KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri memastikan ketersediaan dan harga bahan pokok menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dalam kondisi aman dan relatif stabil. Kepastian tersebut diperoleh setelah jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bersama organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan rapat koordinasi sekaligus inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Induk Pare, Senin.
Kegiatan diawali dengan rapat koordinasi di Convention Hall kawasan Simpang Lima Gumul. Pertemuan ini dihadiri Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa, Sekretaris Daerah Solikin, perwakilan Kodim 0809 Kediri, Wakapolres Kediri dan Kediri Kota, serta unsur Kejaksaan, Pengadilan Negeri, Kementerian Agama, dan sejumlah kepala OPD.
Usai rapat, rombongan langsung menuju Pasar Induk Pare untuk memantau kondisi pasar secara langsung, mulai dari harga hingga ketersediaan bahan pokok di lapangan.
Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan sebagian besar harga kebutuhan pokok masih berada pada level yang stabil.
“Alhamdulillah tadi kita berkeliling dan berdialog langsung dengan para pedagang. Secara umum harga bahan pokok stabil, pasokan juga aman, dan aktivitas pembeli masih normal,” ujarnya.
Menurutnya, komoditas yang saat ini masih mengalami fluktuasi harga hanyalah cabai rawit. Namun kenaikan tersebut dinilai masih dalam batas wajar.
“Kalau ada kenaikan hanya sekitar Rp1.500. Selain cabai rawit, komoditas lain relatif stabil,” tambahnya.
Ia juga memastikan pasokan bahan pokok di Pasar Induk Pare diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga periode Lebaran.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih menjelaskan bahwa Pasar Induk Pare merupakan salah satu pusat distribusi bahan pokok terbesar di Kabupaten Kediri sekaligus penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Namun tingginya aktivitas bongkar muat kendaraan besar di area pasar menyebabkan beberapa ruas jalan di dalam pasar mengalami penurunan hingga menimbulkan genangan air.
“Memang ada beberapa titik yang mengalami penurunan sehingga terjadi genangan. Hal ini disebabkan aktivitas bongkar muat kendaraan besar yang cukup tinggi,” jelasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah daerah telah merencanakan perbaikan infrastruktur pasar pada tahun 2026. Selain itu, penataan pedagang lesehan yang selama ini berjualan di pinggir jalan juga akan dilakukan.
Sebagai langkah awal, Disperdag menyiapkan 11 petak los baru berukuran 5 x 4 meter untuk menampung pedagang lesehan yang jumlahnya terus meningkat.
“Jumlah pedagang lesehan awalnya sekitar 50 orang, sekarang hampir 150 pedagang. Mereka akan kami tata secara bertahap agar tidak lagi berjualan di badan jalan,” terang Tutik.
Selain pembangunan los kecil tersebut, Pemkab Kediri juga merencanakan pembangunan los besar untuk pedagang skala besar di area belakang pasar dengan nilai anggaran sekitar Rp3,1 miliar.
Penataan pedagang, lanjut Tutik, akan dilakukan setelah Lebaran agar tidak mengganggu aktivitas perdagangan yang biasanya meningkat menjelang hari raya.
“Kami tidak ingin penataan dilakukan saat pasar sedang ramai karena dikhawatirkan pedagang kehilangan potensi penjualan. Setelah Lebaran baru kami lakukan penataan,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga terus memantau distribusi bahan pokok serta pasokan LPG untuk mengantisipasi gejolak harga maupun kepanikan masyarakat.
“Stok bahan pokok masih surplus. LPG juga terus kami pantau dari tingkat agen hingga pangkalan dan sejauh ini masih aman,” ungkapnya.
Pemkab Kediri pun mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan menjelang Lebaran.
“Belanja secukupnya sesuai kebutuhan dan hindari panic buying agar distribusi tetap stabil,” pungkas Tutik.



