KEDIRI — Bulan Ramadan dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat sinergi antara ulama dan umara dalam menjaga kondusivitas Kota Kediri. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan silaturahmi yang mempertemukan Forkopimda dengan para alim ulama serta pengurus Nahdlatul Ulama (NU) se-Kota Kediri di Gedung Serba Guna PCNU Kota Kediri, Kamis (12/3).
Pertemuan yang berlangsung pada 23 Ramadan 1447 Hijriah itu menjadi ajang mempererat kebersamaan antara pemerintah daerah, tokoh agama, serta berbagai elemen masyarakat.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menyampaikan bahwa Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai pengendalian diri dalam kehidupan sosial. Ia menilai sikap menahan emosi, mengendalikan ego, serta tidak merasa paling benar sangat penting di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial masyarakat.
“Saya meyakini, ketika ulama, umara, dan seluruh elemen masyarakat dapat duduk bersama seperti hari ini, Insyaallah Kota Kediri akan selalu berada dalam keadaan aman dan kondusif,” ujarnya.
Menurut Vinanda, hubungan harmonis antara pemerintah dan tokoh agama merupakan modal sosial yang sangat penting dalam menjaga ketenteraman masyarakat. Ia pun berharap sinergi tersebut terus terjalin dengan baik, terlebih menjelang Hari Raya Idulfitri yang tinggal beberapa hari lagi.
Ia juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban kota, terutama saat puncak arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Selain itu, masyarakat diimbau merayakan malam takbiran secara tertib serta tetap menjaga kebersihan lingkungan agar suasana Idulfitri berlangsung nyaman dan penuh kebahagiaan.
Hal senada disampaikan Ketua PCNU Kota Kediri, KH Abu Bakar Abdul Jalil, yang akrab disapa Gus Ab. Ia menilai pertemuan antara pemerintah, ulama, dan berbagai unsur masyarakat merupakan langkah penting dalam memperkuat persatuan di Kota Kediri.
Menurutnya, menjaga stabilitas keamanan tidak hanya menjadi tugas aparat seperti polisi dan TNI, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat.
“Menjaga stabilitas tidak cukup hanya ditangani oleh polisi atau tentara. Peran masyarakat sangat penting. Istilahnya seperti yang sering disebut ‘jogo desa’, itu sangat berpengaruh dalam menjaga keamanan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya dihadiri para alim ulama dari NU, tetapi juga melibatkan perwakilan Muhammadiyah, LDII, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan kebinekaan yang menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan di Kota Kediri.
Dalam kesempatan itu, Gus Ab juga menegaskan bahwa ulama memiliki peran penting dalam memberikan nasihat serta nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat. Sementara itu, pelaksanaan kebijakan dan penegakan aturan tetap menjadi tanggung jawab pemerintah.
Selain sebagai ajang silaturahmi, PCNU Kota Kediri juga memanfaatkan momentum Ramadan untuk menjalankan berbagai program sosial dan keagamaan. Melalui Lembaga Falakiyah, misalnya, digelar pembelajaran ilmu astronomi Islam. Sementara Lazisnu menjalankan program pengelolaan zakat fitrah dan zakat mal serta kegiatan berbagi kepada masyarakat.
Rangkaian kegiatan silaturahmi tersebut kemudian dilanjutkan dengan tausiyah oleh KH Reza Ahmad Zahid atau Gus Reza, sebelum ditutup dengan salat Magrib berjamaah dan buka puasa bersama.



