KEDIRI – Bayangkan berjalan kaki hingga lima kilometer setiap hari di bawah terik matahari Arab Saudi — itulah gambaran nyata ibadah haji yang harus dihadapi ratusan calon jemaah haji (CJH) asal Kota Kediri tahun ini. Karena itulah, Dinas Kesehatan Kota Kediri mengingatkan dengan tegas: mulailah berjalan kaki dari sekarang, atau risiko kelelahan dan dehidrasi mengintai di Tanah Suci.
Imbauan keras itu disampaikan dalam kegiatan surveilans dan pembinaan kesehatan jemaah di Hotel Lotus Garden, Kediri, Senin (27/4/2026) — sebuah pembekalan akhir sebelum 281 calon jemaah bertolak menunaikan rukun Islam kelima.
Dari total 284 CJH yang terdaftar, tiga orang dipastikan tidak bisa berangkat tahun ini. Satu jemaah dilaporkan telah meninggal dunia, sementara sepasang suami istri memilih menunda keberangkatan karena kondisi kesehatan sang suami yang mengalami stroke. Sang istri pun memilih setia mendampingi, mengurbankan kesempatan berhaji demi sang belahan jiwa.
Di hadapan para calon jemaah, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menyampaikan pesan yang langsung menghujam hati. Ia menegaskan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik biasa, melainkan perjalanan spiritual yang menuntut kesiapan lahir dan batin secara menyeluruh.
“Harus saling menjaga. Jangan sampai berangkat 281 orang, tetapi pulangnya berkurang,” tegasnya, disambut hening penuh makna oleh para peserta.
Vinanda juga menekankan pentingnya kedisiplinan selama beribadah, aktif berkomunikasi dengan petugas haji, serta mempererat kebersamaan antarsesama jemaah agar tak ada yang tertinggal atau tersesat di negeri orang.
Pemerintah Kota Kediri tidak melepas jemaah begitu saja. Sekitar lima petugas haji disiapkan untuk mendampingi selama di Tanah Suci, terdiri dari dua dokter, satu perawat, dan tenaga pendamping lainnya yang akan mengawal aspek kesehatan maupun kepatuhan ibadah jemaah.
Kunci Utama: Rajin Jalan Kaki Sebelum Berangkat
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr. Hamida, Sp.P., mengungkapkan bahwa sejumlah jemaah masuk dalam kategori risiko tinggi, yakni mereka yang menderita hipertensi, diabetes mellitus, dan hiperlipidemia. Jemaah dalam kategori ini akan dipakaikan gelang khusus sebagai penanda agar lebih mudah dipantau petugas kesehatan selama ibadah berlangsung.
“Kemudian untuk jemaah berisiko tinggi nanti biasanya dipakai gelang, dan tentunya berada di bawah pengawasan petugas kesehatan di sana,” jelasnya.
Para jemaah risiko tinggi diminta ekstra disiplin: jaga pola makan, jangan absen minum obat, dan selalu bawa obat-obatan pribadi dalam kondisi cukup.
Satu pesan yang paling digarisbawahi dr. Hamida adalah soal kebiasaan berjalan kaki. Jarak dari pemondokan (maktab) ke masjid di Arab Saudi bisa mencapai sekitar lima kilometer — dan itu bukan sekali dua kali, melainkan hampir setiap hari selama puncak ibadah.
“Jadi mulai sekarang belajar jalan pagi. Karena di sana ibadahnya banyak berjalan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan jemaah, khususnya lansia, agar tidak memaksakan diri dan selalu menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan fisik masing-masing demi menghindari dehidrasi dan kelelahan ekstrem.
Kegiatan pembekalan juga diisi materi dari Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Kediri, Basyarudin, S.Pd., M.Pd., yang membahas tata cara ibadah dan persiapan spiritual, serta dr. Maya Hapsari dari PKHK Kota Kediri yang memaparkan manajemen kesehatan haji secara mandiri.
Dengan bekal fisik, spiritual, dan pengetahuan yang matang, seluruh calon jemaah haji Kota Kediri diharapkan dapat melaksanakan ibadah dengan lancar dan kembali ke Tanah Air dalam keadaan selamat, sehat, dan lengkap.









