Disambut Bak Pahlawan, Siswa SMK Kediri Peraih Emas LKS Nasional Banjir Apresiasi

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Tepuk tangan bergemuruh, iringan hadrah mengalun, bendera berkibar, dan konfeti beterbangan menyambut kepulangan Moh Hamzah Rizqi di SMK Kartanegara Wates, Kabupaten Kediri, Senin (3/8). Sambutan bak pahlawan itu menjadi simbol penghormatan atas perjuangan panjang yang mengantarkannya meraih medali emas Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Pendidikan Menengah (Dikmen) Tingkat Nasional ke-34 Tahun 2026 pada cabang Welding.

Suasana haru dan bangga menyelimuti halaman sekolah. Ratusan siswa, jajaran yayasan, komite sekolah, dewan guru, hingga keluarga menyambut Hamzah yang datang didampingi sang ibu dan guru pembimbing. Prestasi tersebut tidak hanya mengharumkan nama SMK Kartanegara Wates, tetapi juga Kabupaten Kediri dan Provinsi Jawa Timur di tingkat nasional.

Keberhasilan Hamzah bukan diraih dalam semalam. Ia harus melewati seleksi berjenjang mulai dari tingkat sekolah, kabupaten, hingga provinsi sebelum dipercaya menjadi wakil Jawa Timur pada ajang nasional. Di kompetisi tersebut, Hamzah berhasil mengungguli 32 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia dan membawa pulang medali emas.

Mewakili Ketua Yayasan Pendidikan Kartanegara, Wakil Ketua Yayasan Kartanegara, Drs. H. Abdul Munawar, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi Hamzah menjadi bukti bahwa SMK Kartanegara Wates mampu bersaing dan tampil sebagai yang terbaik di tingkat nasional.

Kepala SMK Kartanegara Wates, Pujiono, S.Pd., mengatakan keberhasilan itu merupakan buah dari proses panjang yang dibangun melalui disiplin, kerja keras, latihan berkelanjutan, serta komitmen seluruh pihak dalam mendukung pengembangan potensi siswa.

“Prestasi tidak datang secara instan. Semua lahir dari disiplin, kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan latihan yang dilakukan secara konsisten,” ujar Pujiono.

Ia menjelaskan budaya berlatih terus ditanamkan kepada seluruh siswa sebagai fondasi mencetak prestasi. Sekolah bersama yayasan juga memberikan berbagai bentuk dukungan, mulai dari pembebasan biaya SPP bagi siswa berprestasi hingga peningkatan fasilitas praktik melalui pengembangan bengkel dan laboratorium Jurusan Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam.

“Kami memfasilitasi apa yang dibutuhkan siswa. Sarana dan prasarana yang diperlukan kami siapkan,” katanya.

Di balik keberhasilan tersebut, doa dan dukungan keluarga menjadi kekuatan yang tak pernah padam. Sang ibu, Khusnul Khotimah, mengaku bangga melihat putranya mampu mengharumkan nama keluarga sekaligus sekolah. Ia menilai perkembangan Hamzah tidak lepas dari bimbingan para guru serta fasilitas belajar yang mendukung minatnya di bidang pengelasan.

“Saya sangat senang sekali. Mudah-mudahan ini membawa berkah untuk kita semua dan bisa membawa nama baik keluarga maupun sekolah,” tuturnya.

Menjelang LKS Nasional, Hamzah menjalani latihan intensif selama tiga bulan. Setiap hari ia mengasah keterampilan, mengevaluasi hasil pekerjaannya, serta memperdalam berbagai teknik pengelasan untuk menghadapi persaingan dengan peserta terbaik dari seluruh Indonesia.

Ujian datang saat perlombaan berlangsung. Material yang digunakan mengalami perubahan dari yang telah dipersiapkan selama latihan. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Hamzah kehilangan konsentrasi. Ia memilih cepat beradaptasi, memaksimalkan material yang tersedia, dan menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan dengan cermat hingga kompetisi usai.

Kemampuan menjaga fokus di tengah tekanan akhirnya menjadi salah satu kunci yang mengantarkannya berdiri di podium tertinggi.

Atas prestasi itu, Hamzah juga menerima penghargaan sebesar Rp10 juta dari Gubernur Jawa Timur yang diserahkan pada penutupan LKS Nasional sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilannya mengharumkan nama daerah.

“Tentu penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi saya, dan semoga juga menjadi motivasi bagi teman-teman semua untuk terus berprestasi,” ujar Hamzah.

Kepulangan Hamzah menjadi lebih dari sekadar perayaan kemenangan. Ia menjadi pengingat bahwa kerja keras, disiplin, ketekunan, dan keberanian menghadapi tantangan mampu mengubah impian menjadi kenyataan. Medali emas yang dibawanya kini bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga dan sekolah, tetapi juga diharapkan menjadi pemantik lahirnya generasi juara berikutnya dari SMK Kartanegara Wates pada ajang LKS di masa mendatang.

Jurnalis: Anisa Fadila