Hari Pertama Masuk Sekolah Jadi Momen Istimewa, Para Ayah di Kediri Hadir Membawa Dukungan dan Harapan

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Senin pagi (13/7) menjadi hari yang penuh makna bagi sejumlah keluarga di Kota Kediri. Di balik seragam baru, langkah kecil menuju gerbang sekolah, dan wajah-wajah penuh semangat menyambut tahun ajaran 2026/2027, tersimpan cerita tentang kasih sayang orang tua yang diwujudkan lewat sebuah langkah sederhana: mengantar anak ke sekolah.

Melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah, sejumlah ayah di Kota Kediri memilih meluangkan waktu untuk hadir langsung mendampingi putra-putrinya mengawali perjalanan pendidikan di tahun ajaran baru. Kehadiran mereka bukan sekadar mengantar sampai depan pintu sekolah, tetapi menjadi simbol kedekatan, perhatian, dan dukungan emosional bagi anak.

Suasana hangat itu terlihat di berbagai sekolah di Kota Kediri, salah satunya di SMAN 8 Kediri. Pada hari pertama masuk sekolah yang sekaligus bertepatan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sejumlah orang tua tampak mengiringi langkah anak-anak mereka menuju lingkungan belajar yang baru.

Salah satunya adalah Ahwing Maharaja, warga Kelurahan Kleco, yang mengantar putranya untuk memulai babak baru sebagai siswa kelas X SMAN 8 Kediri.

Bagi Ahwing, perjalanan singkat menuju sekolah memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar aktivitas rutin pagi hari.

“Bagi saya, mengantar anak ke sekolah bukan sekadar mengantar, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat kedekatan antara ayah dan anak,” ujar Ahwing.

Ia mengaku bangga karena putranya berhasil diterima di SMAN 8 Kediri. Sebelum melepas anaknya memasuki lingkungan sekolah baru, Ahwing memberikan pesan sederhana namun penuh makna, terutama agar anak mampu menjaga kedisiplinan dan menghargai waktu.

Menurutnya, kesempatan untuk hadir di hari pertama sekolah menjadi momen yang tidak ingin dilewatkan. Selain mempererat hubungan keluarga, ia juga merasa lebih tenang karena dapat memastikan anak memulai perjalanan sekolah dengan baik.

“Semoga anak saya dapat belajar dengan sungguh-sungguh, menjadi pribadi yang bermanfaat, serta memperoleh kebahagiaan dan keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat,” katanya.

Namun, cerita pendampingan orang tua di hari pertama sekolah tidak selalu datang dari sosok ayah. Bagi sebagian keluarga, peran ibu menjadi kekuatan utama yang terus hadir memberikan dukungan.

Hal itu dirasakan oleh Winarti, warga Kecamatan Pesantren, yang mendampingi anaknya pada awal tahun ajaran baru sebagai seorang ibu sekaligus single parent.

Di tengah kesibukan pekerjaan, Winarti tetap berusaha menyediakan waktu untuk menemani anaknya melewati hari-hari pertama sekolah. Baginya, kehadiran orang tua menjadi bekal penting agar anak merasa lebih percaya diri dan bersemangat menjalani lingkungan baru.

“Khusus pada awal tahun ajaran seperti sekarang saya selalu berusaha meluangkan waktu untuk mendampingi anak agar lebih semangat menjalani hari-hari pertamanya di sekolah,” tuturnya.

Winarti meyakini bahwa perhatian dan dukungan orang tua memiliki peran besar dalam membentuk semangat belajar anak. Meski tidak semua ayah dapat hadir secara langsung, kasih sayang dan dorongan yang diberikan tetap menjadi energi bagi anak untuk berkembang.

Ia berharap anaknya mampu mengejar cita-cita yang selama ini diimpikan, tumbuh menjadi pribadi yang baik, serta menjadi kebanggaan keluarga.

Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah menjadi pengingat bahwa pendidikan anak bukan hanya berlangsung di ruang kelas. Ada peran keluarga yang ikut menguatkan setiap langkah perjalanan mereka.

Sebab terkadang, sebuah perjalanan menuju sekolah bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, melainkan tentang pesan yang terselip di sepanjang jalan: bahwa anak tidak pernah berjalan sendirian.

Melalui gerakan ini, pemerintah mendorong keterlibatan lebih besar dari para orang tua, khususnya ayah, dalam proses tumbuh kembang dan pendidikan anak. Kehadiran orang tua di hari pertama sekolah diharapkan mampu memperkuat komunikasi keluarga, membangun kedekatan emosional, serta memberikan rasa aman dan dukungan positif bagi anak dalam menjalani masa belajar.

Di balik gerbang sekolah yang terbuka pada pagi itu, ada doa-doa yang ikut melangkah. Ada harapan yang diam-diam dititipkan. Dan ada cinta orang tua yang menjadi bekal pertama sebelum anak menapaki jalan panjang menuju masa depan.

Jurnalis: Navima Aulya Sava