KEDIRI – Sunyi dini hari di Desa Maron, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, berubah menjadi malam yang meninggalkan trauma. Deru ratusan sepeda motor yang melintas berganti dengan suara benturan batu yang menghantam rumah-rumah warga, menyisakan genteng pecah, kaca berhamburan, dan rasa takut yang masih membekas.
Menindaklanjuti laporan masyarakat, Pengurus Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kota Kediri yang telah berbadan hukum di bawah kepemimpinan Ketua Umum Dr. Ir. Muhammad Taufiq, SH, M.Sc, berdasarkan SK Menteri Hukum dan HAM RI Nomor AHU-0005248.AH.01.07 Tahun 2025, langsung mendatangi lokasi kejadian pada Minggu (6/7/2026).
Selain melakukan pendataan serta meminta keterangan dari sejumlah saksi, perwakilan Pengurus PSHT juga menyerahkan santunan kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat insiden tersebut.
Humas PSHT Cabang Kota Kediri, Amon, mengatakan, kedatangannya ke lokasi merupakan instruksi langsung dari Ketua Cabang PSHT Kota Kediri, Sudjoko Adi Poerwanto.
Dari hasil klarifikasi di lapangan, warga menyampaikan bahwa pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari melintas iring-iringan ratusan sepeda motor dari arah barat menuju Kota Kediri. Beberapa saat kemudian rombongan kembali melintas dari arah sebaliknya.
“Menurut keterangan warga, setelah rombongan itu melintas terjadi aksi pelemparan yang mengakibatkan sejumlah rumah mengalami kerusakan, terutama pada bagian atap. Warga mengaku masih trauma dan berharap kejadian serupa tidak terulang,” ujar Amon.
Dalam kesempatan tersebut, Amon menegaskan bahwa aktivitas yang berlangsung pada Sabtu malam bukan merupakan agenda resmi PSHT Cabang Kota Kediri di bawah kepemimpinan Sudjoko Adi Poerwanto atau yang akrab disapa Kangmas Joko Koreng.
Ia menjelaskan, setiap kegiatan resmi PSHT yang telah memiliki legalitas selalu dikoordinasikan dengan aparat penegak hukum, baik kepolisian maupun unsur pengamanan lainnya.
“Informasi yang kami terima memang ada kegiatan tasyakuran Bulan Suro berupa doa bersama. Tidak ada agenda hiburan musik ataupun kegiatan lain di luar itu,” katanya.
PSHT, lanjut Amon, menyayangkan adanya aksi yang berujung pada kerusakan fasilitas milik warga dan menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat. Menurutnya, tindakan tersebut bertolak belakang dengan nilai-nilai Persaudaraan Setia Hati Terate yang menjunjung tinggi budi pekerti luhur.
“Apabila nantinya ditemukan ada anggota yang terlibat, kami akan melakukan pembinaan sesuai ketentuan organisasi. Kami juga meminta aparat kepolisian bertindak tegas dan profesional demi memberikan rasa aman kepada masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, salah seorang warga yang menerima santunan, Indra, mengaku baru mengetahui rumahnya menjadi sasaran pelemparan setelah pulang bersama keluarganya.
Saat kejadian sekitar pukul 03.00 WIB, ia bersama seluruh anggota keluarga sedang berada di luar rumah. Sekembalinya ke rumah, ia mendapati kaca jendela pecah, sejumlah genteng rusak, dan batu-batu berukuran cukup besar berserakan di dalam rumah.
“Kalau ibu saya malam itu tetap tidur di kamar tengah seperti biasanya, mungkin kondisinya bisa berbeda. Untung beliau berpindah tidur ke kamar belakang. Batu-batu yang dilempar masih ada di dalam rumah sampai sekarang,” tutur Indra.
Peristiwa tersebut kini menjadi perhatian berbagai pihak. Warga berharap aparat kepolisian dapat mengusut tuntas pelaku pelemparan sehingga kejadian serupa tidak kembali menghantui masyarakat, terutama saat momentum kegiatan Bulan Suro.



