KEDIRI — Merah putih berkibar di langit Kota Kediri. Dari halaman Pondok Pesantren Wali Barokah, semangat kemerdekaan kembali digaungkan dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.
Upacara yang berlangsung di halaman Pondok Pesantren Wali Barokah itu diikuti pengurus yayasan, para sesepuh pondok, serta para pelajar SMP-SMA Wali Barokah Boarding School.
Namun, peringatan kemerdekaan kali ini tidak berhenti pada seremoni pengibaran bendera dan penghormatan kepada sang saka Merah Putih. Di hadapan peserta upacara, Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah, KH Sunarto, menyampaikan pesan tentang bagaimana generasi hari ini seharusnya memaknai kemerdekaan.
Menurut dia, 81 tahun kemerdekaan Indonesia merupakan perjalanan panjang yang tidak boleh hanya dikenang, tetapi juga harus diisi dengan tindakan nyata.
Kemerdekaan, kata KH Sunarto, lahir dari pengorbanan para pejuang yang mempertaruhkan jiwa, raga, hingga harta benda demi membebaskan Indonesia dari penjajahan. Karena itu, semangat perjuangan tersebut perlu diwariskan kepada generasi penerus bangsa.
“Melalui peringatan ini, mari kita menaruh rasa hormat dan mewarisi semangat nasionalisme serta patriotisme para pejuang kemerdekaan,” pesan KH Sunarto dalam amanatnya.
Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan anugerah yang harus disyukuri sekaligus tanggung jawab yang mesti dijaga bersama. Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 menjadi titik penting perjalanan bangsa. Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan setelah perjuangan panjang melawan penjajahan.
Delapan dekade lebih kemudian, generasi Indonesia menikmati berbagai hasil pembangunan di banyak bidang. Namun, menurut KH Sunarto, perjalanan sebagai bangsa yang merdeka belum selesai. Masih ada pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian dan kontribusi seluruh elemen masyarakat.
Kemerdekaan Belum Selesai, Masih Ada Persoalan Bangsa
Di balik kemajuan yang telah dicapai selama 81 tahun, KH Sunarto mengajak masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi bangsa. Pengangguran, kemiskinan, kesenjangan sosial hingga persoalan moral, akhlak dan budi pekerti menjadi tantangan yang membutuhkan solusi bersama.
Persoalan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Setiap elemen bangsa memiliki ruang untuk mengambil bagian sesuai kemampuan dan bidang masing-masing. Pesan itu menjadi penting bagi lingkungan pendidikan. Sebab, sekolah dan pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan ruang untuk menyiapkan manusia yang mampu mengambil peran di tengah masyarakat.
“Setiap elemen bangsa berkewajiban memberikan sumbangsih dan berkontribusi dalam memecahkan berbagai persoalan bangsa sesuai kemampuan dan bidang tugas masing-masing,” demikian inti pesan yang disampaikan KH Sunarto.
Bagi generasi muda, kontribusi itu tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Belajar dengan sungguh-sungguh, menaati aturan, menjaga lingkungan, menghormati orang lain, membangun persahabatan dan menghindari tindakan yang merugikan sesama juga merupakan bagian dari cara mengisi kemerdekaan.
“Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur” Bukan Sekadar Tema
Dalam peringatan HUT ke-81 RI tersebut, KH Sunarto juga menyoroti tema “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.” Menurut dia, tema tersebut menggambarkan tekad untuk memperkuat kedaulatan bangsa, memperluas pemerataan kesejahteraan dan menghadirkan rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia di tengah keberagaman Nusantara.
Semangat tersebut, lanjutnya, juga dapat diterapkan dalam lingkungan yang lebih kecil, termasuk di lembaga pendidikan. Di lingkungan pondok pesantren dan sekolah, prinsip kedaulatan, keadilan dan kesetaraan dapat diwujudkan melalui tata kelola lembaga yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan pendidikan.
Lembaga juga diharapkan dapat membangun kerja sama dengan berbagai pihak demi mencapai tujuan bersama. Pada saat yang sama, setiap lembaga pendidikan perlu mendapatkan perlakuan yang setara, adil dan bermartabat tanpa diskriminasi.
Lingkungan pendidikan yang sehat dan adil diyakini akan memberikan dampak positif terhadap proses belajar mengajar, sekaligus menciptakan ruang tumbuh yang aman bagi santri dan siswa.
Santri dan Pelajar Disiapkan Menjadi Generasi Unggul
Di hadapan para santri dan siswa, KH Sunarto memberikan perhatian khusus terhadap masa depan generasi muda. Menurut dia, pesantren dan sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa.
Bukan hanya generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual, kematangan emosional dan karakter yang luhur. Para santri dan pelajar diharapkan mampu menguasai ilmu untuk kehidupan dunia sekaligus memiliki bekal ilmu agama untuk kehidupan akhirat.
Mereka juga didorong untuk memahami dan mempraktikkan 29 karakter luhur dalam kehidupan sehari-hari. Karakter tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi yang profesional sekaligus religius.
“Generasi penerus harus memiliki kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional,” menjadi salah satu penekanan KH Sunarto dalam amanatnya.
Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kecerdasan tanpa karakter dapat kehilangan arah. Sebaliknya, karakter yang kuat membutuhkan pengetahuan agar dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.
Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengejar nilai akademik. Ada sikap yang harus dibangun, kebiasaan yang harus dilatih dan nilai-nilai yang harus dijaga.
Jangan Bullying, Bangun Kebersamaan
Salah satu pesan yang secara khusus disampaikan KH Sunarto kepada para santri dan siswa adalah pentingnya membangun kehidupan yang disiplin, rukun dan saling menghargai. Ia mendorong para pelajar untuk memiliki semangat tinggi dalam mencari ilmu, menaati peraturan perundang-undangan serta mematuhi tata tertib lembaga pendidikan.
Sikap sopan santun juga harus menjadi bag ian dari kehidupan sehari-hari. Para siswa dan santri diingatkan untuk menjaga kekompakan, membangun kerja sama dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan.
Yang tidak kalah penting, KH Sunarto mengingatkan agar tidak terjadi perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan. Pesannya sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam: teman bukan lawan, sekolah bukan arena untuk saling menjatuhkan.
Lingkungan pendidikan seharusnya menjadi tempat setiap anak merasa aman untuk belajar, bertumbuh dan mengembangkan potensi. Karena itu, kebersihan dan kesehatan lingkungan juga harus menjadi perhatian bersama.
Menjaga kebersihan, menerapkan pola hidup sehat dan menciptakan suasana belajar yang nyaman merupakan bagian dari tanggung jawab seluruh warga lembaga pendidikan.
Sekolah dan Pesantren Harus Menjadi Ruang yang Aman
Bagi KH Sunarto, pondok pesantren dan sekolah merupakan rumah bersama bagi mereka yang sedang menuntut ilmu. Karena itu, nama baik lembaga harus dijaga. Tidak boleh ada tindakan tercela yang mencoreng kehormatan lingkungan pendidikan.
Lebih dari itu, sekolah dan pesantren diharapkan menjadi ruang yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi seluruh warga pendidikan. Sebab, di tempat inilah masa depan sedang dipersiapkan.
Di ruang kelas, asrama, halaman sekolah hingga lingkungan pesantren, anak-anak bangsa sedang belajar tentang ilmu pengetahuan sekaligus kehidupan. Mereka bukan hanya dipersiapkan untuk lulus dari sekolah, tetapi juga untuk menghadapi dunia yang jauh lebih luas.
Mereka akan menjadi bagian dari masyarakat dan pada waktunya menjadi generasi yang menentukan arah perjalanan bangsa. Karena itu, menjaga lingkungan pendidikan sesungguhnya juga merupakan bagian dari menjaga masa depan Indonesia.
Mengisi Kemerdekaan dengan Hal-Hal Sederhana
Pesan KH Sunarto dalam peringatan HUT ke-81 RI tersebut pada akhirnya bermuara pada satu gagasan besar: kemerdekaan harus diisi. Mengisi kemerdekaan tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang heroik sebagaimana para pejuang di masa lalu.
Bagi generasi muda, perjuangan hari ini dapat hadir dalam bentuk yang lebih sederhana. Belajar dengan tekun adalah perjuangan.
Menjaga akhlak adalah perjuangan.
Menghormati guru dan orang tua adalah perjuangan.
Menolak bullying adalah perjuangan, Menjaga persaudaraan adalah perjuangan.
Mematuhi aturan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan juga merupakan bagian dari perjuangan.
Jika para pahlawan terdahulu berjuang merebut kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa dan raga, maka generasi sekarang memiliki tugas untuk menjaga dan mengisinya dengan prestasi, ilmu pengetahuan, karakter serta pengabdian kepada masyarakat.
Merah putih yang berkibar di halaman Pondok Pesantren Wali Barokah pun seakan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan sekadar tanggal yang berulang setiap tahun. Ia adalah amanah yang harus diteruskan.
Doa dan Ikhtiar untuk Masa Depan Indonesia
KH Sunarto menutup amanatnya dengan optimisme.Ia mengajak seluruh peserta upacara untuk terus berikhtiar dengan sungguh-sungguh, disertai doa dan tawakal kepada Allah SWT. Harapan terhadap masa depan bangsa, menurutnya, harus dibangun dengan kerja nyata.
Bukan hanya dengan kata-kata. Dari halaman Pondok Pesantren Wali Barokah, pesan kemerdekaan itu pun kembali menggema: menjadi warga negara yang baik, berilmu, berakhlak dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Sebab, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, tugas generasi penerus bukan hanya mengenang bagaimana para pendahulu merebut kemerdekaan. Tugas yang lebih besar adalah memastikan kemerdekaan itu menghadirkan kehidupan yang semakin baik, adil, bermartabat dan penuh harapan.
Ketika sang saka Merah Putih berkibar, ada sejarah yang dikenang. Namun di balik kibarnya, ada masa depan yang sedang dipertaruhkan. Dan masa depan itu kini berada di tangan generasi yang sedang belajar.
Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka!



