KEDIRI — Di tengah meningkatnya volume sampah yang membebani Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Klotok hingga mencapai 162 ton / hari, cara lama kembali dilirik sebagai jalan keluar. Di Kecamatan Mojoroto, warga mulai diajak “kembali ke tanah” — menggali lubang sederhana di pekarangan rumah, yang dikenal sebagai joglangan.
Bagi sebagian warga, praktik ini bukan hal baru. Namun, di tengah krisis sampah yang kian terasa, joglangan kini menemukan relevansinya kembali.
Camat Mojoroto, Abdul Rahman, menyebut sebagian besar sampah yang menumpuk di TPA berasal dari rumah tangga. Kondisi ini mendorong pemerintah kecamatan mengimbau warga untuk mulai mengelola limbahnya sendiri, terutama yang bersifat organik.
“Kalau dari rumah sudah dipilah, beban ke TPA bisa berkurang signifikan,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kecamatan Mojoroto, Kamis (16/4).
Di sejumlah sudut kampung, lubang-lubang tanah mulai kembali digali. Tak dalam, hanya sekitar satu meter, cukup untuk menampung sisa dapur seperti nasi basi, sayuran, atau daun kering. Setiap hari, limbah organik itu dimasukkan, ditutup tanah, dan dibiarkan terurai secara alami.
Bagi warga yang masih mempertahankan kebiasaan lama ini, joglangan bukan sekadar tempat sampah. Ia adalah siklus kecil kehidupan: dari sisa makanan menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman di pekarangan.
Namun, ada aturan yang tak boleh diabaikan. Sampah harus dipilah sejak awal. Plastik, kaca, dan bahan anorganik lain tidak boleh ikut tertimbun karena tidak akan terurai dan justru berpotensi mencemari lingkungan.
“Kedalamannya juga dibatasi. Tidak boleh terlalu dalam karena bisa berdampak pada struktur tanah dan air,” kata Abdul Rahman.
Di tengah keterbatasan lahan, tidak semua warga bisa membuat joglangan. Untuk itu, alternatif lain didorong, seperti pemanfaatan fasilitas umum atau penguatan peran bank sampah di tingkat kelurahan.
Di bank sampah, plastik dan material kering lainnya tidak lagi dipandang sebagai limbah semata. Warga bisa menukarnya menjadi nilai ekonomi, menambah pemasukan dari sesuatu yang sebelumnya dibuang begitu saja.
Perlahan, paradigma tentang sampah pun mulai bergeser. Dari sesuatu yang harus disingkirkan, menjadi sesuatu yang bisa dikelola — bahkan memberi manfaat.
Upaya ini memang belum menjadi solusi tunggal. Pemerintah kecamatan masih berharap dukungan teknologi, seperti mesin penghancur sampah di tiap wilayah, untuk memperkuat pengelolaan dalam jangka panjang.
Namun untuk saat ini, dari lubang-lubang sederhana di halaman rumah, harapan itu tumbuh. Bahwa mengatasi persoalan besar, bisa dimulai dari langkah kecil — bahkan dari tanah yang digali sendiri.









