KEDIRI — Pagi itu, Thoba’i menggenggam kartu kecil di tangannya dengan hati-hati. Ia berdiri di depan sebuah mesin yang tak biasa—bukan untuk menarik uang, melainkan beras, bahan pokok yang menjadi penopang hidup sehari-hari.
Dengan satu sentuhan kartu, butiran beras perlahan mengalir keluar. Bagi Thoba’i, momen sederhana itu terasa begitu berarti.
“Alhamdulillah sangat membantu dan prosesnya lancar,” ucapnya lirih, usai menerima 10 liter beras. Raut wajahnya menyiratkan kelegaan yang sulit disembunyikan.
Cerita Thoba’i menjadi satu dari ribuan kisah warga yang merasakan manfaat program ATM Beras di Kota Kediri. Di Kelurahan Pocanan, Kamis (16/4/2026), Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati turun langsung meninjau penyaluran bantuan tersebut, memastikan proses berjalan tepat sasaran sekaligus mudah diakses masyarakat.
Di hadapan mesin ATM beras, warga tak lagi harus antre panjang atau bergantung pada pembagian manual. Sistem ini memungkinkan penerima manfaat mengambil jatah secara mandiri, cukup dengan kartu yang telah terdaftar.
“Pemerintah hadir untuk membantu masyarakat tidak mampu. Semoga ini bisa mengurangi beban,” ujar Vinanda.
Program ini memasuki tahun kedua pelaksanaan, dengan cakupan penerima yang semakin luas. Pada 2026, tercatat sebanyak 4.285 warga masuk dalam daftar penerima manfaat, yang berasal dari kelompok desil 1 hingga 4—kategori masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
Tak hanya memperluas jangkauan, pemerintah juga terus memperbarui data penerima. Warga yang kondisi ekonominya membaik akan dikeluarkan dari daftar, sementara mereka yang mengalami penurunan akan segera dimasukkan.
Pendekatan ini, menurut Vinanda, menjadi kunci agar bantuan benar-benar menyasar mereka yang membutuhkan.
Total sekitar 35.000 kilogram beras disalurkan dalam program ini. Untuk tahap kali ini, distribusi mencakup alokasi Januari dan Februari, dengan masing-masing penerima memperoleh 5 liter per bulan.
Namun di balik angka-angka itu, ada cerita-cerita kecil yang kerap luput dari perhatian—tentang dapur yang tetap mengepul, tentang keluarga yang bisa sedikit bernapas lega di tengah tekanan ekonomi.
Bagi Thoba’i dan ribuan warga lainnya, ATM beras bukan sekadar inovasi teknologi. Ia adalah jembatan harapan—bahwa bantuan bisa hadir lebih dekat, lebih mudah, dan lebih manusiawi.
Bagikan Berita :








