Roda Kayu Berputar, dari Tradisi ke Potensi Ekonomi : Parade Cikar ke-5 Digelar di Kabupaten Kediri

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Derap kaki sapi berpadu dengan riuh warga di sepanjang jalan Kabupaten Kediri, Sabtu (22/8). Sebanyak 43 cikar—kendaraan tradisional berbahan kayu yang ditarik sapi—melintas dalam Parade Cikar untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Bukan sekadar parade, perjalanan itu seperti membuka kembali lembaran masa lalu. Cikar yang dahulu menjadi bagian dari keseharian masyarakat kembali hadir, mempertemukan ingatan generasi lama dengan rasa ingin tahu generasi muda.

Mengusung tema “Merawat Tradisi, Melangkah Bersama, Membangun Kediri”, parade tahun kelima ini diikuti peserta dari sekitar 10 kecamatan. Wates dan Ngadiluwih menjadi wilayah dengan peserta terbanyak. Satu peserta bahkan datang dari Yogyakarta.

Kemeriahan juga melibatkan sekitar 50 siswa sekolah dasar. Mereka diberi kesempatan menaiki cikar dan mengikuti perjalanan bersama peserta. Masyarakat umum pun dapat merasakan langsung pengalaman menaiki transportasi tradisional tersebut.

Bupati Kediri Hanindhito Himawan yang diwakili Sekda Kabupaten Kediri Mohamad Solikin mengatakan, Parade Cikar bukan semata-mata tentang mempertahankan sebuah kendaraan tradisional.

Kegiatan Parade Cikar ini bukan sekadar melestarikan budaya, tetapi juga membangun kembali memori publik tentang transportasi tradisional yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujar Solikin.

Jumlah peserta tahun ini meningkat dari 40 cikar pada pelaksanaan sebelumnya menjadi 43 cikar. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kediri drh. Tutik Purwaningsih mengatakan kesehatan seluruh sapi juga diperiksa sebelum parade digelar.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi pintu masuk untuk mengenalkan dunia peternakan kepada anak-anak. Sebelum naik cikar, para siswa mendapat edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi produk peternakan dan sarapan dengan berbagai produk olahan peternakan.

Sebanyak 2.000 butir telur juga disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat di sepanjang rute parade.

Menurut Solikin, pesan yang dibawa Parade Cikar tidak berhenti pada pelestarian budaya. Di balik derap sapi dan roda kayu, terdapat potensi ekonomi yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat.

Harapan kita sebenarnya lebih dari itu, masyarakat bisa tahu betul bahwa sapi ini benar-benar potensi yang menjanjikan untuk masa depan,” katanya.

Kreativitas peserta pun menjadi bagian dari parade. Penilaian mencakup kesehatan sapi, budaya dan tradisi, kreativitas cikar, daya tarik pariwisata, hingga keberadaan produk pertanian Kabupaten Kediri.

Juara pertama mendapat Rp1 juta, juara kedua Rp750 ribu, dan juara ketiga Rp500 ribu.

Bagi Yudiono dari Mbah Lurah Farm, Desa Ngunjang, Kecamatan Ngancar, hadiah bukanlah tujuan utama. Ia justru kembali membuktikan diri sebagai juara pertama setelah meraih prestasi serupa pada parade tahun sebelumnya.

Persiapannya dilakukan hanya dalam hitungan hari. Kesehatan sapi menjadi prioritas dengan pemberian vitamin, comboran, dan hijauan. Cikar juga dicat ulang agar lebih mencolok dan ditutup terpal setiap hari untuk melindunginya dari debu.

Harapannya kami dari komunitas cikar yang ada di Kediri tetap difasilitasi dan didampingi setiap tahun kalau bisa diadakan Parade Cikar terus, biar kita tetap semangat untuk nguri-nguri tinggalan para leluhur kita,” ujar Yudiono.

Derap sapi akhirnya bukan sekadar bunyi dari masa lalu. Di Kediri, roda-roda cikar terus berputar, membawa tradisi lama menuju generasi baru—sekaligus menyampaikan pesan bahwa warisan budaya dan potensi peternakan dapat berjalan beriringan menuju masa depan.

 

jurnalis : Navima Aulya Sava