KEDIRI – Tabuhan gamelan berpadu dengan liukan para penari jaranan di Area Museum Sri Aji Jayabaya, Kediri, Sabtu (22/8). Selama dua hari, 22–23 Agustus, Festival Jaranan Kediri mengubah panggung pertunjukan menjadi ruang untuk merawat tradisi sekaligus mematahkan stigma.
Sebanyak 22 peserta ambil bagian dalam festival tersebut. Rinciannya, 14 peserta kategori pelajar dan delapan peserta kategori umum. Peserta tak hanya datang dari Kabupaten Kediri, tetapi juga terbuka bagi seniman dari luar daerah.
Ketua Pelaksana Festival Jaranan Kediri, Relig Baru Priambodo, mengatakan festival digelar untuk memperkenalkan wajah lain jaranan kepada masyarakat. Selama ini, kesenian tersebut masih kerap dikaitkan dengan kerusuhan dan tawuran.
“Dengan kegiatan ini, kami ingin mengembalikan citra baik jaranan sebagai seni yang berkarakter inovatif dan moderat,” kata Relig.
Kreativitas menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian. Juri juga menilai keselarasan antara gerak tari dan musik setiap peserta.
Namun, menurut Relig, tantangan terbesar bukan sekadar menciptakan pertunjukan menarik. Para pelaku seni juga perlu memahami bahwa sebuah karya membutuhkan proses dan penggarapan yang matang, bukan hasil instan.
Semangat regenerasi tampak dari keterlibatan peserta pelajar. Salah satunya tim Turonggo Mustika Ning Daha dari SMP Pawiyatan Daha 1 Kota Kediri.
Pelatih tim, A Abdul Rohman atau Mas Omen, mengaku hanya memiliki waktu sekitar 10 hari untuk mempersiapkan penampilan. Beberapa siswa bahkan masih harus dikenalkan dengan pakem jaranan Jawa.
“Persiapan yang paling sulit karena waktu latihan cukup singkat. Selain itu, beberapa anak juga belum memahami jaranan Jawa, sehingga kami harus memberikan edukasi terlebih dahulu,” ujarnya.
Tim tersebut mengusung jaranan Jawa dengan kisah kehidupan petani tebu. Bagi Omen, keterlibatan pelajar menjadi kunci agar jaranan tak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus menemukan penerus di generasi berikutnya.
Antusiasme juga datang dari masyarakat. M Samsu, warga Dlopo, sengaja datang bersama istrinya untuk menemani sang anak sekaligus menyaksikan festival.
Menurut Samsu, daya tarik festival bukan hanya pada pertunjukan, melainkan pada upaya menjaga jaranan agar tetap hidup.
“Harapannya kesenian jaranan terus diuri-uri dan dilestarikan, sehingga anak cucu kita nanti tetap bisa melihat dan mengenal budaya ini. Kalau bisa, kegiatan seperti ini juga terus menjadi agenda tahunan,” katanya.
Ia menilai inovasi dalam pertunjukan merupakan hal positif selama tidak menghilangkan pakem tradisional. Dengan cara itu, jaranan dapat bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Festival Jaranan Kediri akhirnya bukan sekadar arena adu kreativitas. Di balik denting musik dan hentakan kaki penari, terselip ikhtiar mengubah cara pandang: bahwa jaranan bukan tentang kerusuhan, melainkan tentang tradisi, kreativitas, regenerasi, dan seni yang bisa tumbuh dengan wajah adem-ayem dan moderat.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



