dari Belanda.

Bersama KRI Harimau, terdapat KRI Macan Kumbang dan KRI Matjan Tutul. Ketiga kapal tersebut menjalankan tugas di wilayah Laut Aru.

Situasi yang semula menjadi bagian dari tugas patroli berubah menjadi pertempuran.

Karyono masih mengingat bagaimana suasana berubah ketika suara tembakan tiba-tiba terdengar.

“Jadi pada waktu itu kita sendiri kaget. Tahu-tahu ada suara tembakan,” kenangnya.

Dalam pertempuran itu, KRI Matjan Tutul terkena tembakan hingga akhirnya tenggelam. Sementara KRI Harimau dan KRI Macan Kumbang berhasil lolos dari pertempuran.

Bagi Karyono, peristiwa tersebut bukan sekadar catatan sejarah. Ia mengalaminya secara langsung dari atas kapal.

“Saya di kapal bagian menyiapkan jalan-jalannya, nanti tujuan ke sana ke sini,” tuturnya.

Pengalaman itu menjadi salah satu bagian paling membekas dari perjalanan hidupnya sebagai prajurit.

Bergabung dengan Angkatan Laut

Karyono bergabung dengan Angkatan Laut sekitar 1960. Tidak lama kemudian, perjalanan pengabdiannya bersinggungan dengan masa perjuangan Trikora.

Namun, jauh sebelum mengenakan seragam prajurit, kehidupan Karyono telah bersentuhan dengan situasi perjuangan.

Ia tumbuh ketika Indonesia masih berada dalam bayang-bayang pendudukan Belanda. Sebagai seorang anak, Karyono membantu ibunya mencari penghasilan dengan berjualan telur.

Aktivitas sederhana tersebut kemudian membuatnya bersentuhan secara tidak langsung dengan perjuangan para pejuang.

Dari kegiatan berjualan, ia mengamati keadaan di sekitar markas dan menyampaikan informasi kepada para pejuang.

Masa kecil itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang pada akhirnya membawanya menjadi seorang prajurit Angkatan Laut.

Keluarga di Kediri Sempat Mengira Ia Gugur

Di medan tugas, Karyono menghadapi situasi yang tidak diketahui keluarganya secara pasti.

Ketika ia berada di Laut Aru, keluarga di Kediri tidak mengetahui kondisi sebenarnya. Kabar yang tidak jelas membuat kecemasan tumbuh di rumah.

Bahkan, sang ibu sempat menggelar selamatan karena mengira Karyono telah terkena tembakan.

“Ibu saya itu nyelamatin saya bahwa saya itu kena tembak itu. Jadi di rumah itu bacaan. Bacaan diselamatin itu,” kenang Karyono.

Kisah tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi keluarga Karyono, pengalaman sang ayah bukan hanya cerita tentang perang, tetapi juga bagian dari sejarah keluarga yang tumbuh bersama mereka.

Puluhan tahun telah berlalu sejak peristiwa itu. Namun kenangan tentang Laut Aru masih menjadi bagian dari ingatan Karyono.

Pesan Sederhana dari Seorang Veteran

Kini, di usia senja, Karyono tidak banyak berbicara tentang dirinya sebagai seorang pejuang.

Pesannya kepada generasi muda justru sederhana: bekerja sungguh-sungguh, bertanggung jawab, dan tidak mencari banyak alasan.

“Kalau anak muda itu yang penting jangan banyak bicara, jangan banyak alasan yang macam-macam,” pesannya.

Ia berharap generasi muda dapat menjalani apa yang menjadi tanggung jawab mereka dengan serius, baik dalam pendidikan maupun pekerjaan.

Pesan tersebut lahir dari perjalanan hidup panjang seorang pria yang pernah merasakan langsung kerasnya masa perjuangan.

Bagi Karyono, perjuangan mungkin telah berganti bentuk. Tidak lagi berupa patroli di laut atau menghadapi dentuman meriam, tetapi dapat diwujudkan melalui kesungguhan menjalankan tanggung jawab masing-masing.

Kebanggaan yang Diteruskan kepada Anak-Cucu

Pengalaman hidup Karyono juga menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarganya.

Ida Sulistia Wati, putri pertama Karyono, mengatakan bahwa ayahnya merupakan sosok yang membentuk cara pandangnya sejak kecil.

Sebagai anak seorang veteran, Ida mengaku menyimpan kebanggaan tersendiri terhadap perjalanan hidup sang ayah.

“Kalau sebagai putranya sendiri, saya bangga jadi anak seorang pejuang,” kata Ida.

Menurut Ida, Karyono merupakan sosok ayah yang tegas. Sejak kecil, ia dan saudara-saudaranya telah dibiasakan dengan kedisiplinan.

Lingkungan keluarga pun tidak bisa dilepaskan dari pengalaman sang ayah sebagai seorang prajurit. Nilai kedisiplinan dan ketegasan menjadi bagian dari pendidikan yang mereka terima sejak kecil.

Bagi keluarga, cerita tentang Karyono bukan sekadar nostalgia. Di dalamnya terdapat perjalanan hidup seorang ayah yang pernah berada di tengah situasi genting, sementara keluarganya di Kediri hanya bisa menunggu kabar.

Kini, ketika usia telah membawa Karyono jauh dari masa-masa perang, dentuman meriam itu tinggal kenangan.

Namun, cerita tentangnya tetap hidup.

Ia hidup dalam ingatan Karyono, dalam kisah yang diceritakan kepada anak-anaknya, dan dalam pesan yang ia titipkan kepada generasi setelahnya: jangan banyak alasan, jalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh.

Lebih dari enam dekade setelah Pertempuran Laut Aru, kisah itu menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam buku-buku. Kadang, sejarah berjalan bersama seseorang hingga usia 96 tahun, tersimpan dalam ingatan, lalu kembali diceritakan agar generasi berikutnya tidak lupa.

 

jurnalis : Anisa Fadila