Dengan Dana Pribadi, Abah BP Lestarikan Budaya Bangun Kembali Pesanggrahan Siti Inggil Lirboyo

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di penghujung Bulan Suro, ketika malam Jumat Kliwon menyelimuti langit Kota Kediri, secercah harapan kembali menyala dari sebuah situs bersejarah. Pesanggrahan Siti Inggil di Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, resmi menempati wajah barunya setelah selesai dibangun dan direnovasi atas inisiatif pribadi Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, HM Bambang Priambodo.

Peresmian pesanggrahan berlangsung pada Kamis (16/7) dan ditandai dengan tasyakuran bersama pengurus paguyuban, tokoh masyarakat, serta warga sekitar. Suasana kebersamaan menjadi penanda bahwa pelestarian budaya tidak hanya bertumpu pada bangunan, tetapi juga pada kepedulian masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam sambutannya, Bambang Priambodo, yang akrab disapa Abah BP, menegaskan bahwa seluruh proses pembangunan dilakukan menggunakan dana pribadi tanpa melibatkan anggaran pemerintah maupun bantuan pihak lain.

“Saat menghadiri Selamatan Bulan Suro beberapa waktu lalu, saya berniat membenahi tempat ini. Alhamdulillah sekarang sudah selesai. Tidak ada anggaran dari dinas, semuanya murni dari saya pribadi. Semoga membawa manfaat dan keberkahan bagi masyarakat,” ujarnya.

Niat tersebut muncul setelah ia melihat langsung kondisi Pesanggrahan Siti Inggil yang dinilai telah mengalami kerusakan cukup parah. Bersama keluarga, ia kemudian memutuskan untuk membangun kembali bangunan tersebut secara swadaya.

Proses pembangunan berlangsung sekitar tiga pekan dengan melibatkan lima tenaga kerja yang berasal dari lingkungan sekitar. Selain memperbaiki fisik bangunan, langkah tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali fungsi pesanggrahan sebagai ruang kebersamaan sekaligus tempat masyarakat berdoa dan menjaga nilai-nilai budaya.

“Saya melihat bangunan ini sudah rusak dan memang sudah waktunya diperbaiki. Harapan kami, tempat ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan yang positif,” kata Bambang.

Ia juga berharap semangat gotong royong yang mengiringi proses pembangunan dapat terus menjadi fondasi dalam menjaga warisan budaya.

“Siapa pun kita, semoga tetap hidup rukun dan saling bergotong royong. Nilai itulah yang menjadi jati diri bangsa Indonesia dan harus terus dipelihara,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pesanggrahan Siti Inggil, Winarto, menjelaskan bahwa lokasi tersebut merupakan bagian dari situs cagar budaya yang telah tercatat di Balai Pelestarian Kebudayaan Mojokerto. Di kawasan itu terdapat struktur berupa dasar candi yang diyakini sebagai peninggalan masa lampau dan pernah digunakan sebagai tempat pemujaan.

Menurut Winarto, masyarakat selama ini secara rutin menggelar berbagai kegiatan pelestarian, mulai dari Bersih Desa, kirab budaya, peringatan Suroan, hingga kerja bakti. Selain itu, kawasan tersebut juga masih dimanfaatkan warga sebagai tempat berdoa.

Ia menyampaikan apresiasi atas kepedulian Bambang Priambodo yang dinilai telah membantu menjaga keberlangsungan situs bersejarah tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kepedulian Bapak Bambang dalam menata kembali kawasan ini. Semoga keberadaan Pesanggrahan Siti Inggil semakin memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Winarto.

Dengan wajah baru yang kini dimiliki, Pesanggrahan Siti Inggil diharapkan tidak sekadar menjadi bangunan yang berdiri kokoh, melainkan juga menjadi penanda bahwa sejarah akan tetap hidup selama masih ada tangan-tangan yang bersedia merawatnya. Di tempat itu, jejak masa lalu berpadu dengan harapan masa depan, mengingatkan bahwa warisan budaya bukan sekadar untuk dikenang, tetapi juga dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

jurnalis : Navima Aulya Sava