KEDIRI — Di tengah harapan para siswa sekolah dasar yang bersiap melangkah ke jenjang berikutnya, satu perubahan besar mulai terasa dalam sistem penerimaan murid baru (SPMB) di Kota Kediri tahun ini.
Bukan hanya soal jumlah kursi yang terbatas, tetapi juga perubahan cara pandang: tak ada lagi istilah sekolah favorit.
Sebanyak 3.168 kursi SMP negeri disiapkan untuk menampung lulusan SD yang jumlahnya diperkirakan menembus lebih dari 5.000 siswa. Artinya, persaingan tetap ada. Namun, pemerintah mencoba menggeser fokus dari “sekolah tujuan” menjadi “kesempatan yang merata”.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Mandung Sulaksono, menegaskan bahwa seluruh SMP negeri kini diposisikan setara.
“Kami ingin menghilangkan anggapan sekolah favorit. SMP 1 sampai SMP 9 itu sama kualitasnya,” ujarnya.
Bagi sebagian orang tua, perubahan ini mungkin membutuhkan penyesuaian. Selama ini, persepsi sekolah unggulan kerap menjadi pertimbangan utama. Kini, pilihan harus lebih rasional—berdasarkan kebutuhan dan kondisi anak.
Di sisi lain, sistem seleksi juga mengalami pembaruan. Tahun ini, untuk pertama kalinya Tes Kemampuan Akademik (TKA) diterapkan sebagai bagian dari proses penerimaan.
Tes ini menjadi salah satu komponen penting, terutama dalam jalur prestasi. Nilainya bahkan memiliki bobot lebih besar dibandingkan rapor, yakni 60 persen, sementara nilai rapor kelas 4 hingga 6 menyumbang 40 persen.
“TKA ini menjadi salah satu unsur pendukung untuk pembelajaran ke jenjang lebih lanjut,” kata Mandung.
Selain jalur prestasi, skema penerimaan tetap menggunakan empat jalur utama: afirmasi, mutasi, prestasi, dan domisili. Masing-masing memiliki porsi kuota yang telah ditentukan, dengan jalur domisili menjadi yang terbesar.
Namun, di balik angka dan sistem tersebut, ada upaya yang lebih besar sedang dibangun: pemerataan kualitas pendidikan.
Pemerintah kota mengklaim telah melakukan berbagai langkah, mulai dari peningkatan kompetensi guru hingga pemenuhan sarana prasarana. Salah satunya melalui dukungan teknologi pembelajaran, seperti TV interaktif yang mulai didistribusikan ke sekolah-sekolah.
Meski masih terbatas, langkah ini menjadi sinyal bahwa kualitas pendidikan tidak lagi bergantung pada nama besar sekolah, melainkan pada sistem yang dibangun secara merata.
Sosialisasi SPMB sendiri dijadwalkan mulai 16 April, baik secara langsung maupun daring. Informasi lengkap juga telah disediakan melalui laman resmi, agar masyarakat dapat mengakses secara transparan.
Kini, di tengah ribuan siswa yang bersiap mendaftar, ada cerita yang lebih besar dari sekadar seleksi masuk sekolah. Ini tentang perubahan paradigma—bahwa setiap anak memiliki peluang yang sama, di sekolah mana pun mereka melangkah.
Dan bagi Kota Kediri, ini menjadi langkah awal untuk meratakan kualitas, sekaligus meruntuhkan sekat yang selama ini disebut sebagai “favorit”.









