KEDIRI – Pagi di halaman Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Kediri terasa berbeda, Jumat (21/8). Aroma soto berpadu dengan riuh warga yang datang untuk menikmati sarapan gratis sekaligus membawa pulang telur.
Melalui program “Golkar Peduli, Kabupaten Kediri Sehat”, warga mendapat satu mangkuk soto, minuman, es krim, serta telur secara cuma-cuma.
Antusiasme warga bahkan sempat membuat antrean tak terkendali. Sejumlah warga berebut telur sebelum panitia mengarahkan mereka kembali agar pembagian berlangsung tertib.
Ketua DPD Golkar Kabupaten Kediri M. Hadi Setiawan mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian kepada masyarakat, terutama di tengah keluhan mengenai tingginya harga telur.
Sebanyak dua kuintal telur disiapkan. Setiap warga menerima sekitar enam hingga tujuh butir, tanpa syarat khusus bagi penerima.
“Kami mengambil keberkahan di hari Jumat dengan berbagi nasi sarapan bareng di DPD Golkar Kabupaten Kediri. Nanti juga pulang mendapatkan bingkisan telur,” ujar Hadi.
Menurut Hadi, pembagian telur juga menjadi bentuk perhatian terhadap peternak ayam petelur. Ia menyebut tengah mendorong pembahasan rancangan peraturan daerah mengenai hilirisasi peternakan, termasuk persoalan yang dihadapi peternak unggas.
Kegiatan sosial itu turut melibatkan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) dan Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG). Ketua AMPG Kabupaten Kediri, Ngabdul Kharim, mengatakan bakti sosial tersebut merupakan bagian dari kegiatan rutin AMPG yang biasanya digelar bergilir di tengah masyarakat.
Bagi warga, bantuan sederhana itu terasa berarti.
Puji Lestari, warga Dlopo, datang setelah mendapat informasi dari seorang teman. Meski terlambat karena harus menjemput anaknya dari sekolah, ia tetap memperoleh enam butir telur.
Puji berharap perhatian terhadap masyarakat kurang mampu terus diberikan.
“Yang paling penting, jangan sampai lupa dengan masyarakat miskin dan tetap memperhatikan kebutuhan mereka,” katanya.
Di tengah harga kebutuhan pangan yang terus menjadi perhatian warga, telur, semangkuk soto, dan sarapan gratis itu menjadi bentuk kepedulian yang sederhana—namun terasa hangat bagi mereka yang menerimanya.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



