KEDIRI – Di atas lahan seluas 76.000 meter persegi di Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, sebuah mimpi besar sedang berpacu dengan waktu. Sekolah Rakyat — proyek strategis nasional (PSN) yang digagas langsung oleh Presiden Prabowo Subianto — kini telah menuntaskan hampir separuh proses pembangunannya, dan namanya sudah tercatat sebagai yang terbaik di antara sekitar 91 titik pembangunan serupa di seluruh Indonesia.
Hingga akhir April 2026, realisasi fisik Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri telah menyentuh angka sekitar 47 persen. Operasional Manager PT Nindya Karya, Marantika Sugiarto, menjelaskan bahwa angka tersebut terdiri dari progres terlapor 42,9 persen ditambah sekitar 3 persen pekerjaan yang belum tertagihkan secara administratif.
“Secara riil di lapangan, progres kami sudah di kisaran 46 sampai 47 persen. Namun yang tercatat secara administratif per kemarin masih sekitar 43 persen,” ungkapnya saat ditemui langsung di lokasi proyek, Senin (27/4/2026).
Capaian ini bukan sekadar angka. Dari seluruh titik pembangunan Sekolah Rakyat di Indonesia, proyek Kediri masuk dalam klaster satu — kategori dengan progres terbaik secara nasional.
“Penilaiannya berdasarkan laporan perkembangan pekerjaan. Kami masuk klaster satu, artinya progres kami termasuk yang paling baik secara nasional,” ujar Engineering Manager proyek, Gede Samaweda, dengan nada penuh keyakinan.
Waktu terus berjalan. Target penyelesaian ditetapkan pada 20 Juni 2026, dengan sisa pengerjaan tinggal sekitar 57 hari. Pasalnya, secara nasional Sekolah Rakyat direncanakan mulai menerima siswa pada awal Juli — dan tidak ada ruang untuk mundur.
“Secara moral dan komitmen, kami diminta menyelesaikan sebelum 20 Juni. Artinya, dalam waktu kurang dari dua bulan ini, seluruh bangunan dan sistem sudah harus siap digunakan,” kata Marantika.
Untuk menjaga tempo, tim kontraktor melakukan evaluasi produktivitas secara ketat — bahkan hingga level harian — guna memastikan tidak ada hambatan yang dibiarkan berlarut.
Bukan Sekolah Biasa: Dari Lapangan Bola hingga Guest House
Yang membuat Sekolah Rakyat Kediri ini beda dari sekolah pada umumnya adalah kelengkapan fasilitasnya yang dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu berbasis asrama. Di dalamnya terdapat tiga jenjang pendidikan sekaligus: SD, SMP, dan SMA — dalam satu kompleks terintegrasi.
Gede merinci fasilitas yang tengah dibangun: tiga gedung utama untuk masing-masing jenjang, satu gedung serbaguna, masjid, dan gedung ibadah. Tak berhenti di situ — tersedia pula 10 gedung asrama, terdiri dari 8 untuk siswa dan 2 untuk guru, dilengkapi kamar tidur, kamar mandi, ruang belajar, hingga ruang pengasuh.
Fasilitas pendukung lainnya meliputi tiga kantin terpisah, dapur umum, gudang, rumah pompa, genset, pos keamanan, hingga guest house dua lantai khusus untuk tamu atau wali murid yang datang berkunjung.
Di sisi olahraga, tersedia lapangan sepak bola dengan jogging track, lapangan basket, lapangan voli, dan berbagai area olahraga lainnya. Dengan kapasitas sekitar 40 rombongan belajar, sekolah ini diproyeksikan mampu menampung hingga 1.080 siswa — seluruhnya tinggal di asrama secara gratis.
Salah satu keunggulan lokasi Plosoklaten dibanding titik lain di Indonesia adalah kontur lahannya yang relatif datar dan berbentuk persegi panjang, sehingga mobilisasi alat berat lebih mudah dan pekerjaan konstruksi bisa dipercepat.
“Lahannya relatif datar dan berbentuk persegi panjang, sehingga memudahkan mobilisasi alat berat dan percepatan pekerjaan,” ujar Gede.
Meski demikian, proyek ini tak luput dari tantangan — mulai dari akses jalan yang terbatas untuk kendaraan besar hingga dinamika geopolitik global yang memengaruhi harga dan ketersediaan material. Namun Marantika memastikan semua masih terkendali dan tidak berdampak signifikan terhadap progres.
Warga Lokal Jadi Tulang Punggung Pembangunan
Di balik cepatnya progres pembangunan, ada peran besar warga sekitar. Dari sekitar 780 pekerja aktif di lapangan, sebagian besar merupakan tenaga kerja lokal. Bahkan untuk sektor keamanan dan tenaga harian, seluruhnya direkrut dari warga setempat.
“Sejak awal kami sudah melibatkan tenaga lokal, bahkan melebihi batas minimal yang disarankan. Ini bisa diverifikasi langsung melalui data di lapangan,” tegas Marantika.
Dari sisi pendanaan, proyek ini berjalan dengan skema termin sesuai progres dan disebut berjalan lancar. Yang membuat proyek ini berada dalam tekanan pengawasan tertinggi: laporannya langsung bermuara ke meja Presiden Prabowo.
“Secara pelaporan, proyek ini langsung berada di meja Presiden. Jadi dari sisi pendanaan maupun kontrol, semuanya berjalan ketat dan terukur,” pungkas Marantika.
Kehadiran Sekolah Rakyat di Kediri diharapkan menjadi tonggak pendidikan inklusif bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu — sekaligus model nyata pemerataan akses pendidikan berkualitas yang selama ini hanya bisa diimpikan.









