KEDIRI — Tidak sekadar panggung hiburan, Halal Bihalal dan Reuni Akbar Aliansi Seni Musik Kediri (ASIK) menjelma menjadi ruang konsolidasi pelaku seni. Bertempat di halaman Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, Senin (30/3), musisi lintas genre tampil dalam satu frekuensi: kebersamaan.
Dari dangdut, rock, pop hingga keroncong, seluruhnya melebur tanpa sekat. Lintas generasi pun tampak berpadu—mulai musisi senior hingga talenta muda—menjadi penanda bahwa denyut ekosistem musik Kediri masih terjaga.
Sejumlah penampil turut menghidupkan suasana. Opening Parade Band CLBK (Cah Lokal Band Kediri) membuka panggung, disusul Keroncong Panjalu, Kediri All Star Band, Gambus Cordova, AG Plus (Tribut Koes Plus), hingga ODGJ yang membawakan dangdut jadul.
Kepala Disbudparpora Kota Kediri, Bambang Priyambodo, menyebut kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, menjadi bagian dari penguatan ekosistem seni dalam kerangka Kediri City Tourism.
“Ini wadah bersama. Semua pelaku seni musik kita rangkul, dari generasi lama sampai yang kekinian,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi yang terbangun menjadi modal penting untuk mendorong lahirnya karya berkualitas sekaligus memperluas jangkauan musisi lokal.
Hal senada disampaikan Ketua ASIK, Yudi Agung Nugraha. Ia menilai, momentum ini menjadi bukti bahwa musisi Kediri mampu bersatu di tengah beragam latar belakang aliran musik.
“Kita masih butuh wadah. Lewat ASIK, potensi ini kita dorong supaya Kediri dikenal sebagai kota dengan kekuatan seni,” ungkapnya.
Momentum pasca-Lebaran dimanfaatkan sebagai titik temu lintas generasi. Dari pelajar hingga musisi senior, seluruhnya terlibat dalam satu ruang kolaborasi.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Yudi mengingatkan agar kreativitas tetap menjadi ruh utama.
“Perkembangan zaman tidak bisa dihindari. Tapi kreativitas jangan sampai hilang,” tegasnya.
Seluruh rangkaian acara digelar secara mandiri melalui semangat gotong royong para musisi, dengan dukungan fasilitas dari Disbudparpora Kota Kediri. Kolaborasi ini menjadi sinyal kuat: solidaritas pelaku seni di Kota Kediri masih terjaga, sekaligus menjadi fondasi menuju ekosistem musik yang berkelanjutan.









