KEDIRI — Posyandu kini tak lagi sekadar menjadi tempat menimbang balita atau memantau kesehatan ibu dan anak. Di Kelurahan Sukorame, Kota Kediri, Posyandu mulai diarahkan menjadi salah satu pintu awal untuk mendeteksi kebutuhan dan persoalan masyarakat.
Konsep Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang diterapkan di Posyandu Kantil menjadi bagian dari upaya memperluas fungsi pelayanan di tingkat masyarakat. Melalui konsep tersebut, persoalan yang ditemukan di lapangan dapat dicatat dan diteruskan kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk menanganinya.
Enam bidang pelayanan yang terintegrasi mencakup kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum, serta sosial.
Bagi Pemerintah Kelurahan Sukorame, perluasan fungsi Posyandu bukan hanya soal menambah jenis pelayanan. Posyandu diharapkan menjadi ruang yang lebih dekat dan mudah dijangkau masyarakat, termasuk bagi warga yang masih merasa sungkan menyampaikan persoalan secara langsung ke kantor kelurahan.
Lurah Sukorame Ika Ardiyanto mengatakan penerapan Posyandu 6 SPM masih berada pada tahap awal. Karena itu, koordinasi antara berbagai unsur masyarakat dinilai menjadi kunci agar persoalan yang ditemukan dapat segera diteruskan kepada pihak terkait.
“Yang penting bagi saya, ketika semua komponen mulai dari LKK, RT, RW, Posyandu, Karang Taruna, PKK, bisa berkoordinasi dan bersinergi dengan baik, insyaallah bisa dilaksanakan di tiap wilayah,” kata Ika saat ditemui di Sukorame, Selasa (15/9).
Menurut dia, Posyandu memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat. Kedekatan tersebut memungkinkan kebutuhan maupun persoalan warga diketahui lebih awal.
Terlebih, tidak semua warga berani atau nyaman datang langsung ke kantor kelurahan untuk menyampaikan masalah yang dihadapi.
“Posyandu juga bisa menjadi tempat deteksi dini. Ketika ada warga yang sungkan datang ke kelurahan, persoalannya bisa disampaikan di Posyandu untuk kemudian ditindaklanjuti,” ujarnya.
Peran sebagai tempat deteksi dini tersebut berjalan beriringan dengan pelayanan kesehatan. Di Posyandu Kantil, sasaran pelayanan tidak hanya balita, tetapi juga lansia dan kelompok usia lainnya.
Bidan Koordinator Wilayah Sukorame Endrastuti Sulistyo mengatakan Posyandu Kantil memiliki sasaran sebanyak 35 balita dan 110 lansia. Dalam kegiatan yang dimulai sejak pagi, sekitar 80 lansia hadir untuk mendapatkan pelayanan sebelum kegiatan dilanjutkan dengan pelayanan bagi balita.
Penerapan Posyandu 6 SPM juga mengintegrasikan pelayanan yang sebelumnya berjalan melalui Posyandu ILP. Pelayanan kini diarahkan untuk menjangkau seluruh kelompok usia, mulai dari ibu hamil hingga lansia.
Rangkaian pelayanan meliputi pendaftaran, penimbangan, pencatatan, konseling, hingga penyuluhan.
Bagi kelompok lansia, pemeriksaan antara lain mencakup tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari skrining awal untuk mengetahui kondisi kesehatan yang memerlukan tindak lanjut di fasilitas kesehatan.
“Untuk deteksi, Posyandu memang fungsinya sebagai skrining. Kalau penyakit, khususnya di lansia, skrining yang dilakukan masih sederhana. Ada pemeriksaan tensi, kemudian ada gula darah dan pemeriksaan lainnya,” ujar Endrastuti.
Sementara itu, pemantauan terhadap balita dilakukan melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, serta lingkar lengan atas. Data tersebut digunakan untuk melihat pertumbuhan sekaligus mengetahui kondisi status gizi anak.
Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, hasil pemeriksaan kemudian direkap dan dikoordinasikan dengan ahli gizi.
Endrastuti juga mengingatkan pentingnya peran orang tua untuk rutin membawa anak ke Posyandu. Keteraturan tersebut membantu petugas dan kader memantau pertumbuhan serta status gizi anak secara berkala.
“Penting untuk rajin datang ke Posyandu karena penting untuk mengetahui status gizi putra-putrinya,” katanya.
Pemantauan bahkan tidak berhenti ketika kegiatan Posyandu di lokasi selesai. Balita yang tidak hadir tetap menjadi sasaran pemantauan melalui kunjungan kader ke rumah.
“Jadi, setelah kegiatan Posyandu di lokasi selesai, kader langsung melakukan kunjungan kepada yang tidak hadir,” ujar Endrastuti.
Selain pemeriksaan kesehatan, Posyandu Kantil juga menyediakan kelas balita sesuai kelompok usia. Dalam kelas tersebut, orang tua mendapatkan edukasi mengenai tumbuh kembang anak, imunisasi, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI), hingga tahapan perkembangan anak.
Materi edukasi juga memanfaatkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sebagai salah satu acuan dalam memantau perkembangan anak.
Bagi masyarakat, layanan Posyandu yang semakin terintegrasi memberikan manfaat lebih luas. Orang tua tidak hanya dapat mengetahui kondisi kesehatan dan pertumbuhan anak secara rutin, tetapi juga memperoleh pengetahuan untuk mendukung perawatan dan tumbuh kembang anak.
Salah satu warga, Dias Ayu, 23, mengaku rutin membawa kedua anaknya mengikuti kegiatan Posyandu. Menurut dia, layanan tersebut membantu orang tua mengetahui kondisi kesehatan dan perkembangan fisik anak sekaligus mendapatkan edukasi.
“Kalau manfaatnya ya buat masyarakat ngerti kondisi kesehatannya, kondisi fisiknya. Bisa dapat pelajaran juga buat lebih memperhatikan kesehatan,” ujarnya.
Penerapan Posyandu 6 SPM di Kelurahan Sukorame menunjukkan bahwa fungsi Posyandu mulai bergerak lebih luas. Bukan hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan, Posyandu juga diarahkan sebagai ruang untuk mengenali kebutuhan dan persoalan masyarakat sejak dini.
Persoalan yang ditemukan kemudian dapat dicatat dan dikoordinasikan dengan unsur terkait agar mendapatkan tindak lanjut sesuai bidangnya.
Dengan posisi yang dekat dengan kehidupan warga, Posyandu diharapkan mampu memperpendek jarak antara persoalan masyarakat dan pemerintah. Dari meja pelayanan kesehatan, berbagai kebutuhan warga kini diupayakan dapat terdeteksi lebih awal dan diteruskan kepada pihak yang berwenang.
Jurnalis: Anisa Fadila



