Polres Kediri Kota di Bawah Kepemimpinan AKBP Kresno: Komunikasi, Kolaborasi, dan Secangkir Kopi

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Langkah awal AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si., sebagai Kapolres Kediri Kota tidak dimulai dari balik meja. Ia memilih turun langsung, mengetuk pintu-pintu komunikasi, dan merajut silaturahmi dengan berbagai elemen yang memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Kediri.

Didampingi jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Kediri Kota, Kresno mengawali rangkaian kunjungan dengan menyambangi sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota dan Kabupaten Kediri.

Sejak Senin, sejumlah tempat menjadi tujuan. Mulai dari Balai Kota Kediri, Ketua DPRD, Kejaksaan Negeri Kota dan Kabupaten Kediri, hingga Bupati Kediri.

Bagi Kresno, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda perkenalan sebagai pejabat baru yang menggantikan AKBP Anggi Saputra Ibrahim. Lebih dari itu, silaturahmi menjadi pijakan awal untuk memperkuat kerja bersama lintas institusi.

Ia ingin hubungan yang selama ini terjalin tetap terawat, sekaligus ditingkatkan demi menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang aman serta mendukung pembangunan daerah.

“Sinergitas yang selama ini telah terjalin dengan baik akan terus kami pelihara dan tingkatkan,” kata Kresno.

Ia menegaskan, Polres Kediri Kota siap berjalan beriringan dengan seluruh unsur Forkopimda untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan menjaga situasi kamtibmas tetap aman serta kondusif.

Namun, langkah Kresno tidak berhenti di gedung pemerintahan maupun institusi penegak hukum.

dari Pemerintahan, Langkahnya Berlanjut ke Pesantren

Ulama dan kalangan pesantren menjadi bagian penting dalam rangkaian silaturahmi yang dilakukan Kapolres Kediri Kota tersebut. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Lirboyo.

Pada Selasa, Alumni AKPOL 2006 ini bersama jajaran PJU menyambangi Pondok Pesantren Al Amien. Dalam kunjungan itu, ia bertemu dengan pengasuh pesantren, KH Anwar Iskandar, yang juga merupakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sehari berikutnya, silaturahmi berlanjut ke Pondok Pesantren Wali Barokah.

Rangkaian kunjungan kemudian diteruskan pada Kamis ke Pondok Pesantren Salafiyyah, Bandar Kidul. Di sana, Kresno bertemu KH Abu Bakar Abdul Jalil atau yang akrab disapa Gus Ab, Ketua PCNU Kota Kediri.

Belum berhenti di situ, pada Jumat Kresno bersama rombongan kembali menyambangi lingkungan pesantren. Kali ini, Pondok Pesantren Al Mahrusiyah dan Pondok Pesantren Al Falah Ploso menjadi tujuan.

Deretan kunjungan tersebut memperlihatkan satu pola kepemimpinan yang ingin dibangun Kresno sejak awal: mendekat, mendengar, lalu membangun kerja bersama.

Dalam pertemuan dengan para ulama, pria kelahiran Malang itu menekankan pentingnya menjaga komunikasi antara kepolisian dan tokoh agama.

Menurutnya, sinergi tersebut dibutuhkan untuk menjaga kesejukan sekaligus stabilitas kamtibmas di tengah masyarakat.

Kresno bahkan membuka ruang komunikasi yang lebih cair. Jika suatu saat muncul persoalan berkaitan dengan keamanan dan ketertiban masyarakat, ia mengajak seluruh pihak tidak terburu-buru mengambil langkah sendiri.

Sebaliknya, persoalan dapat dibicarakan bersama untuk mencari jalan keluar terbaik.

“Saya berharap komunikasi dan silaturahmi ini terus terjalin. Apabila sewaktu-waktu ada persoalan berkaitan dengan keamanan dan ketertiban masyarakat, mari kita duduk bersama, berdialog, bahkan sambil ngopi untuk mencari solusi terbaik,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi gambaran pendekatan yang ingin dikedepankan Kresno: keamanan bukan hanya persoalan penegakan hukum, tetapi juga soal komunikasi dan kepercayaan.

Sebab, kepolisian tidak mungkin bekerja sendirian.

Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, ulama, pesantren, dan masyarakat memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi. Ketika seluruh unsur tersebut bergerak dalam satu irama, upaya menciptakan Kediri yang aman, kondusif, dan harmonis akan memiliki fondasi yang lebih kuat.

Rangkaian silaturahmi dalam sepekan pertama kepemimpinannya pun menjadi semacam bab pembuka bagi Kresno di Kediri.

Ia tidak sekadar memperkenalkan diri sebagai Kapolres baru, tetapi juga memperkenalkan cara kerja yang ingin dibangunnya: komunikasi yang terbuka, kolaborasi lintas elemen, serta kedekatan dengan masyarakat.

Dari balai kota hingga ruang-ruang pesantren, dari meja pemerintahan hingga obrolan bersama para ulama, Kresno seolah ingin memastikan satu hal sejak awal masa tugasnya: menjaga keamanan Kediri membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan institusi.

Ia membutuhkan sinergi, kepercayaan, dan kemauan untuk duduk bersama mencari solusi.

 

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan