Tabuhan Banjari Menggema di Masjid Agung Kota Kediri, Cara Remaja Menjaga Syiar dan Seni Religi

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Tabuhan terbang bersahut dengan dentuman bas. Di antara lantunan selawat yang mengalun, semangat para remaja masjid dan musala se-Kota Kediri terasa begitu hidup di Masjid Agung Kota Kediri, Rabu (9/9).

Suasana itu menjadi bagian dari Lomba Banjari dalam rangkaian Pekan Budaya Islam ke-5 tahun 2026. Bukan sekadar adu kemampuan bermusik religi, kegiatan tersebut menjadi panggung bagi generasi muda untuk menunjukkan bahwa masjid juga dapat menjadi ruang tumbuh, berkarya, dan berinteraksi.

Sekretaris Takmir Masjid Agung Kota Kediri, Basyarudin, mengatakan Pekan Budaya Islam tahun ini membawa konsep “dari remaja untuk remaja”. Konsep tersebut tidak hanya tercermin dari peserta lomba, tetapi juga dari pengelolaan kegiatan.

Sekitar 95 persen pelaksanaan kegiatan, kata dia, dilakukan oleh Remaja Masjid Agung Kota Kediri. Takmir tetap memberikan arahan dan pendampingan selama kegiatan berlangsung.

“Untuk memperkenalkan dan menumbuhkan generasi yang memiliki kegiatan di masjid, khususnya banjari,” ujar Basyarudin.

Menurutnya, keterlibatan remaja menjadi salah satu langkah untuk mendorong generasi muda semakin dekat dengan lingkungan masjid. Terlebih, belum semua masjid memiliki wadah kegiatan yang secara khusus dapat menampung minat dan kreativitas anak muda.

Karena itu, aktivitas yang dekat dengan dunia remaja dinilai penting. Masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat menjalankan ibadah, tetapi juga menghadirkan ruang bagi anak muda untuk mengembangkan kemampuan dan membangun kebersamaan.

Banjari menjadi salah satu pilihan yang ditonjolkan dalam Pekan Budaya Islam tahun ini.

Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada para remaja untuk tidak hanya berlatih seni hadroh dan banjari, tetapi juga tampil di hadapan publik. Mereka sekaligus dapat bertemu dengan kelompok-kelompok remaja dari masjid dan musala lain di Kota Kediri.

Basyarudin mengatakan kegiatan banjari sebenarnya telah tumbuh di sejumlah masjid dan musala. Namun, kemampuan yang telah diasah melalui latihan membutuhkan panggung agar dapat terus berkembang.

“Dengan adanya kegiatan Pekan Budaya, mereka bisa menyalurkannya,” katanya.

Sebanyak 18 grup remaja masjid dan musala se-Kota Kediri ambil bagian dalam Lomba Banjari tahun ini. Babak penyisihan digelar selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu, untuk menentukan tiga grup yang berhak melaju ke babak final pada malam puncak, Sabtu.

Selain tiga juara utama, panitia juga menyiapkan penghargaan bagi juara harapan 1, 2, dan 3.

Tiga juri bertugas menilai penampilan peserta dari sejumlah aspek, mulai dari vokal, kekompakan, irama, kreativitas atau tambahan dalam penampilan, hingga adab.

Setiap peserta diwajibkan membawakan lagu “Assalam”. Untuk lagu kedua, peserta diberi kebebasan memilih. Durasi penampilan dibatasi maksimal 10 menit.

Namun bagi Basyarudin, kemenangan bukan satu-satunya tujuan yang hendak dicapai.

Lebih jauh, lomba tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi pembinaan kegiatan kepemudaan di masjid dan musala. Dari sebuah panggung perlombaan, aktivitas yang telah tumbuh di kalangan remaja diharapkan dapat terus berlanjut.

Semangat itu salah satunya terlihat dari Kholil, anggota grup Royyatul Hubbi.

Kholil terbilang masih baru mengenal dunia banjari. Ia baru menekuni kegiatan tersebut selama kurang dari satu tahun. Namun, bersama sembilan anggota lainnya, ia mulai aktif mengikuti berbagai perlombaan.

Bagi Kholil, banjari bukan hanya tentang mengejar piala. Aktivitas tersebut menjadi salah satu cara untuk tetap terlibat dalam kegiatan di masjid.

“Alhamdulillah, saya suka banget menjadi remaja masjid dan ikut banjari untuk mencari syafaat Nabi,” tuturnya.

Dalam perlombaan kali ini, Royyatul Hubbi membawakan “Yaa Nabi Salam Alaika” dan “Sholatullah”.

Kholil mengambil posisi sebagai penabuh terbang. Sementara itu, grup tersebut diperkuat lima perempuan yang bertugas sebagai vokal dan lima laki-laki sebagai pemain alat musik.

Persiapan pun menjadi bagian penting sebelum tampil. Kholil mengakui, salah satu tantangan dalam perlombaan adalah sistem penilaian yang mencakup sejumlah aspek sekaligus.

“Kesulitannya, penilaiannya cukup rumit, meliputi vokal, adab, dan banjari itu sendiri,” ujarnya.

Meski demikian, kompetisi bukan satu-satunya hal yang dibawa pulang para peserta.

Di balik suara terbang, bas, dan lantunan selawat, mereka menemukan ruang untuk bertemu. Remaja dari berbagai masjid dan musala dapat saling mengenal, bertukar pengalaman, serta membangun jejaring kegiatan kepemudaan.

Pada akhirnya, panggung banjari di Masjid Agung Kota Kediri bukan semata tentang siapa yang menjadi juara.

Ada semangat yang lebih panjang di baliknya: menjaga seni religi tetap hidup di tengah generasi muda, sekaligus membuat masjid terasa semakin dekat dengan kehidupan mereka.

Dari lantunan selawat dan tabuhan banjari itulah, sebuah pesan sederhana bergema—bahwa ketika remaja diberi ruang, masjid dapat menjadi tempat mereka tumbuh, berkarya, dan menemukan jalan untuk terus berbuat baik.

Jurnalis: Anisa Fadila