KEDIRI – Era kebangkitan Persik Kediri tidak lepas dari tiga jurnalis di Kota Kediri. Sepakat berniat kembali mengharumkan nama sepak bola di pentas nasional. Lepas diketahui publik khususnya Persikmania, harus rela menggadaikan sertifikat tanah serta pinjam uang mertua kemudian lolos Liga 1.
Pun ketiganya, Subiantoro, Beni Kurniawan dan Hendra Setyawan cukup apik menjalin komunikasi dengan almarhum HA. Maschut dan mantan Manager Persik dan kini duduk sebagai Wakil Ketua Umum PSSI, Iwan Budianto. Kemudian Kamis kemarin didapat kabar bahwa saham Persik Kediri atas nama PT. Kediri Djajati Perkasa kini dimiliki oleh PT Astar Asia Global (AAG) sebagai pemilik saham mayoritas. Lalu masuk kantong siapa aliran dana segar dikabarkan mencapai Rp. 40 miliar ini?
Seiring ketiga orang berjasa bangkitnya tim berjuluk Macan Putih. Nama mereka pun dihapus dari kepemilikan saham dan entah apakah sudah mendapatkan ganti rugi. Yang tersisa nama Abdul Bagi Bafagih dan Abdul Hakim Bafaqih, merupakan bapak dan anak. Fery Boedianto dan Salim Affan Abdullah Bahanan dikabarkan menggantikan ketiga nama.
Lalu alasan apakah ketiganya keluar dari markas Persik Kediri? “Karena kami tidak ada kecocokan lagi. Saya sekarang telah memulai usaha baru berwiraswasta di Malang dan juga meninggalkan dunia jurnalis,” ucap Hendra Setyawan saat dikonfirmasi, Sabtu (26/02). Benarkah karena adanya orang ketiga yang masuk dan kemudian mendapatkan jabatan strategis?
Hendra juga dua nama lainnya enggan berkomentar. Karena sebenarnya bukan rahasia umum bahkan tim peserta liga lainnya sudah tahu jika ada masalah di internal Persik. Janji penguasa saham utama kemudian menunjuk Rawindra Ditya sebagai direktur utama. Dalam waktu dekat akan melakukan perombakan manajemen secara keseluruhan. Mulai dari struktur organisasi dan menyiapan SDM yang tepat.
Selain saham, sebenarnya aset Persik Kediri apa saja? “Tidak ada kecuali dasar pendirian PT. Kita tidak punya stadion, hanya sewa. Kemudian mess dan kantor di Jalan PK Bangsa serta dulu sempat berkantor di Jalan Diponegoro. Merupakan aset milik Pemerintah Kota Kediri. Bis kecil di-branding Persik dan kerap dipakai untuk latihan itu milik Pak Nur Khamid, Sekretaris Satpol PP. Tidak ada aset berupa fisik atau benda,” tegas mantan Ketua IJTI Kota Kediri.
Bagikan Berita :editor : Nanang Priyo Basuki









