Kontroversi Sapi Kurban Presiden: Pernah Kena PMK, Kenapa Tetap Dipilih?

KEDIRI — Bantuan sapi kurban dari Presiden Prabowo Subianto untuk Kabupaten Kediri menuai sorotan. Pasalnya, sapi berbobot sekitar 1,05 ton yang akan disalurkan ke salah satu masjid di wilayah Mojo, diketahui sempat memiliki riwayat terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik. Mengapa sapi dengan riwayat PMK tetap dipilih sebagai hewan kurban bantuan presiden? Apakah tidak ada alternatif sapi lain yang sejak awal benar-benar bebas dari riwayat penyakit? Pertanyaan ini menjadi penting, terlebih bantuan tersebut membawa nama kepala negara dan seharusnya melalui proses seleksi ketat.

Di sisi lain, kasus ini juga menjadi pengingat bahwa Pemerintah Kabupaten Kediri perlu lebih serius hadir dalam pengawasan wabah PMK. Tidak hanya saat sapi akan dikirim sebagai hewan kurban, tetapi juga dalam pendampingan rutin kepada para peternak yang selama ini menghadapi risiko besar akibat penyakit tersebut.

Sapi jenis Limosin Cross milik Kamalul Asfiyak itu disebut telah menjalani perawatan intensif lebih dari 14 hari di bawah pengawasan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan atau DKPP Kabupaten Kediri. Setelah melalui pemeriksaan, sapi tersebut dinyatakan sehat dan layak dijadikan hewan kurban.

Kamalul membenarkan bahwa PMK menjadi salah satu tantangan terberat bagi peternak sapi. Ia menyebut, tahun lalu hampir seluruh sapi di kandangnya sempat terserang penyakit tersebut.

“Kalau PMK memang paling berat. Perawatannya bisa sampai satu bulan. Makannya harus disuapi dan minumnya kadang dibantu,” ujarnya.

Menurut Kamalul, sapi yang kini dibeli sebagai hewan kurban bantuan presiden sempat dipisahkan di lokasi isolasi selama proses pemulihan. Ia mengaku bangga karena sapi hasil persilangan limosin dan simental tersebut akhirnya terpilih dan dibeli dengan harga sekitar Rp108 juta.

Sementara itu, Kabid Peternakan DKPP Kabupaten Kediri, Istar Abadi, memastikan sapi tersebut sudah dalam kondisi sehat dan tidak menunjukkan indikasi PMK. Pemeriksaan, kata dia, telah dilakukan sejak akhir April dan kembali dilakukan menjelang penyaluran ke lokasi penyembelihan.

“Dari pemeriksaan fisik maupun kesehatan, tidak ditemukan tanda-tanda PMK. Kondisinya sehat dan memenuhi syarat sebagai hewan kurban,” jelasnya.

Istar juga menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat empat calon sapi yang masuk proses seleksi. Namun, tiga sapi lainnya disebut telah lebih dulu terjual. Karena itu, sapi milik Kamalul menjadi satu-satunya yang kemudian diusulkan ke provinsi hingga Sekretariat Presiden.

“Sehingga tinggal sapinya Pak Kamalul ini yang kita usulkan ke provinsi maupun ke Sekretariat Presiden,” terangnya.

Meski pemerintah memastikan sapi tersebut sehat, riwayat PMK pada hewan kurban bantuan presiden tetap menjadi catatan serius. Transparansi proses seleksi, pemeriksaan kesehatan, hingga alasan pemilihan sapi perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

jurnalis : Wildan Wahid Hasyim