KEDIRI — Di antara aktivitas mengaji yang tak pernah berhenti di Pondok Pesantren Lirboyo, langkah perubahan mulai terasa pelan namun pasti. Bukan hanya soal ilmu agama, kini para santri juga mulai dikenalkan pada hal yang lebih luas: bagaimana memahami keuangan, sekaligus menjaga kualitas gizi mereka.
Selasa (14/04), halaman pesantren yang biasanya diisi rutinitas harian, menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan besar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hadir membawa satu tujuan: memperkuat ekosistem pesantren agar lebih mandiri dan berdaya.
Di tengah kegiatan itu, para santri mengikuti edukasi literasi keuangan syariah melalui program SAKINAH. Bagi sebagian dari mereka, ini menjadi pengalaman baru—memahami bagaimana mengelola keuangan sesuai prinsip syariah, sesuatu yang kini mulai dianggap penting dalam kehidupan modern.
Namun, perhatian tak hanya berhenti pada literasi. Di sisi lain, isu gizi juga menjadi fokus utama melalui percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini bukan sekadar tentang makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk kualitas generasi mendatang.
Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa kebutuhan layanan gizi di Lirboyo masih jauh dari ideal. Dari kebutuhan belasan dapur layanan, baru sebagian kecil yang berjalan.
“Kita ingin memastikan santri tidak hanya kuat secara ilmu, tetapi juga sehat secara fisik,” ujarnya.
Pernyataan itu menggambarkan tantangan sekaligus peluang besar yang sedang dihadapi pesantren. Sebab, di balik program MBG, tersimpan potensi lain: menggerakkan ekonomi berbasis pesantren.
Hal ini turut ditegaskan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Soni Sanjaya. Menurutnya, program makan bergizi tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga membuka lapangan kerja serta memperkuat rantai pasok pangan.
“Ini bukan sekadar program sosial, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir dan ekonomi masyarakat,” katanya.
Di titik inilah, peran sektor keuangan mulai masuk. OJK mencoba menjembatani kebutuhan tersebut melalui business matching, mempertemukan pelaku usaha, pemasok, hingga lembaga keuangan. Harapannya, dapur-dapur gizi di pesantren tidak hanya berdiri, tetapi juga berkelanjutan.
Kepala Eksekutif OJK, Dicky Kartikoyono, melihat pesantren sebenarnya telah memiliki fondasi ekonomi yang kuat sejak lama. Tinggal bagaimana memperkuatnya agar memberi dampak lebih luas.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, menegaskan bahwa peran pesantren tidak pernah lepas dari perjalanan bangsa.
“Pesantren selalu hadir untuk menjaga dan membangun negeri ini,” ujarnya.
Komitmen tersebut kini diperkuat dengan langkah konkret. Ketua Tim Koordinasi Program MBG, KH. Fahmy Akbar Idries, menyebut pembangunan dapur gizi oleh NU terus berjalan di berbagai daerah.
Dari target besar ribuan dapur, ratusan di antaranya sudah mulai beroperasi. Lirboyo pun masuk dalam peta pengembangan, dengan target penambahan dapur dalam waktu ke depan.
Di balik semua itu, ada satu benang merah yang mengikat: kolaborasi. Pemerintah, lembaga keuangan, dan organisasi keagamaan berjalan bersama, mencoba menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi.
Kini, di lingkungan Lirboyo, perubahan itu mulai terlihat. Dari ruang belajar hingga dapur gizi, dari kitab kuning hingga literasi keuangan, semua bergerak menuju satu tujuan—mencetak generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga sehat dan mandiri.









