KEDIRI — Nuansa kebersamaan terasa kental dalam kegiatan halal bihalal yang digelar Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kediri, Jumat (27/3). Tak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Idulfitri, momentum ini juga diisi aksi sosial melalui pemberian santunan kepada ratusan warga dhuafa.
Sejak siang, lebih dari 200 warga tampak memadati lokasi acara. Mereka hadir dengan antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang dikemas sederhana, namun sarat nilai kepedulian. Kegiatan ini turut dihadiri jajaran internal dinas, perwakilan LSM, insan media, hingga keluarga besar Paguyuban Panji Laras.
Kepala Bidang Bina Marga PUPR Kabupaten Kediri, Hari Setiawan, menegaskan pentingnya menjaga tali persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat. Ia menyebut, halal bihalal bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan pengingat untuk terus merawat hubungan sosial.
“Silaturahmi tidak boleh berhenti di momen Lebaran saja. Ini harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Senada, perwakilan LSM Saroja, Supriyo, menekankan bahwa kebersamaan yang terjalin selama ini melampaui batas-batas sosial. Menurutnya, nilai persaudaraan menjadi fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat.
“Di sini tidak ada sekat. Kita semua seduluran selawase, tanpa memandang latar belakang,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak, seraya berharap kebersamaan serupa terus terjaga di masa mendatang.
Santunan dalam kegiatan ini diberikan kepada lebih dari 200 warga, dengan total penerima yang disiapkan mencapai sekitar 300 orang. Bantuan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian sosial sekaligus bentuk rasa syukur.
Salah satu perwakilan rekan kerja, Mahbubah, menyebut kegiatan berbagi ini bukan kali pertama dilakukan. Bahkan, dalam satu bulan, aksi serupa bisa digelar beberapa kali.
“Ini bagian dari komitmen berbagi kepada masyarakat. Harapannya bisa terus istiqomah, minimal rutin setiap bulan,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan sosial tersebut dapat terus berjalan, seiring dengan semangat berbagi yang konsisten.
Melalui halal bihalal ini, nilai kebersamaan dan empati sosial tidak hanya menjadi wacana, tetapi hadir nyata di tengah masyarakat. Tradisi yang kerap dipandang seremonial ini pun menjelma menjadi ruang mempererat hubungan antara pemerintah dan warga dalam suasana yang lebih humanis.



