KEDIRI – Galar bambu dan tikar pandan pernah menjadi bagian sunyi dari masa kecil Drs. Lukijan. Dari ruang hidup yang sederhana itu, tumbuh seorang anak desa asal Tuban yang kini dipercaya memimpin salah satu sekolah unggulan di Kota Kediri, SMAN 2 Kediri.
Lukijan resmi mengemban amanah sebagai Kepala SMAN 2 Kediri pada 8 Juni 2026. Di sekolah barunya, ia tidak datang membawa janji besar yang riuh. Ia memilih jalan yang lebih tenang: menjaga yang sudah baik, lalu meningkatkannya melalui kerja nyata.
Salah satu langkah awal yang ia dorong adalah program Paru Lebar, akronim dari Pantau Guru Lewat Barcode. Program ini diarahkan untuk memastikan proses pembelajaran di kelas berjalan lebih efektif, terukur, dan benar-benar memberi dampak bagi siswa.
“Saya ingin memastikan waktu belajar benar-benar dimanfaatkan secara maksimal sehingga hasil pembelajaran dapat dirasakan siswa secara nyata,” ujar Lukijan saat dikonfirmasi, Kamis (11/6).
Perjalanan Lukijan menuju dunia pendidikan bukan lahir dari kemudahan. Ia tumbuh di Tuban dalam keluarga sederhana. Sejak kecil, ia dibesarkan oleh ibu tunggal yang berjuang mencukupi kebutuhan keluarga.
Saat anak-anak seusianya menikmati masa bermain, Lukijan sudah belajar kerasnya kehidupan. Ketika masih duduk di bangku SMP, ia membantu ibunya berdagang hasil bumi dari desa ke desa. Ia juga memelihara ayam kampung untuk menambah penghasilan.
Selepas SMP, Lukijan melanjutkan pendidikan ke SPG Negeri Tuban. Cita-citanya sederhana sekaligus mulia: menjadi guru. Berkat prestasi akademik dan kondisi ekonomi keluarga, ia mendapat bantuan pendidikan dari negara hingga lulus.
“Jadi selama sekolah, alhamdulillah saya mendapat bantuan dari negara karena kondisi keluarga dan kebetulan nilai saya juga selalu bagus di sekolah,” katanya.
Namun, beasiswa tidak serta-merta membuat hidupnya mudah. Sebagai pelajar perantauan, ia terbiasa hidup prihatin. Lauk sambal, kos sederhana, galar bambu, dan tikar pandan menjadi bagian dari hari-hari yang membentuk ketabahannya.
“Tapi ya heran, dari kondisi seperti itu ternyata lahir orang-orang yang sekarang berhasil,” kenangnya.
Setelah lulus SPG, api belajar dalam dirinya belum padam. Lukijan melanjutkan pendidikan ke IKIP Surabaya, yang kini menjadi Universitas Negeri Surabaya atau UNESA. Untuk bertahan hidup di kota besar, ia bekerja sambilan sebagai guru les, membantu usaha katering, hingga menjalani pekerjaan lain.
Dari jalan panjang itu, Lukijan memetik prinsip hidup yang terus ia pegang sampai kini.
“Prinsip hidup saya sederhana, jangan serakah,” ujarnya.
Prinsip tersebut ia bawa saat memulai karier sebagai guru PPKn di SMA Negeri 1 Singgahan, Tuban, sejak 1994. Selama sekitar 18 tahun, ia mengabdi sebagai guru sebelum akhirnya mendapat amanah menjadi kepala sekolah pada 2012.
Karier kepemimpinannya dimulai dari SMA Negeri 1 Rengel, lalu berlanjut ke SMA Negeri 1 Bangilan. Pada 2019, ia dipercaya memimpin SMA Negeri 1 Kandat, kemudian SMA Negeri 7 Kediri, hingga akhirnya menakhodai SMAN 2 Kediri.
Dengan pengalaman lebih dari 14 tahun sebagai kepala sekolah, Lukijan memandang kepemimpinan bukan sebagai panggung untuk berjanji. Baginya, jabatan adalah amanah yang harus dijawab dengan keteladanan.
“Saya selalu berpegang pada prinsip, jangan membenarkan yang biasa, tetapi biasakan yang benar,” tegasnya.
Di SMAN 2 Kediri, Lukijan ingin memperkuat kualitas pembelajaran dan karakter siswa. Ia menilai keberhasilan sekolah tidak cukup diukur dari nama besar atau fasilitas, tetapi dari proses belajar yang hidup di kelas dan manfaat yang dirasakan peserta didik.
Ia juga menaruh perhatian pada kesiapan generasi muda menghadapi masa depan. Menurutnya, menuju Indonesia Emas 2045, kecerdasan harus berjalan bersama etika, ketangguhan, dan kemampuan menghadapi masalah.
“Karakter tidak bisa ditawar. Anak-anak harus memiliki etika, norma, kemampuan menghadapi masalah, dan ketahanan hidup yang kuat,” katanya.
Menjelang masa pensiun, Lukijan tidak ingin menutup pengabdian dengan gemuruh janji. Ia hanya berharap dapat meninggalkan jejak kebaikan bagi sekolah, guru, dan siswa.
Dari tikar pandan hingga ruang kepala sekolah, perjalanan Lukijan menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan akhir cerita. Kadang, justru dari lantai paling sederhana, lahir tekad yang mampu membawa seseorang berdiri di tempat yang lebih tinggi.



