Catatan Redaksi; Persik Kediri Dari Konsisten ke Rapuh, Tumpul dan Pertahanan Lemah

KEDIRI – Musim kompetisi 2025–2026 menjadi cermin pahit bagi Persik Kediri. Tim berjuluk Macan Putih kembali menutup musim di posisi ke-12, sama seperti musim lalu, dengan hanya 11 kemenangan dari 34 laga. Angka ini jauh tertinggal dibanding juara musim ini, Persib Bandung, yang sukses mengantongi 24 kemenangan. Bahkan, Persik juga kalah secara klasemen dari tim promosi PSIM Jogjakarta yang finis di posisi 11.

Performa inkonsisten menjadi masalah utama. Meski sempat tampil kompetitif di beberapa laga, lini belakang Persik kerap rapuh. Pada laga terakhir musim ini, Persik takluk telak 5-0 di kandang Persebaya Surabaya, sebuah hasil yang diakui Pelatih Marcos Reina sebagai kegagalan total.

Kami meminta maaf kepada para supporter atas hasil yang jauh dari ekspektasi,” ujar Marcos, menyoroti buruknya performa tim secara keseluruhan.

Masalah bermula dari pergantian pelatih. Duet bek tengah solid Kiko Carneiro–Khursidbek Muktorov di era Ong Kim Swee tak lagi dipertahankan. Muktorov dilepas, Kiko digeser ke posisi bek kanan, sementara duet baru Hamra Hehanusa dan Muhammad Firly gagal menambal lini belakang. Hasilnya, Persik menjadi salah satu tim dengan pertahanan terburuk di Liga 1, kebobolan lebih dari 50 gol, masuk jajaran tiga tim paling rapuh.

Selain pertahanan, kedalaman skuad juga jadi persoalan serius. Ketergantungan pada 11 pemain inti membuat performa tim langsung menurun ketika pemain kunci absen. Pengganti seperti Ezra Wallian, Jose Enrique, Jon Toral, dan Kiko Carneiro tak mampu memberi dampak signifikan.

Koordinasi lini, transisi bertahan, hingga proteksi dari lini tengah terbukti lemah. Lawan kerap menembus area berbahaya tanpa kesulitan. Situasi ini menegaskan bahwa Persik harus melakukan evaluasi besar-besaran.

Prioritas utama: perbaikan lini belakang, rekrutmen bek tangguh, dan membangun kedalaman skuad yang merata. Tanpa langkah ini, Macan Putih berisiko terseok kembali musim depan. Namun, jika evaluasi dilakukan serius, peluang untuk bangkit dan kembali disegani di Liga 1 masih terbuka lebar.

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan