Hiasi Langit hingga Dentuman Bass, Festival Layangan dan Mini Sound Horeg di Kediri Curi Perhatian Peserta Luar Kota

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Langit Kelurahan Bujel, Kota Kediri, dipenuhi aneka layangan berwarna-warni, sementara dentuman mini sound horeg menggema dari sudut lapangan. Perpaduan dua hobi yang tengah digandrungi masyarakat itu menyatu dalam Kopi Darat (Kopdar) Festival Layangan dan Mini Sound Horeg, menghadirkan ruang silaturahmi sekaligus panggung kreativitas bagi para penghobi dari berbagai daerah.

Festival yang digelar di Lapangan Kelurahan Bujel tersebut menjadi momentum mempererat hubungan antarkomunitas, mulai dari Karang Taruna Kelurahan Bujel hingga Lembaga Kepemudaan Lingkungan Wonosari. Tak hanya itu, kegiatan ini juga mempertemukan para pecinta layangan dan mini sound horeg dalam suasana penuh keakraban.

Koordinator lomba, Muhammad Aang Fauzi, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang sebagai wadah memperkuat persaudaraan sekaligus memperluas jejaring antar penghobi.

“Tujuan kegiatan ini untuk mempererat silaturahmi antar Karang Taruna Kelurahan Bujel dan Kepemudaan Wonosari, sekaligus mempererat persaudaraan sesama penghobi sound horeg dan layangan,” ujar Aang.

Sebanyak 32 tim mini sound horeg ambil bagian dalam kopdar tersebut, sedangkan 16 peserta mengikuti kompetisi layangan. Para peserta datang dari berbagai wilayah, mulai Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Sidoarjo, Madura, hingga kawasan eks Karesidenan Kediri.

Dalam perlombaan layangan, panitia membagi beberapa kategori, yakni layangan naga, gapangan, layangan jadul, dan layangan unik. Penilaian dilakukan berdasarkan desain, kerapian pengerjaan, hingga kestabilan layangan saat mengudara.

Berbeda dengan lomba layangan, mini sound horeg tidak dipertandingkan. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dalam format kopdar sebagai ajang berbagi pengalaman dan mempererat solidaritas. Meski demikian, panitia tetap memberikan piala dan piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.

Salah satu peserta mini sound horeg asal Nganjuk, Efendi, mengaku telah lima tahun menekuni hobi merakit sound system bersama timnya, Sams Audio. Menjelang tampil, mereka rutin melakukan penataan perangkat, sound check, hingga latihan setiap hari.

Menurutnya, karakter utama perangkat yang dibangun lebih mengutamakan kualitas Sound Pressure Level (SPL) agar menghasilkan suara yang optimal. Untuk merakit satu set mini sound horeg, timnya mengeluarkan biaya sekitar Rp10 juta.

Di sisi lain, kreativitas juga terpancar dari para pembuat layangan. Alfan, peserta kategori gapangan asal Kelurahan Mojoroto, mulai membuat layangan jenis Ram-Raman sejak 2023. Satu karya berukuran sekitar 3,5 meter dengan tinggi 2,5 meter membutuhkan waktu pengerjaan antara dua hingga tiga bulan.

Ia mengaku tantangan terbesar bukan hanya proses pembuatan, tetapi juga mencari bahan baku. Material viber harus didatangkan dari luar kota, sementara bambu diperoleh dari Jombang. Untuk satu layangan, biaya produksi mencapai sekitar Rp500 ribu.

Sementara itu, Candra, warga Dusun Balong, Desa Gogorante, Kabupaten Kediri, telah sembilan tahun menggeluti pembuatan layangan naga secara otodidak. Baginya, jenis naga menjadi karya paling menantang karena membutuhkan ketelitian tinggi pada proses pembuatan motif, menjahit kain parasut, hingga membentuk kepala naga agar tampak hidup.

“Satu layangan naga bisa dikerjakan selama satu hingga lima bulan, tergantung tingkat kesulitannya. Kesulitan terbesar ada saat membuat motif, menjahit, hingga membentuk kepala naga. Biasanya dikerjakan oleh dua orang,” ungkapnya.

Melalui festival ini, panitia berharap kegiatan serupa terus berkembang sebagai ruang positif bagi masyarakat. Tidak hanya menjadi hiburan, Festival Layangan dan Mini Sound Horeg juga diharapkan mampu menjaga semangat gotong royong, mempererat kebersamaan antarkomunitas, serta menjadi wadah lahirnya kreativitas yang terus mengudara, setinggi layangan yang menghiasi langit Kediri.

jurnalis : Radistiya Sadam Inzagi

✓ Link berhasil disalin