Festival Kali Brantas V Hidupkan Kembali Jejak Budaya Kediri Lewat Drama Kolosal Calon Arang

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di bawah langit Kota Kediri yang menyimpan jejak panjang peradaban, kisah lama kembali menemukan panggungnya. Legenda Calon Arang yang selama ini dikenal sebagai bagian dari kekayaan cerita budaya Nusantara, dihidupkan melalui drama tari kolosal dalam Festival Kali Brantas V Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.

Mengusung tema “Merajut Cinta untuk Melestarikan Eksotika Keberagaman Budaya”, festival budaya tahunan tersebut digelar di halaman Kampus I UNP Kediri, Sabtu (11/7). Tidak hanya menjadi pertunjukan seni, kegiatan ini menjadi bukti bahwa ruang pendidikan mampu menjadi tempat tumbuhnya kreativitas sekaligus benteng pelestarian budaya daerah.

Ratusan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UNP Kediri tampil membawa semangat berbeda. Mereka tidak sekadar menari dan memainkan peran, tetapi menghadirkan kembali kisah budaya yang lahir dari akar sejarah Kediri melalui perpaduan seni, riset, dan kreativitas.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengapresiasi keberlanjutan Festival Kali Brantas yang kini memasuki penyelenggaraan kelima. Menurutnya, mempertahankan sebuah festival budaya secara konsisten bukan perkara mudah, terlebih ketika mahasiswa menjadi bagian utama dalam proses pelaksanaannya.

“Festival ini menjadi ruang belajar, ruang berekspresi, sekaligus ruang berkreasi untuk mengenalkan kembali kekayaan budaya Indonesia, khususnya budaya yang ada di Kota Kediri,” ujar Vinanda.

Ia berharap Festival Kali Brantas terus berkembang menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, seniman, budayawan, komunitas, hingga masyarakat luas. Dengan kolaborasi tersebut, festival ini diharapkan mampu melahirkan karya seni berkualitas sekaligus menanamkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.

Calon Arang, Kisah Lama yang Dihidupkan Generasi Baru

Semangat pelestarian budaya juga mendapat perhatian dari Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Dapil VIII Husnul Arif. Ia menilai langkah UNP Kediri mengangkat cerita Calon Arang menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjaga warisan budaya daerah.

Menurutnya, kisah Calon Arang memiliki akar sejarah kuat di Kediri, meskipun selama ini lebih banyak dikenal melalui berbagai bentuk seni pertunjukan di Bali.

“UNP mengambil peran penting dalam pelestarian budaya. Bagaimana budaya di Jawa Timur, khususnya budaya di Kota Kediri, dapat terus lestari,” katanya.

Ia menegaskan bahwa menjaga budaya bukan hanya tugas satu pihak. Dibutuhkan sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, seniman, dan masyarakat agar warisan budaya tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Dari Mata Kuliah Seni Pertunjukan Menjadi Festival Budaya Nasional

Rektor UNP Kediri Dr. Zainal Afandi, M.Pd., menjelaskan bahwa Festival Kali Brantas berawal dari gelar karya mahasiswa PGSD yang mengikuti mata kuliah Seni Pertunjukan. Sejak 2021, kegiatan tersebut berkembang menjadi agenda budaya tahunan yang mengangkat cerita rakyat serta kesenian asli Kediri.

Sebelum tampil di atas panggung, mahasiswa terlebih dahulu melakukan kajian terhadap cerita rakyat dan tradisi yang berkembang di masyarakat. Hasil penelitian tersebut kemudian diterjemahkan menjadi pertunjukan yang kreatif, komunikatif, dan mudah diterima penonton.

“Kami melakukan riset, kemudian mengemasnya secara kreatif dan menampilkannya dalam Festival Kali Brantas,” jelas Zainal.

Sebanyak kurang lebih 250 mahasiswa PGSD semester enam terlibat langsung dalam berbagai tahapan festival. Mereka tidak hanya menjadi pengisi acara, tetapi juga berperan dalam menyusun konsep, mengelola kepanitiaan, mempersiapkan pertunjukan, hingga tampil sebagai penari.

Drama tari kolosal Calon Arang semakin semarak dengan keterlibatan siswa SD Lab UNP Kediri serta sejumlah sanggar seni di Kota Kediri.

Festival Kali Brantas, Jembatan Antara Pendidikan dan Warisan Budaya

Lebih dari sekadar tugas akademik, Festival Kali Brantas menjadi simbol penghormatan terhadap Sungai Brantas yang memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat Kediri. Festival ini menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus upaya memperkenalkan kembali kisah-kisah budaya daerah kepada masyarakat luas.

“Festival Kali Brantas menjadi ungkapan rasa syukur atas berkah Sungai Brantas sekaligus upaya mengangkat kembali cerita-cerita budaya Kediri agar semakin dikenal masyarakat,” tutur Zainal.

Melalui panggung budaya tersebut, mahasiswa belajar bahwa seni bukan hanya tentang keindahan gerak dan suara, tetapi juga tentang menjaga identitas dan sejarah bangsa.

Festival Kali Brantas V pun menjadi bukti bahwa budaya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu generasi baru untuk merawat, menghidupkan, dan menceritakannya kembali dengan cara yang lebih segar.

Ragam Seni Nusantara Warnai Festival Kali Brantas V

Selain drama tari kolosal Calon Arang sebagai pertunjukan utama, Festival Kali Brantas V juga menghadirkan beragam kesenian Nusantara.

Sejumlah pertunjukan yang memeriahkan acara tersebut antara lain Tari Saman, Tari Tambang Petaka, Tari Kundaran, Tari Bengbeng Wetan, Tari Argya Palla, Barongsai, Tari Lodra, hingga Reog Ponorogo.

Berbagai penampilan tersebut dibawakan mahasiswa bersama sanggar seni dari Kota Kediri dan wilayah sekitarnya. Perpaduan berbagai budaya itu menjadi gambaran bahwa keberagaman bukan sekadar perbedaan, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama.

Festival Kali Brantas V akhirnya tidak hanya meninggalkan tepuk tangan penonton, tetapi juga pesan penting: budaya akan tetap hidup selama ada generasi yang bersedia mencintai dan menjaganya.

jurnalis : Anisa Fadila

✓ Link berhasil disalin