Tinggalkan Gaji Puluhan Kali Lipat, Inilah Sosok Kepala Sekolah di Kediri Memutuskan Pengabdian di Dunia Pendidikan

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Ada keputusan yang tak bisa diukur dengan angka. Ketika sebagian orang mengejar penghasilan setinggi mungkin, Eka Prayitna, S.Pd., justru memilih meninggalkan karier mapan di sektor swasta dengan pendapatan puluhan kali lebih besar. Ia beralih menjadi guru dengan gaji awal sekitar Rp283 ribu per bulan, sebuah pilihan yang mengubah cara pandangnya tentang rezeki, pengabdian, dan makna kehidupan.

Bagi Eka, kebahagiaan tidak selalu lahir dari besarnya nominal yang diterima setiap bulan. Ia meyakini bahwa rezeki yang penuh keberkahan akan selalu menemukan jalannya.

“Saya percaya uang yang berkah akan selalu mencukupi. Mungkin jumlahnya tidak sebesar dulu, tetapi keberkahannya terasa,” ujarnya.

Keputusan meninggalkan dunia swasta bukanlah langkah yang mudah. Saat itu, ia telah memiliki posisi strategis dan dipercaya memimpin ratusan karyawan. Namun, panggilan untuk mengabdi di dunia pendidikan perlahan mengalahkan kenyamanan yang telah dimilikinya.

Pria kelahiran Sukorejo, Kediri, 11 Oktober 1972 itu menghabiskan masa pendidikannya di Kota Kediri hingga lulus dari SPG Negeri Kediri. Ia kemudian melanjutkan studi Geografi di IKIP Surabaya. Semangat belajarnya tak pernah surut. Di tengah kesibukan memimpin sekolah, ia masih menempuh pendidikan magister Program Studi Ekonomi di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.

Menariknya, menjadi guru bukanlah cita-cita masa kecil Eka. Ia sempat bermimpi menjadi seorang tentara. Namun, arahan sang ibu yang juga berprofesi sebagai guru mengubah arah perjalanan hidupnya. Pilihan yang awalnya dijalani karena menghormati orang tua itu, lambat laun tumbuh menjadi panggilan hati.

Selepas menyelesaikan kuliah pada 1996, Eka lebih dahulu membangun karier di perusahaan swasta. Pengalaman memimpin organisasi dan mengelola sumber daya manusia menjadi bekal berharga yang kelak membantunya saat memasuki dunia pendidikan.

“Mengelola sekolah pada prinsipnya sama dengan mengelola organisasi. Bedanya, di dunia pendidikan orientasinya bukan keuntungan, melainkan pelayanan dan bagaimana memajukan peserta didik,” tuturnya.

Pada 2000, ia resmi menjadi guru Geografi di SMAN 1 Kota Kediri dengan penugasan pertama di SMAN 1 Ngadiluwih yang saat itu baru berdiri. Bersama rekan-rekannya, Eka ikut merintis sekolah tersebut dari awal, mulai menjaring peserta didik, menyiapkan administrasi, hingga membangun sistem pembelajaran.

Perubahan profesi tentu berdampak pada kondisi ekonomi keluarga. Penghasilan yang jauh lebih kecil membuatnya harus mencari berbagai cara agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Di sela aktivitas mengajar, ia merintis sejumlah usaha sebagai sumber penghasilan tambahan. Pengalaman itu membentuk karakter pantang menyerah tanpa mengurangi dedikasinya sebagai pendidik.

Setelah kebijakan otonomi daerah diberlakukan, Eka kembali mengajar di SMAN 1 Kota Kediri. Selama lebih dari 24 tahun mengabdi, ia terus meningkatkan kompetensinya. Ia dipercaya menjadi instruktur nasional Kurikulum 2013 selama enam tahun serta lulus Program Guru Penggerak angkatan ke-7 Kota Kediri. Pengalaman tersebut mengantarkannya lolos seleksi kepala sekolah.

Pada Februari 2024, Eka mendapat amanah memimpin SMAN 1 Kandat. Dua tahun empat bulan kemudian, ia dipercaya melanjutkan pengabdiannya sebagai Kepala SMAN 1 Plosoklaten.

Meski baru memimpin sekolah tersebut, ia optimistis potensi peserta didik dapat terus berkembang melalui pembinaan yang tepat. Menurutnya, tugas seorang guru bukan mengubah karakter anak, melainkan membantu setiap peserta didik menemukan dan mengembangkan potensi terbaik yang telah mereka miliki.

“Potensi siswa di sekolah ini sebenarnya sangat baik. Mereka hanya membutuhkan pembinaan dan pengembangan yang lebih maksimal,” katanya.

Lebih dari dua dekade menjalani profesi sebagai pendidik, Eka mengaku tak pernah menyesali keputusan meninggalkan karier dengan penghasilan besar. Baginya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan hidup yang menghadirkan makna lebih dalam daripada sekadar angka di slip gaji.

Kebahagiaan terbesar yang ia rasakan bukan ketika memperoleh pendapatan tinggi, melainkan saat melihat para murid tumbuh, berhasil, dan mampu mengukir masa depan mereka sendiri.

“Kebanggaan terbesar bagi saya bukan soal penghasilan, tetapi ketika melihat murid-murid berhasil,” ujarnya.

Perjalanan panjang itu mengajarkan satu hal kepada Eka: rezeki bukan semata-mata tentang besarnya penghasilan, melainkan tentang keberkahan, kesempatan mengabdi, dan jejak manfaat yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

jurnalis : Anisa Fadila

✓ Link berhasil disalin