KEDIRI — Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) resmi mengakui keabsahan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di bawah kepemimpinan Ketua Umum Dr. Ir. H. Muhammad Taufiq, S.H., M.Sc. Pengakuan tersebut langsung direspons PSHT Jawa Timur dengan memperkuat konsolidasi organisasi dan menghidupkan kembali pembinaan atlet pencak silat di daerah.
Langkah itu diwujudkan melalui kegiatan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) dan Refresh PSHT Jawa Timur yang digelar di Padepokan PSHT Cabang Kota Kediri, Sabtu (16/5). Kegiatan tersebut dihadiri ketua cabang, ketua dewan cabang, hingga warga tingkat II dari seluruh Jawa Timur dengan mengusung tema “Mantap Persaudaraan, Taat Ajaran dan Pertajam Keilmuan PSHT.”
Ketua PSHT Pengprov Jawa Timur, KM M. Dwi Suntoro, menyebut pengakuan legalitas organisasi dari PB IPSI menjadi momentum penting bagi PSHT untuk kembali aktif dalam pembinaan olahraga pencak silat nasional maupun daerah.
Menurutnya, seluruh cabang PSHT di Jawa Timur kini mulai diarahkan kembali masuk dalam struktur kepengurusan IPSI di daerah masing-masing agar dapat berkontribusi terhadap pembinaan atlet dan menjaga kondusivitas organisasi.
“Seluruh cabang diminta ikut masuk ke kepengurusan IPSI di daerah masing-masing agar bisa ikut berkontribusi membangun prestasi dan menciptakan situasi yang kondusif,” ujar Dwi.
Ia menilai selama konflik internal berlangsung, banyak atlet PSHT yang tidak lagi terakomodasi dalam pembinaan prestasi di bawah IPSI. Padahal, PSHT selama ini dikenal sebagai salah satu perguruan pendiri IPSI yang kerap melahirkan atlet-atlet berprestasi.
Karena itu, legalitas organisasi dinilai menjadi pintu penting untuk mengembalikan peran PSHT dalam dunia pencak silat nasional. Dwi menegaskan kepemimpinan Muhammad Taufiq kini telah memiliki kekuatan hukum yang sah.
“Jadi mau tidak mau IPSI cabang maupun KONI harus mengakui keberadaan kita karena secara hukum kita sudah sah,” tegasnya.
Tak hanya fokus pada prestasi, Rakorwil juga menitikberatkan pada penguatan internal organisasi dan pemurnian ajaran PSHT. Seluruh cabang diminta memperbanyak ranting dan rayon, meningkatkan kualitas latihan, serta menghidupkan kembali kegiatan sosial di tengah masyarakat.
Dwi menegaskan PSHT harus kembali dikenal sebagai organisasi persaudaraan yang menjunjung pendidikan karakter, pembinaan mental, dan pengabdian sosial, bukan identik dengan konflik ataupun kekerasan.
Karena itu, anggota PSHT didorong aktif dalam berbagai kegiatan sosial seperti donor darah, pengobatan gratis, santunan, hingga kegiatan lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut, Dwi juga mengapresiasi perkembangan PSHT Cabang Kota Kediri yang dinilai berjalan baik dan tertata di bawah kepemimpinan Sudjoko Adi Poerwanto. Ia menilai kondisi organisasi di Kota Kediri sudah cukup kondusif sehingga penguatan prestasi atlet kini menjadi fokus utama.
Sementara itu, Ketua PSHT Cabang Kota Kediri, Sudjoko Adi Poerwanto, menegaskan pihaknya mendukung penuh langkah organisasi untuk kembali fokus pada penguatan ajaran dan peningkatan prestasi.
Ia memastikan kondisi PSHT di Kota Kediri tetap aman dan kondusif dengan komitmen menjalankan organisasi sesuai aturan yang berlaku.
“Tujuan SH itu hanya dua. Pertama mencari persaudaraan, kedua mendidik manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah,” kata Sudjoko.
Saat ini, PSHT Kota Kediri membina sekitar 700 siswa dan sebanyak 350 siswa dijadwalkan mengikuti pengesahan. Selain latihan rutin, organisasi tersebut juga aktif menjalankan kegiatan sosial seperti pengobatan gratis, santunan anak yatim, dan bantuan sosial bagi masyarakat.
“Hari ini program kerja kita selain melatih dan berlatih juga memulihkan citra PSHT di masyarakat,” pungkasnya.



