foto : Anisa Fadila

Air Mata Perpisahan di Halaman SMAN 2 Kediri, Sarbawa Tinggalkan Jejak Inspirasi di Dunia Pendidikan

KEDIRI — Jalan hidup kerap menyimpan kejutan yang tak pernah dirancang. Itulah yang tergambar dari perjalanan Drs. H. Sarbawa, M.Pd., sosok yang mengawali langkah tanpa cita-cita menjadi guru, namun justru menutup pengabdian sebagai Kepala SMAN 2 Kota Kediri.

Dalam suasana haru perpisahan yang bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan, Senin (4/5), Sarbawa berpamitan. Lebih dari tiga dekade ia mengabdikan diri di dunia pendidikan—sebuah jalan yang dahulu bahkan tak pernah ia bayangkan.

Perjalanan itu bermula dari sebuah “ketidaksengajaan”. Saat diterima di jurusan pendidikan sejarah Universitas Jember melalui jalur undangan, ia mengira hanya akan menekuni ilmu sejarah, bukan menjadi pendidik. Namun waktu mengarahkan langkahnya, membentuk dedikasi yang kian menguat hingga 32 tahun lamanya.

“Prinsipnya, kami ini melayani masyarakat,” ujarnya, merendah.

Sejak dipercaya memimpin SMAN 2 Kota Kediri pada Februari 2023, menggantikan kepala sekolah sebelumnya yang memasuki masa purna tugas, Sarbawa menapaki masa kepemimpinan selama lebih dari tiga tahun. Ia menegaskan, capaian sekolah bukanlah hasil individu, melainkan kerja kolektif seluruh warga sekolah.

Memasuki masa purna tugas per 1 Mei 2024 di usia 60 tahun, ia memilih berhenti sejenak. Namun langkahnya tak benar-benar usai. Ia berencana kembali ke akar kehidupan yang lebih dulu ia kenal: pertanian.

“Rencana saya kembali ke basic, yaitu pertanian,” katanya.

Bidang itu bukan dunia asing baginya. Ia pernah akrab dengan palawija hingga tebu—sebuah latar yang membentuk ketangguhan hidupnya sejak awal.

Di balik itu, tersimpan pula mimpi masa muda yang berbeda. Ia pernah bercita-cita menjadi tentara, bahkan sempat mengikuti seleksi AKABRI dan wajib militer. Namun takdir berkata lain. Ia memilih melanjutkan pendidikan, sembari menyimpan harapan menjadi aparatur sipil negara. Doa itu terkabul—bukan sebagai prajurit, melainkan guru, profesi yang kemudian ia jalani dengan keikhlasan.

Selama memimpin, satu hal yang paling membekas baginya adalah kebersamaan. Sinergi antara guru, tenaga kependidikan, siswa, hingga orang tua menjadi fondasi kuat yang ia rasakan.

“Pengalaman paling berkesan adalah kepedulian orang tua yang sangat baik,” ungkapnya.

Belajar Berdoa dan Tidak Kehilangan Arah

foto : istimewa

Di penghujung masa tugas, emosi tak terbendung. Dunia pendidikan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Ia mengaku akan merindukan momen-momen sederhana—terutama ketika melihat anak didiknya tumbuh dan berhasil.

“Kebahagiaan terbesar adalah ketika bertemu alumni yang sudah berhasil,” tuturnya.

Sebuah harapan pun ia titipkan—sederhana namun penuh makna. Ia bermimpi suatu hari nanti ada alumni SMAN 2 Kediri yang mampu menjadi Presiden Republik Indonesia.

Prestasi sekolah turut menjadi catatan penting. Tahun ini, sekitar 48 siswa lolos melalui jalur SNBP, disusul sejumlah lainnya melalui SPAN PTKIN. Ia menilai, perkembangan pendidikan saat ini menunjukkan tren positif dengan dukungan pemerintah yang semakin kuat.

Menutup pesannya, Sarbawa mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus teknologi.

“Terus belajar dengan rajin, jangan lupa berdoa,” pesannya.

Kesan mendalam juga datang dari para siswa. Queensha Askanay dan Jocelyn Adimasto, siswi kelas XI, menilai Sarbawa sebagai sosok pemimpin yang tegas, bertanggung jawab, dan penuh perhatian—meski mereka belum pernah berinteraksi langsung.

Bagi mereka, pesan yang paling membekas adalah keberanian untuk bermimpi besar.

“Kita tidak boleh takut memiliki mimpi besar dan harus memperjuangkannya,” ujar keduanya.

Pada akhirnya, Sarbawa bukan sekadar kepala sekolah yang berpamitan. Ia adalah potret perjalanan hidup yang mengajarkan satu hal: bahwa jalan yang tak direncanakan pun bisa berujung pada pengabdian yang penuh arti.

jurnalis : Anisa Fadila