KEDIRI — Berdiri kokoh melintasi Sungai Brantas selama lebih dari satu setengah abad, Jembatan Lama Kediri menjadi saksi perjalanan panjang sejarah kota. Pemerintah Kota Kediri memperingati 157 tahun keberadaan jembatan ikonik tersebut melalui peluncuran Tenun Ikat motif Jembatan Lama yang dilanjutkan dengan kegiatan Ngaji Bareng Seniman Jaranan, Sabtu (14/3/2026), di halaman Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri.
Jembatan Lama Kediri memiliki panjang sekitar 160 meter dengan lebar 5,80 meter dan tinggi 7,50 meter dari permukaan Sungai Brantas. Selama lebih dari 150 tahun, jembatan ini tidak hanya berfungsi sebagai penghubung wilayah, tetapi juga menjadi simbol sejarah sekaligus identitas Kota Kediri yang terus dijaga keberadaannya.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menilai peringatan ini menjadi momentum penting untuk mengingat sekaligus merawat warisan sejarah yang dimiliki kota. Menurutnya, Jembatan Lama bukan hanya memiliki nilai historis, tetapi juga nilai budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
“Mari kita jadikan momentum ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga merawat dan menjaga warisan yang telah menjadi identitas kita bersama,” ujarnya.
Vinanda menambahkan, Jembatan Lama tidak sekadar menjadi infrastruktur penghubung, melainkan saksi perjalanan sejarah masyarakat Kediri sekaligus perkembangan budaya yang tumbuh di sekitarnya.
Tenun Ikat

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi peluncuran Tenun Ikat motif Jembatan Lama yang dinilai sebagai bentuk kecintaan terhadap sejarah daerah sekaligus upaya memperkuat identitas budaya lokal.
“Ini sangat bagus dan perlu terus dikembangkan. Harapannya bukan hanya saya yang mengenakan, tetapi semakin banyak warga Kota Kediri yang memakai tenun ikat motif Jembatan Lama,” ungkapnya.
Peringatan yang berlangsung di bulan Ramadan itu juga diisi dengan kegiatan yang mempertemukan para pelaku seni dan budaya Kota Kediri. Sekitar 700 seniman dari berbagai komunitas hadir dalam kegiatan tersebut, terutama para pelaku seni jaranan yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem budaya daerah.
“Di bulan yang mulia ini kita bisa mengaji bersama. Dari seni kita belajar tentang keindahan, sedangkan dari mengaji kita memahami nilai keimanan dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Disbudparpora Kota Kediri HM. Bambang Priyambodo menjelaskan kegiatan tersebut juga menjadi upaya untuk menghidupkan kembali kawasan Jembatan Lama sebagai ruang aktivitas budaya masyarakat.
Menurutnya, momentum peringatan ini sekaligus menjadi uji coba pemanfaatan kawasan cagar budaya untuk berbagai kegiatan publik.
“Hari ini menjadi semacam uji coba bahwa Jembatan Lama bisa dimanfaatkan sebagai ruang kegiatan masyarakat,” jelasnya.
Ia berharap aktivitas budaya di kawasan tersebut dapat mendorong tumbuhnya ruang publik yang hidup sekaligus membuka peluang aktivitas ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Selain kegiatan budaya, rangkaian acara juga diisi dengan ngaji budaya yang menghadirkan Ketua PCNU Kota Kediri untuk memberikan tausiah kepada para seniman.
“Tujuannya untuk menyatukan para seniman jaranan se-Kota Kediri agar semakin guyub dan rukun. Jadi tidak hanya berkesenian, tetapi juga mendapatkan siraman rohani, apalagi ini di bulan Ramadan,” ujarnya.
Upaya merawat keberadaan Jembatan Lama juga berkaitan erat dengan pemahaman terhadap nilai sejarah yang dimilikinya. Peneliti sejarah Jembatan Lama sekaligus pemerhati cagar budaya, Imam Mubarok, menjelaskan bahwa peringatan ulang tahun jembatan sebenarnya jatuh pada 18 Maret, namun dimajukan menjadi 14 Maret karena berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri dan Nyepi.
Ia menyebut kegiatan peringatan tersebut telah dilakukan secara konsisten sejak penelitian sejarah Jembatan Lama dilakukan pada 2013 sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya warisan sejarah kota.
“Arti penting jembatan ini sangat besar. Ini merupakan jembatan dengan konstruksi besi pertama di Pulau Jawa,” terangnya.
Jembatan tersebut mulai digagas pada 1855 dan rampung dibangun pada 11 Maret 1869, sebelum akhirnya dibuka untuk umum pada 18 Maret 1869. Konstruksinya dirancang oleh arsitek Belanda Sytze Westerbaan Muurling.
Sepanjang perjalanannya, jembatan ini beberapa kali mengalami revitalisasi, di antaranya setelah erupsi Gunung Kelud pada 1901 serta perbaikan besar yang dilakukan pada 1976.
Semangat pelestarian tersebut juga melahirkan karya kreatif dari pelaku budaya lokal. Pada kesempatan yang sama, diluncurkan Tenun Ikat motif Jembatan Lama yang digagas oleh Ketua Pokdarwis Tenun Ikat Kota Kediri sekaligus pemilik Palu Gada Tenun Ikat, Slamet Sugianto.
Ia menjelaskan motif tersebut terinspirasi dari struktur rangka besi Jembatan Lama yang kemudian diadaptasi menjadi desain tenun ikat khas Kediri.
“Kami menggunakan warna biru tua yang terinspirasi dari sejarah dan identik dengan Dewa Krisna. Motifnya mengambil bentuk struktur besi Jembatan Lama, sehingga tetap terlihat anggun dan indah,” paparnya.
Menurutnya, kehadiran motif tersebut diharapkan tidak hanya menjadi karya fesyen, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat terhadap warisan sejarah Kota Kediri.









