KEDIRI – Puluhan siswa di tiga SD Negeri Kota Kediri dilaporkan pulih usai keracunan massal menu Makan Bergizi Gratis. Walikota Vinanda Prameswati membenarkan temuan bakteri E. coli dalam makanan yang disajikan pada Rabu, 22 April 2026 lalu.
Para siswa SDN Ketami 1, SDN Ketami 2, dan SDN Tempurejo 1 awalnya mengeluh mual, muntah, pusing, hingga demam usai menyantap MBG.
“Dari hasil pemeriksaan, ditemukan adanya bakteri E. coli yang mengindikasikan makanan tidak layak konsumsi,” tegas Walikota Vinanda di Balai Kota, Jumat malam, 24 April 2026.
Buntut kejadian itu, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Tempurejo langsung dihentikan sementara. Distribusi MBG untuk 2.438 penerima manfaat di Kelurahan Tempurejo, Ketami, dan Ngletih dialihkan ke SPPG Kembangsari dan SPPG Majalengka. Polres Kediri Kota juga telah turun melakukan penyelidikan.
Kepala SPPG Tempurejo, Rini Eka, dari Yayasan Alfa Omega Jaya menyebut awalnya hanya 32 siswa yang dilaporkan terdampak.
“Cuma enggak tahu kok ke sini semakin banyak,” ujarnya saat dikonfirmasi Minggu, 26 April 2026.
SPPG Ditutup Sementara

Meski begitu, Rini menegaskan pihaknya sudah melakukan pendampingan kesehatan bersama Puskesmas. “Kami mendata siswa yang terdampak itu sampai sembuh. Alhamdulillah per hari ini sudah sembuh,” katanya.
Ia bersama tim bahkan mendatangi rumah 4 siswa yang masih istirahat untuk memastikan kondisi mereka. “Sudah dicek, kondisinya sehat, untuk Senin insyaallah bisa kembali ke sekolah.”
SPPG Tempurejo melayani 17 sekolah, mayoritas TK dan PAUD. Rini mengklaim sekolah lain aman karena guru sudah mengecek makanan lebih dulu. “Dari awal MOU saya itu sudah menyampaikan jika makanan itu tidak sesuai atau berbau itu jangan disajikan. Karena dari kami juga memberikan sampel untuk sekolah.”
Pasca-insiden, dapur SPPG Tempurejo berstatus suspend dan 47 relawan dirumahkan hingga ada keputusan dari pusat.
“Jadi tidak ada kegiatan. Kami masih memperbaiki fasilitas. Tapi suspend sampai kapan kami belum tahu,” jelas Rini.
Soal penyebab, Rini menduga ada kesalahan teknis pengolahan. Ia juga menyoroti penanganan sampel lab. “Hasil uji lab yang dibawa itu kemungkinan sampelnya tidak disimpan dengan baik, terlalu lama di ruang terbuka. Waktu itu juga gerimis, lalu langsung dibawa ke laboratorium,” ungkapnya. Saat ini pihaknya masih menunggu hasil uji lab resmi dari Dinas Kesehatan yang diperkirakan keluar Senin.
Terkait ganti rugi, Rini memastikan Yayasan Alfa Omega Jaya siap bertanggung jawab. “Jika ada sesuatu di MBG bisa dilaporkan dan dari pihak SPPG akan mengganti. Kalau ada yang tidak cocok, kami ganti baru. Dari awal memang seperti itu.”
Meski ada keluhan bau dari makanan yang tak dimakan siswa, Rini mengaku hasil pengecekan internal tak menemukan masalah. “Tapi kami tidak bisa menyamakan penilaian, karena setiap orang berbeda. Ompreng tidak dimakan, nanti kami data dan evaluasi,” tutupnya.









