KEDIRI – Transformasi layanan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) melalui penerapan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) mulai menunjukkan hasil di Kelurahan Balowerti, Kota Kediri. Kehadiran remaja dan warga usia produktif di Posyandu ILP Dahlia meningkat signifikan, dari sebelumnya hanya 2 persen kini mencapai 30 persen.
Peningkatan partisipasi tersebut menjadi salah satu dampak perluasan fungsi posyandu yang kini tidak lagi terbatas pada pelayanan kesehatan ibu dan anak, melainkan menjangkau seluruh kelompok usia dalam siklus kehidupan masyarakat.
Kegiatan Posyandu ILP Dahlia berlangsung di RT 05 RW 02 Kelurahan Balowerti, Kamis (5/11). Program Posyandu 6 SPM yang telah berjalan sekitar dua bulan ini dikembangkan untuk mendekatkan berbagai layanan dasar kepada masyarakat melalui pelayanan terpadu di tingkat kelurahan.
Promosi Kesehatan (Promkes) UPT Puskesmas Balowerti, Retno Purnamaningdyah, menjelaskan bahwa penerapan Posyandu 6 SPM merupakan upaya memperluas manfaat posyandu. Tidak hanya berfokus pada sektor kesehatan, program tersebut juga mengintegrasikan pemenuhan enam bidang Standar Pelayanan Minimal.
Menurut Retno, Posyandu ILP Dahlia memiliki sasaran yang mencakup berbagai kelompok usia. Rinciannya terdiri atas 35 bayi dan balita, dua ibu hamil, 89 anak usia sekolah dan remaja, 345 warga usia produktif, serta 119 lansia.
Dengan cakupan tersebut, posyandu diharapkan menjadi pusat koordinasi sekaligus pemberdayaan masyarakat dalam mengakses pelayanan dasar sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usia.
Retno mengatakan, salah satu manfaat utama penerapan Posyandu 6 SPM adalah meningkatkan deteksi dini terhadap berbagai persoalan, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan. Selain itu, program ini diharapkan mampu mendorong pemerataan pelayanan dasar secara berkelanjutan.
“Mendeteksi dini masalah kesehatan dan pendidikan, serta mewujudkan pelayanan kesehatan dan lima SPM lainnya yang merata dan berkesinambungan,” ujarnya.
Wujud Sinergitas Tiga Pilar Kelurahan

Dalam pelaksanaannya, pelayanan Posyandu 6 SPM dilakukan melalui lima tahapan. Dimulai dari pendaftaran, pengukuran dan penimbangan, pencatatan dan floting, pelayanan kesehatan, hingga penyuluhan atau edukasi kesehatan.
Setelah melalui tahapan tersebut, masyarakat juga dapat terhubung dengan pelayanan pada lima bidang SPM lainnya. Pelaksanaan program turut melibatkan kader Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Keluarga Lansia (BKL) untuk memperkuat jangkauan pelayanan di lingkungan masyarakat.
Perubahan konsep ini sekaligus menggeser pandangan masyarakat bahwa posyandu hanya diperuntukkan bagi bayi, balita, dan ibu hamil. Kini, remaja, warga usia produktif, hingga lansia menjadi bagian dari kelompok sasaran yang mendapatkan perhatian.
Bahkan, warga usia produktif yang selama ini lebih banyak berperan sebagai pendamping balita maupun lansia juga didorong untuk memanfaatkan layanan posyandu bagi kebutuhan kesehatannya sendiri.
Dampak perluasan layanan tersebut mulai terlihat dari meningkatnya kehadiran kelompok remaja dan usia produktif. Retno menyebut, angka partisipasi kedua kelompok tersebut mengalami kenaikan bertahap sejak program Posyandu 6 SPM diterapkan.
“Kehadiran remaja dan usia produktif meningkat. Awalnya 2 persen dan sekarang sudah meningkat menjadi 30 persen,” ungkapnya.
Untuk memperluas jangkauan program, UPT Puskesmas Balowerti juga menggandeng tiga pilar kelurahan, tokoh masyarakat, serta para ketua RT dan RW. Pendekatan langsung atau jemput bola dilakukan guna mengajak warga yang belum aktif memanfaatkan pelayanan posyandu.
Sosialisasi program turut disisipkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari arisan, rembug kelurahan, hingga pertemuan PKK. Strategi ini dilakukan agar informasi mengenai layanan Posyandu 6 SPM semakin luas diketahui dan mendorong partisipasi warga.
Melalui pengembangan Posyandu 6 SPM, pelayanan dasar di Kelurahan Balowerti diharapkan semakin mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Peningkatan partisipasi warga juga menjadi langkah penting dalam memperkuat deteksi dini serta pemerataan pelayanan kesehatan dan bidang pelayanan dasar lainnya.
Jurnalis: Anisa Fadila



