Penantian 34 Tahun Penuh Harap Guru TK di Kediri, Akhirnya Dikunjungi Wali Kota : “Ini Lentera Motivasi Kami”

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Tawa riang anak-anak menggema dari ruang kelas TK Dharma Wanita Tempurejo I, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Rabu (22/7). Di balik keceriaan itu, tersimpan kisah panjang tentang pengabdian, kesabaran, dan harapan yang akhirnya menemukan cahaya.

Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati hadir sebagai Bunda PAUD Kota Kediri melalui program Inspirasi Bunda PAUD Mengajar Sehari (IBU JARI). Kehadirannya bukan sekadar menyapa atau mengajar anak-anak, tetapi juga membawa kabar yang telah lama dinantikan para guru: revitalisasi gedung sekolah yang selama bertahun-tahun mengalami kerusakan berat.

Bagi Ani Wijiastuti, Kepala TK Dharma Wanita Tempurejo I, momen tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Setelah 34 tahun mengabdikan diri sebagai pendidik, untuk pertama kalinya ia menerima kunjungan langsung seorang wali kota ke sekolahnya.

“Ini menjadi lentera motivasi bagi kami untuk terus menyalakan semangat sebagai pendidik dalam mewujudkan masyarakat Kota Kediri yang mapan,” ujar Ani.

Dalam kegiatan itu, Vinanda mengajar sekaligus berinteraksi dengan anak-anak. Menurutnya, program IBU JARI dirancang untuk menghadirkan suasana belajar yang hangat dan menyenangkan sehingga anak-anak dapat menyerap nilai-nilai kebaikan sejak usia dini.

Ia menegaskan, pemenuhan hak anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Orang tua, guru, hingga masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak.

“Karena anak-anak ini adalah penerus bangsa, kita harus bergotong royong memenuhi hak-hak mereka,” kata Vinanda.

Ia juga mengingatkan bahwa guru PAUD memegang peran strategis dalam membangun fondasi karakter generasi masa depan. Dari ruang-ruang kelas sederhana itulah calon pemimpin bangsa mulai belajar mengenal nilai, disiplin, dan kepedulian.

Selain mengajar, Vinanda meninjau progres revitalisasi TK Dharma Wanita Tempurejo I. Ia meminta proses pembangunan mengutamakan kualitas agar sekolah benar-benar menjadi ruang belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Revitalisasi tersebut ditargetkan rampung pada awal Oktober mendatang.

Program IBU JARI sendiri tidak hanya dilaksanakan oleh Bunda PAUD Kota Kediri. Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Dinas Pendidikan Kota Kediri, Sulton Arfiansyah, menjelaskan bahwa inovasi tersebut juga dijalankan serentak oleh Bunda PAUD di tingkat kecamatan dan kelurahan selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Menurut Sulton, kehadiran Wali Kota di tengah anak-anak menjadi bukti nyata perhatian pemerintah terhadap pendidikan usia dini.

“Ini adalah bentuk dukungan yang luar biasa. Tentu hal ini akan dikenang oleh anak-anak sampai kapan pun,” ujarnya.

Sulton menjelaskan, TK Dharma Wanita Tempurejo I dipilih sebagai lokasi kegiatan karena tingkat kerusakan bangunannya telah melebihi 70 persen, sehingga masuk dalam prioritas revitalisasi yang diusulkan kepada pemerintah pusat.

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kediri belum mampu menangani seluruh sekolah yang mengalami kerusakan berat. Karena itu, Dinas Pendidikan mengusulkan revitalisasi 23 lembaga PAUD dan TK kepada pemerintah pusat. Hingga kini, tujuh sekolah telah direvitalisasi melalui bantuan pemerintah pusat, sedangkan empat sekolah lainnya diperbaiki menggunakan anggaran Pemerintah Kota Kediri.

“Kolaborasi pemerintah daerah dan pemerintah pusat harus terus disinergikan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu bagi semua,” kata Sulton.

Revitalisasi di TK Dharma Wanita Tempurejo I meliputi pembangunan ruang kelas, penataan lingkungan sekolah, serta ruang guru. Seluruh pekerjaan ditargetkan selesai dalam waktu 90 hari, sebelum musim hujan tiba.

Harapan baru itu lahir dari kondisi yang sebelumnya memprihatinkan. Ani menceritakan, atap sekolah kerap bocor saat hujan, plafon menggelembung, dan ruang kelas hanya dipisahkan sekat nonpermanen sehingga suara dari kelas sebelah saling bercampur dan mengganggu proses belajar mengajar.

“Sebelum direhabilitasi, kondisi atap gedung sudah rusak dan bocornya sangat parah. Kami selalu cemas terhadap keselamatan anak-anak,” tuturnya.

Bangunan yang dahulu merupakan bekas kantor kelurahan itu terakhir direhabilitasi sekitar 12 tahun silam. Selama ini, para guru berupaya menjaga kenyamanan sekolah secara swadaya, mulai menutup dinding yang mengelupas dengan wallpaper hingga bergotong royong memenuhi berbagai kebutuhan fasilitas belajar.

Kini, bersama proses revitalisasi yang terus berjalan, harapan itu perlahan menemukan bentuknya. Kelak, ketika ruang-ruang kelas baru dipenuhi kembali oleh tawa anak-anak, bukan hanya tembok yang berdiri lebih kokoh, tetapi juga mimpi para guru yang selama puluhan tahun setia menjaga nyala pendidikan di sudut Kota Kediri.

 

jurnalis : Anisa Fadila