KEDIRI – Stigma mistis yang selama ini melekat pada tradisi Suran coba dipatahkan melalui gelaran Suran Agung Ing Ndalem Dewobroto di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Senin (29/6). Rangkaian kesenian jaranan, kirab gunungan sajodo, jamasan pusaka hingga sendratari dikemas sebagai media pemajuan kebudayaan yang mengedepankan nilai filosofis, edukatif, dan penghormatan kepada leluhur.
Memasuki penyelenggaraan ke-10, Suran Agung rutin digelar setiap malam bulan purnama pada tanggal 15 Suro. Momentum tersebut dipilih sebagai upaya menghidupkan tradisi sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Sadari, menilai rangkaian kegiatan tersebut telah mengimplementasikan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Menurutnya, Suran Agung memadukan unsur ritual, seni pertunjukan, budaya lisan, pengetahuan tradisional, hingga pelestarian benda budaya melalui prosesi jamasan pusaka sebagai bagian dari perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.
“Jangan sampai budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita hilang,” ujarnya.
Ia menegaskan, jamasan pusaka merupakan bentuk konservasi benda budaya, bukan ritual mistis, sedangkan kesenian jaranan menjadi representasi warisan budaya tak benda yang terus hidup di tengah masyarakat.
Semangat itu selaras dengan tujuan penyelenggaraan Suran Agung. Ketua Perkumpulan Budaya dan Seni Ndalem Dewobroto, KRA Bimo Dewobroto Hadiningrat, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai ikhtiar menjaga tradisi agar benang merah budaya Jawa tidak terputus dari para leluhur.
Nilai tersebut diwujudkan melalui kirab gunungan sajodo yang menghadirkan tumpeng lanang dan tumpeng wadon sebagai lambang keseimbangan, kesuburan, serta penghormatan kepada orang tua dan leluhur. Sementara itu, sekitar 250 pusaka milik keluarga, warga, dan pegiat budaya dijamas secara gratis sebagai sarana edukasi tentang makna pusaka.
Menurut Bimo, warangka dan wilah pada keris melambangkan sosok ibu dan bapak. Filosofi itu mengajarkan penghormatan kepada orang tua sehingga pusaka tidak semestinya dipandang sebagai benda mistis, melainkan simbol nilai kehidupan.
Berangkat dari pemaknaan tersebut, ia ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap tradisi Suran.
“Saya ingin menciptakan suasana Suro yang penuh suka cita dan kegembiraan. Karena obat yang paling mujarab adalah hati yang gembira,” tegasnya.
Bimo mengakui pelestarian budaya masih menghadapi tantangan karena belum menjadi kesadaran bersama. Karena itu, ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, mencintai dan bangga terhadap budaya Jawa serta ikut melestarikannya.
“Jangan sampai benang merah warisan budaya leluhur ini terputus,” pungkasnya.



