57 Barongan Berkumpul di Kediri, Jejak Seni Masa Lalu Bertemu Kreativitas Generasi Kini

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Wajah-wajah barongan dengan rupa yang beragam seolah membawa potongan cerita dari masa lalu ke tengah Gedung Bhagawanta Bhari, Kabupaten Kediri, Senin (17/8). Puluhan topeng berkarakter kuat itu tidak sekadar dipajang, tetapi menjadi penanda perjalanan panjang seni tradisi yang terus mencari napas di tengah perubahan zaman.

Sebanyak 57 barongan dari berbagai daerah hadir dalam Abirama 2 Kontes Barongan. Kegiatan tersebut mempertemukan seniman, perajin, kolektor, komunitas, pelajar, dan masyarakat untuk melihat lebih dekat bagaimana kesenian Topeng Barong berkembang dari masa ke masa.

Jejak tradisi yang diwariskan generasi terdahulu bertemu dengan gagasan-gagasan baru. Ukiran, bentuk, karakter, hingga ekspresi setiap barongan menjadi bagian dari cerita tentang perubahan seni kriya sekaligus upaya mempertahankan identitas budaya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Dr. Mokhamat Muhsin, serta Ketua Dewan Kebudayaan Kediri Imam Mubarok.

Mewakili Bupati Kediri, Mustika Prayitno Adi mengatakan Topeng Barong merupakan bagian dari kekayaan seni tradisi yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan filosofi dan sejarah.

Menurut dia, Topeng Barong juga menjadi bukti kreativitas para perajin, seniman, dan pelaku budaya yang terus menghidupkan kesenian tersebut.

Kegiatan seperti ini bukan sekadar kontes maupun pameran. Lebih dari itu, Abirama menjadi bagian dari upaya kita bersama untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup, berkembang, dan memiliki tempat di tengah perubahan zaman,” ujar Mustika.

“Rasa Rupa Topeng Barong Kediri”

Abirama 2 mengusung tema “Rasa Rupa Topeng Barong Kediri”. Tema tersebut menjadi ruang untuk menampilkan estetika sekaligus perkembangan seni kriya Topeng Barong yang tumbuh di tengah masyarakat.

Ketua Pelaksana Abirama 2, Prastyawan, mengatakan Topeng Barong memiliki posisi penting dalam kesenian di Kediri, khususnya dalam kesenian jaranan.

Menurutnya, “rasa rupa” tidak hanya berbicara mengenai bentuk fisik sebuah topeng. Di balik rupa tersebut terdapat ekspresi, gerak, dan dinamika yang menjadi bagian dari kehidupan tari Barong.

“Topeng Barong merupakan suatu elemen yang penting bagi kesenian di Kediri, terutama di jaranan. Rasa rupa Topeng Barong merupakan tema acara ini, representasi ekspresi hidup dan dinamika gerak dalam tari Barong,” kata Prastyawan.

Abirama 2 pun tidak berhenti pada upaya memperlihatkan keindahan barongan. Acara tersebut juga mencoba mengajak masyarakat membaca perjalanan kesenian itu melalui perubahan bentuk dan teknik ukir yang terjadi dari generasi ke generasi.

Melihat Perubahan Barongan dari Masa ke Masa

Prastyawan menjelaskan, salah satu konsep utama Abirama 2 adalah memperlihatkan perkembangan barongan dari masa lalu hingga masa kini.

Beragam barongan dari periode berbeda ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Perbedaan rupa itu menjadi semacam rekam jejak visual tentang bagaimana seni ukir dan karakter Barongan mengalami perubahan.

“Konsep acara di sini itu adalah mengusung atau mengembangkan barongan dari generasi ke generasi. Jadi, barongan dari masa lalu, dari zaman kolonial, sehingga perubahan atau inovasi ukir itu dapat dilihat oleh masyarakat,” ujarnya.

Dengan konsep tersebut, setiap barongan seakan memiliki cerita sendiri. Ada jejak masa lalu yang dipertahankan, namun di saat bersamaan muncul sentuhan baru yang menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu berhenti pada bentuk lama.

Perubahan itu justru menjadi bagian dari perjalanan sebuah kesenian untuk tetap dikenal dan diterima oleh generasi berikutnya.

Peserta Datang dari Berbagai Daerah

Abirama 2 juga menjadi titik temu bagi para pecinta barongan dari berbagai wilayah. Dari sekitar 57 barongan yang ditampilkan, peserta terjauh disebut berasal dari Bengkulu dan wilayah Sumatera.

Kehadiran peserta dari luar daerah menunjukkan bahwa Topeng Barong tidak hanya menjadi ruang ekspresi bagi pelaku seni di Kediri. Kesenian tersebut juga menarik perhatian kolektor dan pencinta tradisi dari berbagai daerah.

Di antara peserta itu terdapat Wira Jannata Nanda Imana, warga Semampir, Kota Kediri. Ia membawa dua barongan dalam Abirama 2.

Wira mengaku telah menjadi pecinta sekaligus kolektor barongan sejak 2018. Namun, keikutsertaannya dalam kontes masih terbilang terbatas karena Abirama 2 menjadi kontes kedua yang diikutinya.

Bagi Wira, mempertahankan barongan Kediren bukan berarti menutup pintu terhadap perkembangan zaman.

Ia justru ingin mempertahankan karakter klasik sekaligus memberi ruang bagi unsur modern agar kesenian tersebut tetap hidup.

Saya mempertahankan Barongan Kediren, tapi tidak meninggalkan unsur-unsur klasiknya, juga tidak meninggalkan unsur modern yang sekarang. Bagaimana agar Barongan ini bernapas dan hidup di dunia klasik dan modern,” ujar Wira.

Menjaga Tradisi Agar Tidak Berhenti sebagai Kenangan

Bagi Wira, keberlangsungan kesenian tradisional membutuhkan lebih dari sekadar pelestarian benda atau bentuk lama. Ruang untuk tampil, berkompetisi, berkreasi, dan memperkenalkan kesenian kepada generasi muda juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Ia berharap kegiatan seperti Abirama dapat membuat kesenian tradisional semakin dikenal masyarakat, terutama kalangan generasi muda.

Semakin banyak ruang pertunjukan dan kompetisi, menurutnya, semakin terbuka pula kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal Barongan secara lebih dekat. Dari pengenalan itulah, kecintaan terhadap kesenian tradisional dapat tumbuh.

Abirama 2 akhirnya bukan sekadar perjumpaan puluhan topeng barongan dalam satu gedung. Di balik bentuk, warna, ukiran, dan karakter yang berbeda, tersimpan upaya untuk mempertemukan dua dunia: warisan yang datang dari masa lalu dan kreativitas yang tumbuh pada masa kini.

Barongan yang dahulu hadir sebagai bagian dari tradisi kini mendapat ruang untuk dibaca kembali oleh generasi baru. Bentuknya boleh berubah, tekniknya dapat berkembang, tetapi ruh keseniannya diharapkan tetap menemukan jalan untuk bertahan.

Di tengah derasnya perubahan zaman, Abirama 2 menjadi salah satu ruang untuk mengingat bahwa tradisi tidak harus menjadi benda yang diam di masa lalu. Ia dapat terus bergerak, berubah, dan menemukan bentuk baru selama masih ada orang-orang yang bersedia merawatnya.

Jurnalis: Navima Aulya Sava