KEDIRI – Capaian membanggakan diraih dunia pendidikan di wilayah Kediri. Ratusan siswa tingkat SMA dan SMK berhasil menembus perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kediri, Adi Prayitno, menyebut peningkatan jumlah siswa yang diterima tahun ini menunjukkan tren positif. Sistem seleksi berbasis nilai rapor dan rekam jejak prestasi dinilai efektif mendorong kualitas akademik siswa.
“Dibanding tahun sebelumnya, terdapat kenaikan sekitar 150 siswa yang diterima melalui jalur SNBP,” ujar Adi.
Berdasarkan data yang dihimpun, dari jenjang SMA negeri dan swasta, sebanyak 1.060 siswa mengikuti pendaftaran SNBP. Dari jumlah tersebut, 933 siswa dinyatakan lolos seleksi.
Sementara itu, dari jenjang SMK negeri dan swasta yang tersebar di 77 sekolah di Kediri, tercatat 953 siswa mendaftar. Namun, hanya 399 siswa yang berhasil diterima di PTN.
Adi menjelaskan, SNBP merupakan jalur seleksi yang memberi peluang luas bagi siswa berprestasi akademik tanpa harus mengikuti ujian tulis. Proses seleksi dilakukan melalui tahapan registrasi hingga pengumuman hasil yang telah disampaikan pada 31 Maret 2026 pukul 15.00 WIB.
Meski demikian, ia mengingatkan siswa yang belum lolos agar tidak berkecil hati. Pasalnya, SNBP hanya menyediakan kuota sebesar 20 persen. Sementara itu, jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) memiliki kuota lebih besar, yakni 50 persen, serta jalur mandiri sebesar 30 persen.
“Masih ada kesempatan melalui jalur lain. Yang terpenting, siswa tetap semangat dan mempersiapkan diri dengan baik,” tegasnya.
Inovasi Program Pendidikan

Lebih lanjut, Adi menilai peningkatan jumlah siswa yang diterima di PTN tahun ini turut mencerminkan naiknya indeks prestasi pendidikan di wilayah Kediri. Untuk menjaga tren tersebut, pihaknya terus melakukan pembenahan, termasuk melalui inovasi program pendidikan dan penyegaran jajaran kepala sekolah.
Khusus bagi kepala sekolah yang baru dilantik, Adi memberikan waktu satu semester untuk menunjukkan kinerja optimal dalam meningkatkan kualitas pendidikan di masing-masing satuan pendidikan.
“Sebenarnya target awal 100 hari kerja, namun melihat kondisi saat ini kami beri waktu hingga satu semester agar lebih optimal,” pungkasnya.









