KEDIRI – Sabtu malam (08/11), langit Omah Sawah di Kelurahan Burengan seakan bergetar oleh lautan manusia. Ribuan pasang mata, dari pelosok Kediri hingga Surabaya, tumpah ruah menyaksikan dentum semangat dalam gelaran pencak dor — pertarungan tradisional khas Kota Tahu yang kini menjelma menjadi pesta budaya penuh makna, memperingati Hari Santri.
Bukan sekadar adu pukulan dan tendangan, pencak dor adalah cermin jiwa masyarakat Kediri: berani, sportif, dan teguh dalam kebersamaan. Dalam sambutannya, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menegaskan bahwa tradisi ini adalah warisan yang menumbuhkan karakter tangguh dan nilai luhur.
“Pencak dor bukan hanya pertarungan bebas. Ia adalah budaya asli Kediri yang menanamkan keberanian, kerja keras, sportivitas, dan kebersamaan,” ujar Vinanda di hadapan ribuan penonton yang memadati arena.
Lebih dari sekadar laga, keselamatan tetap menjadi prioritas. Setiap peserta telah dilindungi asuransi, memastikan semangat tanding berjalan beriringan dengan rasa aman.
“Kami ingin setiap peserta bertanding dengan kehormatan. Di atas ring mereka beradu, namun saat turun, mereka kembali bersatu dalam semangat gotong royong. Semoga pencak dor ini mempererat silaturahmi di antara kita,” tambahnya dengan nada penuh harap.
Di sisi lain, Ketua Panitia Kadiyat menuturkan bahwa tahun ini pencak dor melibatkan seluruh perguruan silat di Kediri. Mereka bukan hanya petarung, tapi juga penjaga harmoni — memastikan suasana tetap damai di tengah riuhnya laga.
“Pencak dor adalah napas budaya Kediri. Kalau tidak dijaga, bisa hilang ditelan zaman. Di atas ring kita lawan, di bawah kita kawan. Pendekar sejati bertarung dengan kehormatan, demi Kediri yang aman dan kondusif,” ujarnya tegas.
Pertandingan dibagi dua kategori: partai pemula dan partai inti. Malam itu, lima belas laga silih berganti menyalakan semangat hingga tengah malam. Di antara dentuman musik tradisional dan sorak penonton, para pendekar menari dalam irama keberanian — setiap gerak, setiap tendangan, seolah menyulam kisah lama yang tak lekang oleh waktu.
Meski pertarungan berlangsung sengit, suasana tetap tertib. Perguruan silat yang biasanya bersaing kini bergandeng tangan menjaga keamanan. Dari ring hingga tepi arena, yang terasa bukan hanya panasnya adu teknik, tapi juga hangatnya persaudaraan.
Gelaran pencak dor tahun ini menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah panggung bagi nilai-nilai luhur: keberanian yang tidak arogan, kemenangan yang tidak congkak, dan persaudaraan yang tidak lekang oleh batas perguruan.
Di bawah sinar lampu Omah Sawah, Kediri kembali menegaskan jati dirinya — kota budaya, kota para pendekar, tempat di mana tradisi tidak sekadar dikenang, tapi terus hidup di dada warganya.









