KEDIRI – Di balik riuh suara kambing dan hijaunya lahan pertanian di sudut Kabupaten Kediri, tersimpan sebuah ikhtiar yang tumbuh dari kasih sayang. Bukan sekadar memberi tempat berteduh bagi anak-anak yatim, piatu, dan dhuafa, Yayasan Mutiara Gemilang memilih menanam benih kemandirian agar kelak mereka mampu berdiri tegak menghadapi kehidupan.
Perhatian terhadap kiprah lembaga sosial seperti ini juga menjadi bagian dari kepedulian Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, terhadap penguatan lembaga yang tidak hanya berfokus pada pengasuhan, tetapi juga membangun masa depan anak-anak melalui pemberdayaan ekonomi.
Berawal dari kegiatan santunan yang rutin dilakukan, lima aktivis sosial menyadari bahwa bantuan sesaat belum cukup menjawab persoalan masa depan anak-anak yatim. Dari kegelisahan itulah Yayasan Mutiara Gemilang resmi berdiri pada 8 Januari 2012 dengan misi menghadirkan pendampingan jangka panjang hingga anak-anak siap hidup mandiri.
“Kami mendirikan panti asuhan agar bisa mengasuh anak-anak yatim sejak awal hingga mereka berhasil,” ujar Pembina Yayasan Mutiara Gemilang, Supriadi, S.Ip., M.M., saat ditemui, Senin (6/7).
Kini, yayasan tersebut membina 54 anak yang tinggal di panti dan sekitar 180 anak asuh di luar panti yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya anak yatim piatu, yayasan juga membuka ruang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan tempat tinggal, pendidikan, serta pendampingan.
Bagi Supriadi, kebutuhan seorang anak tidak berhenti pada pemenuhan sandang dan pangan. Mereka juga membutuhkan kasih sayang, pendidikan, serta lingkungan yang mampu membentuk karakter.
Karena itu, pola pengasuhan yang diterapkan mengadopsi sistem semi pondok dengan pembiasaan salat berjamaah lima waktu, belajar Al-Qur’an, TPQ, hingga bimbingan belajar setiap hari. Sementara pendidikan formal ditempuh di sekolah umum dengan seluruh biaya ditanggung yayasan.
“Nilai utama yang kami tanamkan adalah akhlakul karimah. Kami ingin anak-anak memiliki unggah-ungguh dan sopan santun yang baik,” kata Supriadi.
Namun, pendidikan karakter bukan satu-satunya bekal yang diberikan. Yayasan juga membangun kemampuan hidup melalui Kampung Ternak yang dikembangkan sejak 2024 sebagai laboratorium pembelajaran pertanian dan peternakan.
Di sana, anak-anak dikenalkan pada berbagai aktivitas, mulai dari membersihkan kandang, menyiapkan media tanam, hingga merawat ternak. Meski demikian, Supriadi menegaskan seluruh kegiatan dilakukan dalam koridor edukasi, sementara pengelolaan usaha tetap berada di tangan tenaga profesional.
“Kami tidak pernah mengeksploitasi anak-anak. Keterlibatan mereka sifatnya edukasi,” tegasnya.
Saat ini Kampung Ternak memiliki sekitar 70 ekor kambing, lima hingga enam ekor sapi, serta kolam perikanan yang menjadi media belajar sekaligus sarana membangun tanggung jawab dan etos kerja sejak dini.
Langkah membangun kemandirian juga diwujudkan melalui berbagai unit usaha produktif. Yayasan mengembangkan peternakan, usaha parfum bermerek Arsy Wangi, hingga rumah makan dan meeting room yang diproyeksikan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan agar operasional panti tidak sepenuhnya bergantung pada donasi masyarakat.
Menariknya, anak-anak yang terlibat dalam kegiatan usaha juga memperoleh bagian keuntungan yang disimpan dalam Rekening Wali Yatim. Dana tersebut baru dapat dicairkan saat mereka berusia 18 tahun dan diprioritaskan untuk kebutuhan produktif seperti biaya kuliah atau pembelian laptop.
Selain berasal dari hasil usaha, rekening tersebut diperkuat melalui program orang tua asuh yang mempertemukan anak-anak berprestasi dengan para donatur agar pendidikan mereka dapat terus berlanjut hingga jenjang yang lebih tinggi.
Di luar aktivitas pengasuhan, Yayasan Mutiara Gemilang juga aktif menjalankan berbagai program sosial bagi masyarakat. Salah satunya Program Sampah Berkah yang hasilnya digunakan untuk memberangkatkan umrah para kiai kampung, serta Program Bedah Kamar Mandi yang telah membantu merenovasi sekitar 16 kamar mandi milik warga kurang mampu.
Meski terus mengembangkan sumber pendapatan mandiri, Supriadi mengakui tantangan pembiayaan masih menjadi pekerjaan besar. Bertambahnya jumlah anak asuh membuat kebutuhan operasional, sarana, dan pengembangan panti ikut meningkat.
Karena itu, masyarakat yang ingin berpartisipasi dipersilakan berkunjung langsung ke panti maupun menyalurkan bantuan melalui program Rekening Wali Yatim. Yayasan juga membuka kesempatan bagi calon donatur untuk melihat secara langsung berbagai program pemberdayaan yang dijalankan.
“Investasi yang diberikan akan terus mengalir manfaatnya kepada anak-anak sebagai amal jariyah,” pungkas Supriadi.
Saat ini Yayasan Mutiara Gemilang mengelola tiga panti asuhan, yakni di Jalan Raya Gampeng No. 48, Kecamatan Gampengrejo, Perumahan Arjuna Asri Blok B No. 11, Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren, serta Dusun Bogo, Desa Bogem, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri yang sekaligus menjadi kawasan Kampung Ternak sebagai pusat edukasi pertanian dan peternakan.
jurnalis : Anisa Fadila



