Menembus Ruang dan Waktu di Situs Ndalem Pojok Soekarno, Detik-Detik Proklamasi Dihidupkan Kembali

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Pagi 17 Agustus biasanya identik dengan upacara, pengibaran Merah Putih, dan deretan seremoni untuk mengenang kemerdekaan. Namun, suasana berbeda terasa di Ndalem Pojok Soekarno, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Senin (17/8).

Di tempat yang lekat dengan jejak masa kecil Soekarno itu, peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia tidak sekadar digelar sebagai upacara. Peserta, undangan, dan masyarakat umum diajak sejenak menembus batas waktu, seolah kembali ke sebuah pagi pada 17 Agustus 1945.

Nuansa masa perjuangan sengaja dihidupkan. Para peserta mengenakan beragam busana yang menggambarkan wajah masyarakat Indonesia pada masa itu. Ada pakaian adat Jawa, pakaian pejuang, sarung, hingga busana sederhana yang lekat dengan kehidupan rakyat pada masa perjuangan.

Dari cara berpakaian hingga rangkaian prosesi, suasana dibuat sedekat mungkin dengan gambaran detik-detik menjelang lahirnya sebuah negara merdeka.

Bukan hanya teks Proklamasi yang dibacakan. Sebelum momen sakral itu, peserta terlebih dahulu disuguhi monolog yang mengangkat peristiwa Rengasdengklok dan keteguhan Soekarno mempertahankan tanggal 17 Agustus sebagai momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Monolog kemudian mengalir menuju pengantar Proklamasi. Setelah suasana dibangun, teks Proklamasi pun dibacakan.

Ketua Harian Situs Ndalem Pojok Soekarno, Kushartono, mengatakan konsep semi teatrikal tersebut sengaja dirancang agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton sebuah seremoni, tetapi ikut merasakan atmosfer sejarah di balik lahirnya kemerdekaan.

“Kita ingin membawa suasana detik-detik itu hingga seolah-olah kita merasakan bagaimana pada pembacaan teks Proklamasi itu carut-marut antara senang, takut, dan gembira menjadi satu,” ujar Kushartono.

Menurut dia, pengantar sebelum pembacaan Proklamasi memiliki arti penting. Bagian tersebut menjadi jembatan bagi masyarakat untuk memahami peristiwa yang melatarbelakangi pembacaan teks Proklamasi, bukan sekadar mendengar dan menghafalkan kalimat-kalimat yang dibacakan setiap 17 Agustus.

Kushartono berharap pendekatan tersebut dapat membuat generasi muda semakin dekat dengan sejarah perjuangan bangsa.

“Harapan kami, generasi muda terus mengingat dan memahami sejarah perjuangan bangsa, karena dari sejarah itulah kita mengetahui jati diri dan arah perjalanan bangsa ke depan,” katanya.

Dari Upacara Seremonial Menjadi Pertunjukan Sejarah

Peringatan kemerdekaan dengan konsep tersebut bukan sesuatu yang baru di Ndalem Pojok. Kegiatan serupa pertama kali digelar pada 2013.

Pada awalnya, peringatan berlangsung dalam bentuk upacara seremonial. Konsep teatrikal kemudian mulai diterapkan pada 2018 sebagai upaya menghadirkan pengalaman sejarah yang lebih dekat dengan masyarakat.

Rangkaian kegiatan di Ndalem Pojok juga tidak berhenti pada 17 Agustus. Peringatan dilanjutkan pada 18 Agustus melalui upacara syukuran atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus momentum lahirnya konstitusi.

Menariknya, seluruh pemeran dalam konsep teatrikal tersebut berasal dari masyarakat umum.

Sejarah, dengan demikian, tidak hanya ditempatkan sebagai cerita yang tersimpan di buku atau museum. Ia dimainkan, dihayati, dan dihadirkan kembali di tengah masyarakat.

Ketika Soekarno Dihidupkan Kembali di Panggung Sejarah

Salah satu sosok yang tampil dalam teatrikal tersebut adalah sejarawan Hendro Widjonarko. Ia memerankan tokoh Soekarno sekaligus membawa pesan penting tentang bagaimana sejarah seharusnya dipahami generasi masa kini.

Menurut Hendro, teatrikal dapat menjadi salah satu cara untuk mendekatkan masyarakat dengan peristiwa sejarah.

Ia kembali mengingatkan pesan yang sangat lekat dengan Soekarno: “Jas Merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Pesan tersebut, menurutnya, tetap relevan agar kisah perjuangan bangsa tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Di Ndalem Pojok, dalam hal ini kami melakukan teatrikal agar mereka dapat menembus ruang dan waktu. Bahwa peristiwa Proklamasi itu bukan sekadar seremoni atau sambutan pada saat ini saja,” ujar Hendro.

Bagi Hendro, Proklamasi bukan sekadar peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Ia merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Karena itu, sejarah Proklamasi harus terus dikenalkan dan dipahami. Bukan hanya agar generasi muda mengetahui apa yang pernah terjadi, tetapi juga memahami mengapa kemerdekaan memiliki arti penting bagi perjalanan bangsa.

Hendro sendiri mengaku telah mengagumi sosok Soekarno sejak masih kecil. Ketika dipercaya memerankan sang Proklamator, ia berusaha tidak sekadar menyerupai tokohnya, tetapi juga menghayati pesan yang hendak disampaikan.

“Persiapan membacakan pidato dan Proklamasi saya dari hati nurani saya,” ujarnya.

Menjaga Ingatan di Tengah Perubahan Zaman

Pemilihan Ndalem Pojok sebagai lokasi peringatan juga memiliki alasan historis.

Situs tersebut berada di Desa Pojok, Kabupaten Kediri, dan dikenal berkaitan dengan masa kecil Soekarno. Tempat itu juga disebut menjadi bagian dari kisah perubahan nama Koesno menjadi Soekarno, yang berkaitan dengan upaya pemulihan kondisi kesehatannya.

Jejak sejarah tersebut membuat peringatan kemerdekaan di Ndalem Pojok memiliki atmosfer tersendiri.

Di sana, masa lalu tidak sekadar dikenang melalui bendera dan teks Proklamasi. Ia dihadirkan melalui pakaian, monolog, peran tokoh, dan suasana yang dibangun untuk membawa peserta membayangkan kembali sebuah masa ketika kemerdekaan belum menjadi kenyataan.

Ada ketegangan. Ada kecemasan. Ada harapan. Dan pada akhirnya, ada kegembiraan ketika kemerdekaan diproklamasikan.

Konsep semi teatrikal itu menjadi cara Ndalem Pojok merawat ingatan kolektif tentang perjuangan bangsa.

Sebab, 17 Agustus bukan hanya tanggal yang berulang setiap tahun. Di baliknya ada perjalanan panjang, perdebatan, keberanian, ketakutan, dan keputusan besar yang mengubah arah sejarah Indonesia.

Melalui teatrikal, Ndalem Pojok mencoba membuat sejarah kembali memiliki suara.

Bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk mengingatkan generasi hari ini bahwa kemerdekaan yang dirayakan dengan penuh sukacita memiliki sejarah panjang yang tidak boleh terputus dari ingatan.

Di tempat yang menyimpan jejak Soekarno itu, Proklamasi kembali dibacakan.

Dan untuk beberapa saat, batas antara masa lalu dan masa kini seolah menghilang.

Jurnalis: Navima Aulya Sava