KEDIRI – Selempang itu suatu hari akan dilepas. Panggung akan berganti, sorotan kamera akan mereda, dan gelar Galuh pun akan sampai pada batas waktunya.
Namun, bagi Rima Shofika Putri, menjadi Galuh Kota Kediri bukan semata tentang kecantikan, penampilan anggun, atau kemampuan berbicara di depan publik. Lebih dari itu, ia ingin meninggalkan sesuatu yang tidak ikut hilang ketika masa jabatannya berakhir: pengaruh dan kebaikan yang diingat orang lain.
Finalis Duta Wisata Panji Galuh Kota Kediri 2026 tersebut membawa gagasan bernama “Pengaluh”, yang diambil dari kata pengaruh. Gagasan itu lahir dari keyakinannya bahwa kontribusi tidak selalu harus besar. Bahkan pengaruh kecil yang mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain, menurut Rima, tetap memiliki arti.
“Karena kalau kita punya kecantikan, itu bisa pudar. Galuh juga nanti lengser. Tapi yang diciptakan adalah memori, bagaimana kesan mereka saat bersama kita. Jadi kepribadian yang baik itu penting banget,” ujar Rima.
Bagi perempuan kelahiran Trenggalek, 24 Agustus 2004, itu, gelar duta bukan sekadar mahkota yang dipakai untuk berdiri di atas panggung. Ada tanggung jawab untuk menjadi penghubung antara pemerintah, masyarakat, komunitas, pelaku seni, generasi muda, hingga sektor pariwisata.
Melalui Pengaluh, Rima ingin menghadirkan peran Galuh yang lebih dekat dengan masyarakat. Ia ingin agar keberadaannya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi ikut membuka ruang kolaborasi dan melahirkan manfaat yang bisa dirasakan bersama.
Pariwisata yang Menghidupkan Masyarakat
Salah satu ruang yang dinilai Rima memiliki potensi besar adalah pariwisata.
Baginya, selain membangun destinasi baru atau mempercantik sebuah kawasan, pariwisata seharusnya mampu menjadi denyut ekonomi masyarakat di sekitarnya.
“Harusnya kita bikin suatu destinasi yang bisa berpengaruh ke masyarakat. Masyarakat bisa jualan, tukang parkir bisa mengambil ekonomi dari situ, pemuda lokal bisa membuat kegiatan, orang dari lintas daerah bisa edukasi atau mencari inspirasi pendidikan di situ,” tuturnya.
Pandangan itu membuat Rima melihat destinasi wisata bukan hanya sebagai tempat untuk dikunjungi, melainkan ruang yang dapat mempertemukan banyak kepentingan. Masyarakat bisa memperoleh peluang ekonomi, pemuda dapat menciptakan kegiatan, sementara sektor pendidikan dan komunitas bisa menjadikannya ruang belajar sekaligus bertukar gagasan.
Pemikiran tersebut tidak lahir begitu saja.
Sejak kecil, Rima telah akrab dengan dunia seni dan budaya. Tari, menyanyi, hingga seni pedalangan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Kini, ia tercatat sebagai mahasiswa semester VII Program Studi Manajemen Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Dunia seni kemudian menjadi pintu yang membawanya memasuki dunia duta.
Berawal dari Jenuh Kuliah, Berujung Wakil II Duta Budaya Jawa Timur
Menariknya, perjalanan Rima di dunia duta justru bermula dari kejenuhan terhadap rutinitas perkuliahan.
Saat menempuh pendidikan di UNESA, ia mencari pengalaman baru. Informasi mengenai Duta Budaya Jawa Timur yang ditemukannya melalui Instagram kemudian membuatnya tertarik untuk mencoba.
Latar belakangnya di dunia seni membuat ajang tersebut terasa dekat dengan dirinya. Meski begitu, Rima mengaku sempat minder. Dalam bayangannya ketika itu, dunia duta identik dengan perempuan-perempuan cantik.
Keraguan tersebut perlahan runtuh setelah sang mama memberikan dorongan.
“Semua orang kalau sudah di-makeup akan terlihat cantik,” ujar Rima, menirukan pesan sang mama.
Ia pun memberanikan diri melangkah.
Masuk ke dunia duta, Rima mengaku benar-benar memulai dari nol. Catwalk, public speaking, makeup, hingga membuat sanggul sendiri bukanlah kemampuan yang sebelumnya ia kuasai.
Semua dipelajarinya secara mandiri.
Proses panjang itu kemudian membawanya meraih posisi Wakil II Duta Budaya Jawa Timur. Namun, bagi Rima, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang gelar. Pengalaman itu justru menjadi ruang untuk menempa dirinya.
Ia belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, disiplin, mampu berkomunikasi, dan memahami bagaimana membawa diri ketika berada di tengah masyarakat.
Bekal tersebut kemudian membawanya ke panggung Panji Galuh Kota Kediri 2026.
Membawa Budaya Pulang ke Kediri
Bagi Rima, masuk ke dunia pariwisata bukan berarti meninggalkan budaya yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya, justru sebaliknya.
Ia melihat budaya dan pariwisata sebagai dua kekuatan yang dapat saling menghidupkan. Budaya memberikan identitas, sementara pariwisata membuka ruang agar identitas tersebut dapat dikenal lebih luas.
“Budaya dan pariwisata sebenarnya saling berkaitan dan harus berkolaborasi,” katanya.
Pengalaman sebagai Duta Budaya Jawa Timur menjadi bekal bagi Rima untuk mengenali potensi daerah. Kini, melalui panggung Panji Galuh Kota Kediri, ia ingin membawa pengalaman tersebut kembali ke daerah yang ia anggap sebagai rumah.
Ada alasan personal di balik pilihannya untuk berkontribusi di Kediri.
“Kediri adalah rumah. Seiring berjalannya waktu, seseorang bisa berkelana sejauh apa pun, tetapi rumah untuk kembali tetap Kediri,” ujarnya.
Bagi Rima, pengalaman sejauh apa pun akan terasa lebih berarti ketika bisa dibawa pulang. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh di tingkat Jawa Timur tidak ingin berhenti sebagai pencapaian pribadi. Ia ingin menjadikannya bekal untuk memberi manfaat bagi daerah sendiri.
Ketika Selempang Tak Lagi Dipakai
Kini, Rima berada di tengah perjalanan menuju perannya sebagai Galuh Kota Kediri. Ia membawa satu keinginan sederhana, tetapi memiliki makna panjang: tidak sekadar menjadi wajah daerah, melainkan menjadi seseorang yang memberi pengaruh.
Ia ingin membuka ruang kolaborasi, mengajak masyarakat dan generasi muda terlibat, sekaligus ikut mendorong pariwisata yang memberikan manfaat lebih luas.
Sebab, menurut Rima, kecantikan bisa memudar. Gelar bisa berakhir. Selempang pun pada akhirnya akan dilepas.
Tetapi sebuah kebaikan yang pernah ditanam, sebuah kesempatan yang pernah dibuka, dan sebuah pengaruh yang pernah diberikan dapat tinggal jauh lebih lama.
Bagi Rima, mungkin itulah arti sesungguhnya menjadi Galuh: bukan tentang seberapa lama seseorang mengenakan selempang, tetapi tentang seberapa lama jejak kebaikannya hidup dalam ingatan orang lain.
Jurnalis: Anisa Fadila



