“Awalnya Tak Curiga, Tapi Teman-teman Juga Sakit” Kesaksian Siswa di Kediri Diduga Keracunan MBG

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kediri menyisakan cerita pahit bagi para korban. Sejumlah siswa mengaku mengalami mual, muntah, diare, hingga demam tak lama setelah menyantap makanan yang dibagikan di sekolah.

Salah satu korban, siswi berinisial CK, mengungkapkan gejala mulai muncul pada Jumat malam. Awalnya ia merasakan pusing dan mual sebelum akhirnya muntah hingga empat kali. Kondisinya terus memburuk hingga disertai demam.

Meski belum pulih sepenuhnya, CK tetap berangkat ke sekolah keesokan harinya. Namun sepulang sekolah, keluhan kembali muncul. Ia kembali mengalami demam dan muntah, kemudian pada dini hari sekitar pukul 02.30 WIB mengalami diare sebanyak dua kali yang disertai nyeri perut.

Pada Minggu pagi, keluarganya memutuskan membawa CK berobat ke dokter. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyampaikan bahwa terdapat pasien lain dari sekolah yang sama dengan keluhan serupa.

“Awalnya saya dan keluarga tidak langsung menduga karena makanan MBG. Tapi setelah tahu banyak teman mengalami gejala yang sama setelah makan menu yang sama, kami mulai menduga ada kaitannya,” ujar CK.

CK menyebut menu MBG yang dibagikan pada Kamis terdiri atas nasi, tahu goreng, telur berbumbu, sayur kacang panjang dan wortel, serta anggur hijau. Ia mengaku hanya mengonsumsi nasi, tahu goreng, dan telur. Sementara pada Jumat, sekolah membagikan roti tawar, katsu mayo, kacang edamame, timun, selada, tomat, dan jeruk.

Saat ini kondisi CK mulai membaik setelah menjalani pengobatan. Meski demikian, ia mengaku belum menerima bantuan maupun bentuk pendampingan dari pihak sekolah, pemerintah, ataupun penyelenggara program MBG.

Kesaksian serupa disampaikan korban lain berinisial BPK. Ia mengaku mulai merasakan mual saat masih berada di sekolah pada Kamis, tidak lama setelah mengonsumsi menu MBG sekitar pukul 09.15 WIB.

Sekitar pukul 11.00 WIB, rasa mual semakin terasa hingga akhirnya ia muntah saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Kondisinya terus memburuk pada malam hari dengan diare sebanyak empat hingga lima kali dalam waktu berdekatan, sehingga keluarganya segera membawanya berobat.

Kondisi BPK sempat membaik pada Jumat. Namun setelah kembali mengikuti kegiatan belajar pada Sabtu, ia kembali mengalami mual dan muntah. Pada Senin pagi, ia menjalani pemeriksaan di puskesmas.

“Di puskesmas saya diberi tahu sudah banyak siswa lain yang datang dengan keluhan yang sama. Lalu saya diberi obat untuk diminum di rumah,” ungkapnya.

Keluarga BPK mengaku semula mengira keluhan tersebut disebabkan kelelahan. Namun setelah mengetahui banyak siswa lain mengalami gejala serupa, mereka mulai menduga ada kaitan dengan menu MBG yang dikonsumsi bersama di sekolah.

Hingga kini, BPK juga mengaku belum menerima bantuan maupun bentuk pertanggungjawaban dari pihak terkait. Menurutnya, pihak sekolah baru sebatas melakukan pendataan terhadap siswa yang mengalami keluhan.

Saat menjalani pemeriksaan di puskesmas, BPK juga bertemu sejumlah siswa lain dengan gejala serupa. Orang tuanya berharap ke depan pihak puskesmas dapat dilibatkan dalam pengawasan pelaksanaan program MBG sebagai bentuk kolaborasi bersama tenaga gizi agar persoalan kesehatan dapat lebih cepat terdeteksi dan dievaluasi.

Selain itu, keluarga korban meminta instansi terkait, termasuk aparat kepolisian, melakukan penyelidikan menyeluruh untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Kami berharap instansi terkait, termasuk kepolisian, turun langsung memeriksa agar penyebabnya diketahui dengan jelas sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujar orang tua BPK.

 

jurnalis : Navima Aulya Sava