KEDIRI – Masa depan Stadion Brawijaya kembali menjadi perhatian setelah Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persik Kediri, Tri Widodo, menyampaikan pandangannya melalui akun media sosial @widodohunter.
Dalam unggahannya, Widodo menyoroti konsep stadion modern yang menurutnya tidak lagi menempatkan deretan ruko di bawah tribun. Ia menyebut sejumlah stadion di Jawa Timur yang telah direvitalisasi melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) kini menghilangkan fungsi ruko di area bawah tribun dan mengalihkannya untuk kebutuhan penonton maupun kegiatan olahraga.
Widodo mencontohkan Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Menurut dia, area yang sebelumnya dipenuhi ruko kini telah dikosongkan dan dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, termasuk sekretariat cabang olahraga.
“Stadion modern di bawah tribun tidak ada ruko. Semua stadion yang dibangun dan direnovasi Kementerian PU, rukonya dihapus dan dijadikan tempat untuk rehat suporter,” ujar Widodo dalam keterangannya.
Ia kemudian mempertanyakan mengapa Stadion Brawijaya tidak masuk dalam daftar stadion yang mendapatkan revitalisasi tersebut. Menurutnya, salah satu kendalanya kemungkinan berkaitan dengan keterbatasan lahan dan minimnya area parkir.
“Sejumlah stadion seperti Gresik, Lamongan, Surabaya, Malang, Pamekasan dan Sidoarjo termasuk dalam 17 stadion yang dilakukan revitalisasi. Stadion-stadion tersebut tanpa ruko di bawah tribun. Kenapa Stadion Brawijaya tidak termasuk? Mungkin karena lokasi yang sempit dan tidak ada area parkir yang luas,” jelasnya.
Akses Bus Pemain Jadi Persoalan
Selain persoalan ruko, keterbatasan akses menuju Stadion Brawijaya juga menjadi perhatian. Lokasi stadion yang berdekatan dengan jalan raya dan SMAN 8 Kediri dinilai membuat akses kendaraan berukuran besar, termasuk bus yang membawa pemain, menjadi tidak leluasa.
Kondisi tersebut, kata Widodo, semakin kompleks dengan keberadaan bangunan Taman Memorial Park di sekitar kawasan stadion.
Karena itu, ia mendukung wacana Pemerintah Kota Kediri untuk memindahkan SMAN 8 sebagai bagian dari upaya memperluas kawasan Stadion Brawijaya.
Menurut Widodo, perluasan stadion seharusnya tidak hanya berorientasi pada kapasitas tribun. Infrastruktur pendukung seperti akses jalan dan lahan parkir juga harus menjadi prioritas.
“Kami mendukung jika SMAN 8 dipindah untuk perluasan stadion. Nanti disediakan tempat khusus untuk food court, dengan demikian penonton bisa jajan. Lalu tersedia lahan parkir dan akses jalan harus menjadi prioritas,” katanya.
UMKM Tetap Bisa Berjualan
Terkait kekhawatiran bahwa penghapusan ruko dapat berdampak terhadap aktivitas UMKM, Widodo menilai fungsi komersial tetap dapat dipertahankan melalui konsep yang lebih terintegrasi dengan stadion.
Ia menyebut food court sebagai salah satu opsi yang dapat disiapkan di dalam kawasan stadion. Dengan konsep tersebut, aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa harus mengorbankan fungsi utama stadion.
Widodo juga mengaitkan konsep tersebut dengan regulasi penyelenggaraan pertandingan yang dikeluarkan FIFA, khususnya mengenai penataan fasilitas makanan dan minuman bagi penonton.
Brawijaya Direnovasi atau Bangun Stadion Baru?

Lebih jauh, Widodo menilai Pemerintah Kota Kediri perlu mempertimbangkan berbagai opsi untuk menentukan masa depan Stadion Brawijaya.
Ia mencontohkan Stadion Mattoangin di Makassar yang dahulu dikenal sebagai markas PSM Makassar. Stadion tersebut memiliki sejarah panjang dan pernah menjadi lokasi berbagai pertandingan olahraga tingkat nasional, tetapi pada akhirnya dibongkar karena dinilai tidak lagi sesuai dengan kebutuhan kawasan.
Menurut Widodo, stadion lama tidak selalu harus dipertahankan jika kondisi dan lokasinya sudah tidak mendukung perkembangan olahraga modern.
“Stadion lama tidak harus dipertahankan. Contohnya Stadion Mattoangin sangat legendaris, juga dibongkar karena lokasinya sudah tidak mendukung,” ungkapnya.
Namun, jika Stadion Brawijaya memiliki nilai sejarah dan dianggap sebagai bagian dari cagar budaya, ia menyarankan opsi renovasi tetap dipertimbangkan. Terlebih, renovasi terakhir Stadion Brawijaya disebut telah dilakukan pada 2002.
Di sisi lain, Widodo juga membuka opsi pembangunan stadion baru di kawasan timur Kota Kediri. Ia menyebut wilayah Bawang atau Betet sebagai salah satu kawasan yang dapat dipertimbangkan untuk pembangunan stadion baru sekaligus mendukung pengembangan kota.
“Kalau Stadion Brawijaya dianggap cagar budaya, ya direnovasi saja. Renovasi terakhir dilakukan pada 2002. Lalu membuat stadion baru di wilayah timur, seperti di wilayah Bawang atau Betet, sekalian untuk pengembangan kota,” imbuhnya.
Persoalan Stadion Brawijaya kini tidak lagi sekadar menyangkut tempat pertandingan Persik Kediri. Perluasan lahan, akses kendaraan, parkir, fasilitas suporter, ruang UMKM hingga opsi pembangunan stadion baru menjadi bagian dari pembahasan mengenai masa depan salah satu fasilitas olahraga penting di Kota Kediri.
jurnalis : Nanang Priyo Basuki



