KEDIRI – Di balik tetes-tetes minyak jelantah yang selama ini kerap berakhir di saluran pembuangan, tersimpan peluang ekonomi sekaligus harapan bagi lingkungan yang lebih bersih. Gagasan sederhana itu kini diwujudkan Karang Taruna Bismo, Kelurahan Kampung Dalem, Kota Kediri, melalui program penukaran minyak jelantah dengan uang tunai.
Program tersebut mengajak masyarakat mengumpulkan minyak jelantah dari rumah untuk kemudian dijual kepada Karang Taruna. Selain memberikan nilai ekonomi bagi warga, gerakan ini juga bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak bekas secara sembarangan.
Pelaksana kegiatan, Yudi Riyanto, mengatakan program itu berangkat dari kepedulian terhadap persoalan limbah minyak jelantah yang masih sering dibuang ke saluran air. Padahal, limbah tersebut berpotensi menggumpal, menyumbat drainase, dan mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan benar.
“Program ini kami mulai sebagai upaya mengurangi limbah minyak jelantah. Daripada dibuang sembarangan dan mencemari lingkungan, kami membeli minyak jelantah milik warga agar bisa didaur ulang,” ujar Yudi.
Ia menjelaskan, minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan selanjutnya dijual kepada pengepul untuk diproses menjadi bahan bakar alternatif, seperti biosolar. Karang Taruna membeli minyak jelantah dari masyarakat dengan harga Rp5.000 per kilogram, kemudian mengumpulkannya hingga mencapai ratusan kilogram sebelum disalurkan kepada pengepul.
Program yang telah berjalan sekitar satu setengah bulan itu digelar secara rutin setiap hari Rabu. Saat ini, pelaksanaannya masih dipusatkan di Kelurahan Kampung Dalem. Namun sebelumnya, kegiatan serupa juga telah menjangkau sejumlah wilayah lain, seperti Banaran, Ngronggo, Pakelan, dan Pocanan.
Karang Taruna Bismo berharap semakin banyak masyarakat mengetahui keberadaan program tersebut sehingga dapat langsung membawa minyak jelantah dari rumah untuk ditukarkan.
Salah seorang warga Kampung Dalem, Sri Mujiati, mengaku mengetahui program tersebut melalui pihak kelurahan. Selama sekitar satu pekan, ia mengumpulkan minyak jelantah hingga mencapai sekitar 1,8 kilogram sebelum akhirnya ditukarkan.
“Program ini sangat bermanfaat. Minyak jelantah yang biasanya hanya dibuang sekarang ternyata bisa menghasilkan uang. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut karena membantu warga sekaligus menjaga lingkungan,” kata Sri.
Melalui gerakan ini, Karang Taruna Bismo ingin membangun kesadaran bahwa minyak jelantah bukan sekadar limbah rumah tangga. Jika dikelola dengan tepat, minyak bekas dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus berkontribusi mengurangi pencemaran lingkungan.
jurnalis : Navima Aulya Sava



